BERITAPRESS.ID |Belakangan ini, isu degradasi lahan dan kekeringan semakin sering menjadi perhatian, seiring dampaknya yang mulai terasa di berbagai daerah bukan lagi hanya istilah teknis dilaporan rapat atau seminar, namun sudah mulai muncul dalam keseharian, dari lahan yang makin kurang subur, air yang tidak stabil, hingga perubahan musim yang terasa tidak seperti dulu lagi.
Tanah yang selama ini kita anggap biasa saja, ternyata sedang menghadapi tekanan yang tidak kecil. Alih fungsi lahan, berkurangnya tutupan hutan, dan pola pemanfaatan ruang yang kurang seimbang pelan-pelan meninggalkan jejak yang tidak langsung terlihat, tapi dampaknya nyata.
Dalam konteks global, persoalan ini juga menjadi perhatian negara-negara yang terikat dalam Konvensi Rio, terutama karena berkaitan erat dengan perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Indonesia sendiri berada dalam posisi penting, karena sektor kehutanan dan penggunaan lahan punya peran besar dalam emisi sekaligus penyerap karbon.
Melalui target FOLU Net Sink 2030, Indonesia berupaya memastikan sektor kehutanan dan lahan justru menjadi penyerap emisi yang lebih besar dibandingkan emisi yang dihasilkan. Target ini bukan sekadar angka di atas kertas, tetapi membutuhkan kerja nyata di lapangan terutama dalam rehabilitasi lahan kritis dan pemulihan ekosistem yang sudah terdegradasi.
Untuk itu dimomen Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia tahun ini mengangkat tema “Rangeland: Recognize, Respect, Restore”. Tema ini menyoroti pentingnya lahan penggembalaan atau rangeland, yang sering kali kurang diperhatikan, padahal punya peran besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem, ketersediaan air, hingga ketahanan pangan.
Lebih dari itu, rangeland juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat peternak, penggembala, dan komunitas adat yang sudah lama hidup berdampingan dengan alam. Karena itu, pendekatan yang digunakan tidak bisa hanya berbasis teknis, tetapi juga harus menghargai aspek sosial dan budaya.
Dalam rilis nya dilaman resmi kehutanan, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan menegaskan tiga pendekatan utama dalam penanganan isu ini mengenali, menghormati, dan memulihkan. Artinya, langkah awal adalah memahami kondisi lahan secara lebih detail, kemudian menghargai peran masyarakat lokal, dan akhirnya melakukan pemulihan ekosistem secara berkelanjutan.
Dalam praktiknya, pendekatan seperti agroforestri dan silvopasture menjadi salah satu solusi yang mulai banyak diterapkan. Konsep ini tidak memisahkan manusia dari alam, tetapi justru mengintegrasikan aktivitas ekonomi masyarakat dengan upaya pemulihan lingkungan.
Disamping itu, penanganan degradasi lahan dan kekeringan juga tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah sebab dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak mulai dari akademisi, dunia usaha, masyarakat, LSM, hingga media untuk memastikan pengelolaan lingkungan berjalan di tingkat tapak dan tidak berhenti di kebijakan.
Rangkaian peringatan tahun ini juga diisi dengan berbagai kegiatan seperti kampanye publik, lomba foto lingkungan, hingga talkshow yang melibatkan pelaku lapangan. Tujuannya sederhana memperluas kesadaran bahwa isu ini bukan hanya urusan satu sektor, tetapi urusan bersama.
Oleh karena itu degradasi lahan dan kekeringan bukan hanya soal lingkungan, tetapi soal keberlanjutan hidup, karena ketika tanah kehilangan kemampuannya untuk pulih, yang terdampak bukan hanya alam, tetapi juga manusia yang menggantungkan hidup di atasnya.
Selamat memperingati Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia. Mungkin ini saat yang tepat untuk tidak hanya melihat tanah sebagai ruang hidup, tapi juga sebagai sesuatu yang perlu dijaga, dipulihkan, dan dihormati bersama. (***)

























