Bisnis

Kemenperin Antisipasi Lonjakan Sampah Kemasan Susu dari Program MBG

×

Kemenperin Antisipasi Lonjakan Sampah Kemasan Susu dari Program MBG

Sebarkan artikel ini
foto : kemenperin.go.id

BERITAPRESS.ID,JAKARTA | Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai mengantisipasi potensi lonjakan sampah kemasan susu MBG seiring meningkatnya konsumsi susu melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah menilai pertumbuhan industri susu nasional harus berjalan seiring dengan pengelolaan limbah kemasan yang berkelanjutan agar manfaat ekonomi dan pemenuhan gizi masyarakat tidak menimbulkan beban lingkungan di masa depan.

Sebagai langkah konkret, PT Lami Packaging Indonesia bersama PT Frisian Flag Indonesia meluncurkan Program Used Beverage Carton (UBC) Collection di Kabupaten Serang, Banten. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan pengumpulan dan pemanfaatan kembali kemasan karton pascakonsumsi sebagai bagian dari penerapan ekonomi sirkular di sektor industri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pengembangan industri susu nasional tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas produksi dan pemenuhan kebutuhan bahan baku, tetapi juga harus memperhatikan pengelolaan dampak lingkungan yang ditimbulkan.

“Program UBC Collection ini merupakan contoh konkret dari penerapan ekonomi sirkular dan Extended Producer Responsibility (EPR). Di sini, produsen tidak hanya mengambil peran dalam menyuplai produk berkualitas bagi masyarakat, melainkan juga ikut bertanggung jawab mengelola kemasan pascakonsumsinya agar masuk kembali ke dalam rantai nilai industri,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (13/6).

Menurut Agus, Program MBG berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan baru bagi industri makanan dan minuman, khususnya sektor pengolahan susu. Meningkatnya permintaan produk susu diperkirakan akan mendorong investasi baru, meningkatkan utilisasi kapasitas produksi, serta memperkuat industri pendukung dari hulu hingga hilir, termasuk industri kemasan.

Namun demikian, ia mengingatkan peningkatan konsumsi susu juga perlu diimbangi dengan sistem pengelolaan limbah kemasan yang efektif dan terintegrasi.

“Kita harus memastikan bahwa multiplier effect dari Program MBG ini tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan melalui konsep zero waste,” ujarnya.

Untuk mendukung tujuan tersebut, Kemenperin mendorong sinergi multipihak antara industri pengolahan susu, industri kemasan, pemerintah daerah, institusi pendidikan, dan komunitas pengelola sampah guna membangun ekosistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Sebagai tahap awal, Program UBC Collection melibatkan sejumlah sekolah di Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang. Para siswa diberikan edukasi mengenai pentingnya memilah dan mengumpulkan kemasan karton bekas agar dapat didaur ulang dan dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku industri.

Langkah ini dinilai tidak hanya membentuk kesadaran lingkungan sejak usia dini, tetapi juga membantu menjaga ketersediaan bahan baku daur ulang atau secondary raw materials bagi industri dalam negeri.

Pada kesempatan terpisah, Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengapresiasi investasi PT Lami Packaging Indonesia sebagai produsen kemasan aseptik lokal pertama di Indonesia.

Menurutnya, kehadiran produsen kemasan domestik akan memperkuat rantai pasok industri makanan dan minuman nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri pengolahan susu.

“Kehadiran produsen kemasan domestik seperti PT Lami Packaging tidak hanya memperkuat rantai pasok industri makanan dan minuman nasional, tetapi juga meningkatkan daya saing sektor pengolahan susu dan mempercepat kemandirian industri nasional dari ketergantungan impor,” ujar Putu.

Kemenperin menegaskan akan terus mengawal implementasi prinsip Industri Hijau di sektor manufaktur. Melalui kolaborasi lintas sektor dan penguatan ekonomi sirkular, pemerintah optimistis target pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pengurangan emisi karbon, serta visi Indonesia Emas 2045 dapat tercapai secara berkelanjutan. (***)/one