Pendidikan

Lima Tahun Bebas Bullying, SMAN 16 Palembang Jadi Contoh Sekolah Ramah Siswa

×

Lima Tahun Bebas Bullying, SMAN 16 Palembang Jadi Contoh Sekolah Ramah Siswa

Sebarkan artikel ini

BERITAPRESS.ID, PALEMBANG – SMA Negeri 16 Palembang sukses mempertahankan predikat sebagai sekolah bebas perundungan (bullying) selama hampir lima tahun terakhir. Capaian tersebut merupakan hasil dari komitmen sekolah dalam menerapkan pengawasan berlapis serta pendekatan edukatif yang berkelanjutan kepada para siswa.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 16 Palembang, Rusdi, SH, MSi, menegaskan bahwa pencegahan bullying telah menjadi program prioritas sejak awal siswa masuk sekolah.

“Sejak masa pengenalan siswa baru, kami sudah memberikan pembekalan dengan menghadirkan pemateri dari Polsek dan Koramil. Edukasi ini tidak berhenti di situ, setiap enam hingga delapan bulan kami rutin mengundang pihak luar untuk kembali memberikan pengarahan,” ujarnya, Rabu (21/1/2026).

Selain edukasi formal, pihak sekolah juga mengoptimalkan peran Guru Bimbingan dan Konseling (BK) serta Majelis Perwakilan Kelas (MPK) sebagai sistem deteksi dini. Guru BK dijadwalkan masuk ke kelas setiap minggu untuk berdialog langsung dengan siswa.

Tak hanya itu, pihak kesiswaan secara rutin memanggil perwakilan kelas setiap satu hingga dua bulan untuk menggali informasi terkait dinamika dan potensi permasalahan di dalam kelas.

“MPK berperan sangat vital sebagai jembatan informasi. Mereka memantau kondisi teman-temannya dan segera melapor ke kesiswaan jika ada potensi gesekan, sehingga bisa ditangani sejak dini sebelum berkembang menjadi masalah besar,” jelas Rusdi.

Dalam penerapan kedisiplinan, SMAN 16 Palembang lebih mengedepankan pendekatan humanis dibandingkan hukuman fisik. Guru BK SMAN 16 Palembang, Dwi Putri, mengungkapkan bahwa pelanggaran yang paling sering ditemui justru bukan perundungan, melainkan keterlambatan siswa.

“Sejauh ini tidak ada kasus bullying yang kami tangani. Pelanggaran yang sering terjadi hanya keterlambatan. Sanksinya bersifat edukatif, seperti membersihkan lingkungan sekolah. Jika sudah tiga kali terlambat, barulah orang tua dipanggil untuk dicarikan solusi bersama,” katanya.

Menurut Dwi, dari proses pemanggilan tersebut, sekolah kerap menemukan alasan-alasan humanis di balik pelanggaran siswa.

“Pernah ada siswa yang terlambat karena harus membantu orang tuanya terlebih dahulu ke Pasar Palimo. Di sini peran kami bukan sekadar menghukum, tetapi memahami kondisi siswa,” tambahnya.

Inklusif dan Tanpa Diskriminasi

Lingkungan sekolah yang kondusif juga tercermin dari perlakuan terhadap siswa disabilitas. Rusdi menegaskan tidak ada diskriminasi maupun ejekan terhadap siswa berkebutuhan khusus di lingkungan SMAN 16 Palembang.

“Justru siswa disabilitas mendapatkan perhatian dan dukungan dari teman-temannya. Mereka saling menjaga, bukan membully,” pungkasnya.

Selain itu, lokasi sekolah yang relatif jauh dari pusat kota serta kedekatan domisili siswa dengan para guru dinilai turut mempermudah pengawasan, sehingga potensi konflik, baik di dalam maupun di luar sekolah, dapat diminimalisasi secara efektif.

Laporan : Adi)