BERITAPRESS.ID, LAHAT | Dalam upaya mengurangi polusi udara yang saat ini semakin buruk, kabut asap ada dimana-mana, yang disebabkan oleh Kebakaran hutan dan lahan, untuk itulah Pemerintah Kabupaten Lahat dalam hal ini BPBD ( badan penanggulan bencana daerah) bergandengan tangan bersama Penyuluh Mabes dan Siswa Sesko TNI menggelar Rakor ( rapat koordinasi).
Kegiatan ini dihadiri Brigjen TNI Dr. Bayu Aji Widodo, S.H., M.I.P. diwakili Kol CPM Faisal Lubis, Dandim 0405 Lahat Letkol Inf. David Jihandika Hendri Wijayanto, S.H., M.Sos, Kapolres AKBP Novi Edyanto,Sik, ST, SIK, Danyon TP 894 Letkol Irpan Adi Wibowo, Forkompinda Kabupaten Lahat, Kabag, Kaban, Kabid, Para Camat, Para Kapolsek, Para Danramil, Ketua Forum Kades Se- Kabupaten Lahat , Perwakilan Perusahaan, Perwakilan Manggala Apni, beserta undangan lainnya.
Adapun Tujuan dari Rakor ini adalah menyatukan komitmen dan langkah seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat pencegahan, deteksi dini, kesiapsiagaan, pemadaman, penegakan hukum, serta mitigasi dampak kebakaran hutan dan lahan secara terpadu, cepat, dan efektif di Kabupaten Lahat.
Widia Ningsih, SH, MH selaku Wakil Bupati Lahat menyampaikan bahwa pemerintah daerah terus mengantisipasi dan mencari solusi terkait penanganan hotspot dan potensi kebakaran lahan.
Berdasarkan data BPBD, Kabupaten Lahat memiliki lahan gambut yang relatif sedikit dan didominasi lahan mineral, termasuk wilayah pertambangan batu bara. Pada Juli–Agustus 2026 tercatat 60 kejadian, dengan 26 kejadian di Kecamatan Lahat, 8 di Kikim, 6 di Tanjung Sakti, dan 1 di Tanjung Tebat.
Wabup juga meminta perusahaan batu bara meningkatkan pengawasan di area stockpile, karena sejumlah hotspot yang terdeteksi diduga berasal dari bara batu bara, bukan kebakaran lahan. Perusahaan diminta melakukan antisipasi sejak dini, termasuk menyiapkan alat berat dan langkah penanganan agar hotspot tidak berkembang menjadi kebakaran.
Dari Januari hingga Agustus 2026, Kabupaten Lahat tercatat memiliki 621 titik hotspot, termasuk yang tertinggi di Sumatera Selatan. Selain itu, kualitas udara Lahat berada pada kategori tidak sehat dengan indeks partikel sekitar 102. Kondisi ini tidak hanya dipengaruhi kebakaran lahan, tetapi juga aktivitas pertambangan.
Wabup juga mengingatkan adanya potensi fenomena El Nino yang menyebabkan kemarau panjang dan kekeringan. Kondisi tersebut terlihat dari menurunnya debit Sungai Lematang dan mulai terbatasnya sumber air masyarakat.
Berdasarkan informasi BMKG, hujan diperkirakan mulai terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Selatan pada September sampai Oktober, meski di Lahat intensitasnya masih relatif kecil dan berlangsung singkat. Pemerintah berharap hujan turun lebih lama sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat dan mengatasi kekeringan.
Selaras dikatakan Kolonel CPM Muhammad Faisal dari Tim Karhutla Mabes TNI mengatakan bahwa , sebanyak 10 personel diterjunkan ke Kabupaten Lahat untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Dari jumlah tersebut, tujuh personel berasal dari Jakarta, sedangkan tiga personel lainnya merupakan personel Kodim 0405/Lahat.
Menurut Faisal, kehadiran Tim Karhutla Mabes TNI tidak hanya untuk memperkuat koordinasi di lapangan, tetapi juga memberikan pemahaman kepada unsur terkait mengenai mekanisme pencegahan hingga penanganan Karhutla.
“TNI akan bersinergi dengan unsur kewilayahan, khususnya Kodim, serta seluruh pihak terkait guna memperkuat koordinasi dalam deteksi dini, pencegahan, dan penanggulangan Karhutla di wilayah Kabupaten Lahat,” tandas Faisal.
Laporan : Andes






























