BERITAPRESS.ID, PALEMBANG | Sekretaris BAPPILU DPW Partai NasDem Sumatera Selatan, Bambang Irawan, SH., MH., merespons pernyataan mengenai kabut asap di Jambi yang dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Sumatera Selatan.
Bambang meminta persoalan tersebut dibicarakan berdasarkan data hotspot, lokasi kebakaran, arah angin, citra satelit, serta hasil analisis instansi teknis.
“Kalau memang ada asap yang bergerak dari Sumsel ke Jambi, mari kita bicarakan berdasarkan data. Tetapi jangan membangun kesan bahwa seluruh persoalan asap di Jambi semata-mata berasal dari Sumsel. Buka data, lihat fakta, jangan asal menuduh,” jelas Bambang, mantan Ketum Badko HMI Sumbagsel.
Bambang menuturkan, berdasarkan data BMKG Jambi, sebaran asap yang menyelimuti wilayah Jambi berasal dari sejumlah wilayah di Jambi maupun Sumatera Selatan yang terbawa oleh pergerakan angin.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kabut asap dan karhutla memiliki dimensi lintas wilayah sehingga perlu disikapi secara objektif dan berdasarkan data.
Bambang juga meminta publik melihat langkah konkret yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama pemerintah pusat dan Satgas Karhutla dalam menangani kebakaran hutan dan lahan.
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan per 14 September 2026, terdapat sekitar 404,22 hektare estimasi area terbakar. Dari luasan tersebut, sebanyak 319,97 hektare telah berhasil dipadamkan, terdiri dari 289,97 hektare melalui Satgas Darat dan 30 hektare melalui operasi udara atau water bombing.
Selain itu, Pemprov Sumsel memprioritaskan 12 daerah rawan karhutla dan menyiagakan 11.567 personel gabungan untuk melakukan pencegahan serta penanganan di lapangan.
“Upaya yang dilakukan mencakup patroli, pemadaman darat, water bombing, pembasahan lahan, pencegahan, serta koordinasi lintas sektor,” jelas Bambang.
Pada 18 September 2026, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru bersama Menko Polkam, Menteri Kehutanan dan Kepala BNPB juga meninjau langsung Posko Satgas Karhutla di Kertapati. Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan personel, peralatan, serta operasi penanganan karhutla di lapangan.
“Jadi jangan hanya melihat asapnya, tetapi lihat juga apa yang sedang dikerjakan. Sumsel tidak tinggal diam. Penanganan terus dilakukan bersama pemerintah pusat, TNI, Polri, BPBD dan seluruh unsur terkait,” ungkapnya.
Bambang menegaskan, Sumatera Selatan dan Jambi merupakan wilayah bertetangga sehingga penanganan karhutla seharusnya diperkuat melalui koordinasi lintas provinsi, bukan justru menjadi polemik antardaerah.
“Asap tidak mengenal batas administrasi. Kalau ada api di Sumsel, kita padamkan. Kalau ada api di Jambi, kita padamkan. Kalau asap bergerak lintas wilayah, kita hadapi bersama. Yang penting masyarakat terlindungi dan karhutla dihentikan,” tutup Bambang.
Ia kembali menegaskan bahwa setiap pernyataan mengenai asal-usul asap harus disampaikan berdasarkan data dan bukti ilmiah.
“Kalau memang ada asap dari wilayah Sumsel yang bergerak ke Jambi, sampaikan berdasarkan data dan bukti ilmiah. Tetapi jangan membuat kesan seolah-olah seluruh persoalan asap di Jambi adalah akibat Sumsel. Data yang ada justru menunjukkan sumber karhutla terdapat di kedua wilayah,” tegas Bambang Irawan.
Pernyataan tersebut, menurut Bambang, sejalan dengan informasi BMKG Jambi yang menyampaikan bahwa kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi merupakan dampak karhutla di sejumlah wilayah Jambi maupun Sumatera Selatan, dengan asap terbawa oleh pergerakan angin.
Sejumlah wilayah yang disebut antara lain Tanjung Jabung Timur dan Muaro Jambi di Provinsi Jambi. (Ril)































