BERITAPRESS.ID, PALEMBANG | Cegah kekerasan seksual anak menjadi perhatian serius berbagai pihak di Kota Palembang. Ancaman yang bisa terjadi di lingkungan sekitar maupun ruang digital tersebut dinilai harus dicegah sejak dini melalui peran aktif keluarga. Karena itu, Tim Penggerak (TP) PKK Kota Palembang mengajak para orang tua memperkuat komunikasi, edukasi, dan pengawasan sebagai langkah utama untuk cegah kekerasan seksual anak.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Sosialisasi Gerakan Keluarga Indonesia Lindungi Anak dari Kekerasan Seksual (KILAS) yang digelar TP PKK Kota Palembang melalui Pokja I bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Palembang.
Ketua TP PKK Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, mengatakan kekerasan seksual terhadap anak bukan sekadar persoalan hukum. Dampaknya dapat memengaruhi kondisi psikologis, rasa percaya diri, hingga masa depan korban jika tidak mendapatkan perlindungan dan pendampingan yang tepat.
Menurutnya, keluarga merupakan benteng pertama yang memiliki peran paling penting dalam melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan.
3 Langkah Cegah Kekerasan Seksual Anak di Lingkungan Keluarga
Dewi mengungkapkan ada tiga langkah mendasar yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu cegah kekerasan seksual anak sejak dini.
Langkah pertama adalah membangun komunikasi yang terbuka dengan anak. Komunikasi yang baik akan membuat anak merasa aman untuk menyampaikan apa yang dialaminya tanpa rasa takut atau malu.
Banyak kasus kekerasan seksual terlambat terungkap karena korban memilih diam. Tidak sedikit anak yang takut bercerita karena khawatir tidak dipercaya atau justru dimarahi oleh orang tua. Karena itu, keluarga harus menjadi tempat paling nyaman bagi anak untuk berbagi cerita.
Langkah kedua adalah memberikan edukasi perlindungan diri sesuai usia anak. Orang tua perlu mengenalkan batasan tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain serta mengajarkan anak untuk berani mengatakan tidak ketika merasa tidak nyaman.
Edukasi semacam ini bukan untuk membuat anak takut terhadap lingkungan sekitar, melainkan membekali mereka dengan pengetahuan agar mampu mengenali situasi berbahaya dan mencari bantuan ketika dibutuhkan.
Langkah ketiga adalah meningkatkan kepekaan terhadap perubahan perilaku anak. Orang tua perlu memperhatikan apabila anak mendadak menjadi pendiam, mudah marah, sering merasa takut, atau menunjukkan perubahan sikap yang tidak biasa.
Perubahan tersebut memang tidak selalu berkaitan dengan tindak kekerasan seksual. Namun, kewaspadaan orang tua dapat membantu mendeteksi lebih awal berbagai persoalan yang sedang dihadapi anak.
Mengapa Cegah Kekerasan Seksual Anak Harus Dimulai dari Rumah?
Menurut Dewi, upaya cegah kekerasan seksual anak tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah maupun aparat penegak hukum. Pencegahan harus dimulai dari rumah karena keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk karakter dan rasa aman anak.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang hangat cenderung lebih terbuka ketika menghadapi masalah. Sebaliknya, anak yang merasa tidak mendapatkan perhatian sering kali memilih memendam persoalan yang dialaminya.
Karena itu, orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi anak. Kehadiran, perhatian, dan komunikasi yang berkualitas juga menjadi bagian penting dalam membangun perlindungan terhadap anak.
Peran Orang Tua untuk Cegah Kekerasan Seksual Anak di Era Digital
Perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru dalam perlindungan anak. Jika dahulu ancaman lebih banyak datang dari lingkungan fisik, kini berbagai risiko juga dapat muncul melalui internet dan media sosial.
Dewi mengingatkan bahwa orang tua perlu memahami aktivitas digital anak. Pengawasan terhadap penggunaan gawai, media sosial, hingga pergaulan di dunia maya menjadi bagian penting dalam upaya cegah kekerasan seksual anak.
Menurutnya, ancaman tidak hanya datang dari orang yang dikenal secara langsung, tetapi juga dapat muncul melalui ruang digital yang sulit terpantau apabila orang tua kurang terlibat dalam aktivitas anak.
Dalam kesempatan itu, Dewi juga menegaskan pentingnya peran kader PKK dan Kelompok Dasa Wisma sebagai ujung tombak edukasi di masyarakat. Mereka diharapkan mampu menyebarkan pemahaman kepada para orang tua mengenai pentingnya perlindungan anak dan pencegahan kekerasan seksual.
Selain pencegahan, masyarakat juga diingatkan untuk menghentikan stigma terhadap korban kekerasan seksual. Korban membutuhkan dukungan dan pendampingan agar dapat pulih, bukan penghakiman yang justru memperburuk kondisi psikologis mereka.
Ia juga mengajak masyarakat untuk berani melaporkan setiap dugaan tindak kekerasan seksual kepada pihak berwenang agar dapat segera ditindaklanjuti sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Melalui Gerakan KILAS, TP PKK Kota Palembang berharap semakin banyak keluarga yang sadar bahwa perlindungan anak harus dimulai dari lingkungan terdekat. Ketika orang tua hadir sebagai pendengar, pendidik, sekaligus pelindung, maka ruang bagi pelaku kekerasan akan semakin sempit dan anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, nyaman, serta bebas dari berbagai bentuk kekerasan. (*)



























