BERITAPRESS.ID | Saya adalah hati.
Saya bekerja tanpa henti, bahkan ketika pemilik tubuh ini sedang tertidur lelap. Tidak ada hari libur bagi saya. Tidak ada ucapan terima kasih. Saya hanya menjalankan tugas sejak manusia ini mulai hidup.
Saya menyaring, mengolah, dan menjaga agar semua yang masuk ke tubuh tetap bisa digunakan dengan baik.
Tapi akhir-akhir ini, saya mulai kewalahan.
Semua bermula dari hal-hal kecil yang terlihat tidak berbahaya.
Segelas minuman manis di pagi hari.
Camilan saat santai.
Makanan cepat saji ketika lapar datang tiba-tiba.
Semuanya masuk tanpa banyak dipikirkan.
Awalnya saya masih sanggup mengatur semuanya.
Saya bekerja seperti biasa, tenang, rapi, dan tanpa gangguan.
Namun lama-kelamaan, sesuatu mulai berubah.
Lemak mulai datang lebih sering daripada yang seharusnya.
Sedikit demi sedikit, ia menumpuk di ruang kerja saya.
Saya tidak bisa menolaknya.
Saya tidak punya cara untuk menghentikannya langsung.
Saya hanya bisa menerima dan mencoba bertahan.
Hari demi hari, ruang saya semakin sempit.
Saya mulai bekerja lebih berat dari biasanya.
Namun anehnya, tidak ada rasa sakit yang muncul.
Tidak ada alarm yang berbunyi.
Tidak ada tanda yang jelas bahwa saya sedang kesulitan.
Saya tetap diam.
Karena memang begitu cara saya bekerja.
Diam bukan berarti sehat.
Diam hanya berarti saya masih berusaha menjalankan tugas.
Bayangkan sebuah gudang kecil yang terus menerima kiriman barang setiap hari.
Awalnya rapi.
Lalu mulai penuh.
Kemudian sesak.
Akhirnya, barang-barang itu menumpuk sampai sulit bergerak.
Seperti itulah keadaan saya sekarang.
Saya menjadi hati yang mulai berlemak.
Yang membuatnya lebih berbahaya adalah ini: banyak orang tidak menyadari apa yang terjadi.
Karena tubuh masih terasa biasa saja.
Masih bisa bekerja.
Masih bisa makan.
Masih bisa tertawa.
Padahal di dalam sini, saya sedang berjuang keras.
Kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang perlahan mengubah keadaan saya.
Terlalu banyak gula.
Terlalu sedikit bergerak.
Terlalu sering duduk.
Terlalu jarang memberi waktu tubuh untuk pulih.
Semua itu perlahan mengubah cara saya bekerja.
Saya tidak berubah dalam semalam.
Tidak juga dalam satu minggu.
Perubahan ini terjadi perlahan, seperti air yang menetes terus-menerus hingga akhirnya meninggalkan bekas.
Saya tidak ingin tubuh ini langsung sempurna.
Saya hanya ingin sedikit perhatian.
Sedikit perubahan.
Berjalan lebih sering.
Mengurangi minuman manis.
Memilih makanan yang lebih seimbang.
Tidur yang cukup.
Hal-hal sederhana yang sering dianggap sepele.
Padahal bagi saya, itu sangat berarti.
Saya masih di sini.
Masih bekerja.
Masih mencoba menjaga semuanya tetap berjalan.
Tapi saya berharap, sebelum semuanya terlalu berat, Anda mulai mendengarkan tubuh Anda sendiri.
Karena saya tidak akan pernah bisa berteriak keras.
Saya hanya bisa memberi tanda lewat perlahan.
Dan kadang, tanda itu baru disadari ketika semuanya sudah terlambat.
Saya adalah hati.
Dan saya sedang berusaha bertahan di tengah lemak yang terus datang tanpa henti. (***)



























