BERITAPRESS.ID, PALEMBANG | Minat baca anak tergerus gawai menjadi tantangan yang semakin nyata di era digital. Di saat telepon pintar menawarkan hiburan tanpa batas melalui media sosial, video pendek, dan permainan daring, buku perlahan mulai tersisih dari keseharian sebagian anak-anak. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran banyak pihak karena budaya membaca merupakan fondasi penting dalam membangun generasi yang cerdas, kreatif, dan berkarakter.
Kebiasaan membaca sejatinya tidak hanya membantu anak memperoleh pengetahuan. Dari aktivitas sederhana tersebut, anak belajar memahami informasi, mengasah kemampuan berpikir kritis, memperluas wawasan, hingga membangun empati melalui berbagai kisah yang mereka baca. Sayangnya, derasnya arus digital sering kali membuat waktu membaca semakin berkurang.
Fenomena inilah yang mendorong berbagai pihak di Kota Palembang untuk terus menghidupkan gerakan literasi. Salah satunya melalui kegiatan BERIAS atau Bercerita Dengan Suara Keras yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Palembang bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Palembang di Rumah Aspirasi Tasik.
Kegiatan yang melibatkan siswa SD Negeri 23 dan SD Negeri 167 Palembang tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kembali kedekatan anak-anak dengan buku melalui metode membaca nyaring atau read aloud. Cara ini dinilai efektif karena anak tidak hanya mendengarkan cerita, tetapi juga diajak berimajinasi, memahami pesan moral, dan merasakan pengalaman belajar yang menyenangkan.
Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Palembang, Ida Royani, mengatakan tantangan literasi saat ini bukan lagi soal sulitnya mendapatkan buku. Menurutnya, tantangan terbesar justru bagaimana menarik perhatian anak agar kembali mencintai aktivitas membaca di tengah dominasi gawai.
Ia menjelaskan, BERIAS memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar kegiatan membaca bersama. Jika selama ini istilah berias identik dengan mempercantik penampilan, maka melalui program tersebut yang diperindah adalah cara berpikir, akal budi, dan masa depan anak-anak melalui kekuatan cerita.
“Ketika sebuah buku dibacakan dengan suara lantang dan penuh penghayatan, di situlah keajaiban literasi dimulai. Anak-anak dapat menjelajahi dunia, mengenal berbagai nilai kehidupan, dan mengembangkan imajinasi mereka tanpa batas,” ujarnya belum lama ini.
Menurut Ida, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam menumbuhkan budaya membaca. Orang tua menjadi lingkungan pertama yang dapat mengenalkan anak pada buku sekaligus membangun kebiasaan literasi sejak usia dini.
Di tengah maraknya penggunaan gawai, ia mengingatkan pentingnya menghadirkan kembali momen sederhana seperti membacakan dongeng sebelum tidur atau meluangkan waktu membaca bersama anak. Kebiasaan yang terlihat sederhana tersebut dapat memberikan dampak besar terhadap perkembangan kemampuan bahasa dan karakter anak.
“Luangkan waktu 15 menit setiap hari untuk membacakan cerita kepada anak-anak. Waktu singkat itu akan menjadi fondasi emas yang membentuk karakter mereka di masa depan,” katanya.
Ia juga mengajak anak-anak untuk terus semangat belajar dan tidak menghabiskan terlalu banyak waktu bermain gim di telepon genggam. Menurutnya, masa depan bangsa akan ditentukan oleh generasi muda yang memiliki pengetahuan luas dan kebiasaan belajar yang baik.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Palembang, Heru, menilai budaya literasi harus ditanamkan sejak usia sekolah dasar karena menjadi bekal penting dalam proses pendidikan maupun kehidupan sosial anak di masa depan.
Menurutnya, kegiatan membaca nyaring memiliki manfaat besar dalam meningkatkan kemampuan memahami bacaan sekaligus membantu anak menyerap nilai-nilai positif yang terkandung dalam setiap cerita.
“Melalui kegiatan seperti BERIAS, anak-anak tidak hanya belajar membaca, tetapi juga belajar memahami, berimajinasi, dan menanamkan nilai-nilai positif yang terkandung dalam setiap cerita,” ujarnya.
Heru menambahkan bahwa keberhasilan membangun generasi yang gemar membaca tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, komunitas, dan pemerintah menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya literasi.
Gerakan seperti BERIAS menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi, buku tetap memiliki peran yang tidak tergantikan. Teknologi dapat menjadi sarana belajar yang bermanfaat, tetapi kebiasaan membaca tetap menjadi jendela utama untuk membuka wawasan dan memperkuat karakter generasi muda.
Karena itu, upaya meningkatkan budaya literasi perlu terus dilakukan secara berkelanjutan. Dengan semakin banyak anak yang mencintai buku, Palembang tidak hanya sedang membangun generasi pembaca, tetapi juga mempersiapkan lahirnya generasi pemimpin masa depan yang siap menyongsong Indonesia Emas 2045. (***)/one




























































