Migas

Dari Hulu Migas ke Madu Emas, Jejak Medco di Desa Aur Duri

×

Dari Hulu Migas ke Madu Emas, Jejak Medco di Desa Aur Duri

Sebarkan artikel ini

Dari Seekor Lebah, Setetes Madu Menjadi Semangat
Untuk Tidak Pernah Menyerah

 

Hari itu di bawah rindangnya pepohonan di Dusun III, Desa Aur Duri, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, terdengar sayup-sayup dengung suara lebah seolah-olah bersahutan di antara sarangnya.

TERLIHAT kotak-kotak yang berjejer di area perkebunan nampak tersusun rapi dengan jarak yang sama. Setiap kotak ditopang dengan satu tiang yang dicor untuk menahannya sebagai sarang lebah.

Diantara kotak itu seorang pria berusia 65 tahun berjalan perlahan mengamati lebah peliharaanya, dan sesekali ia terseyum melihat koloni lebah keluar masuk sarang dengan membawa nektar (cairan manis kaya gula yang diproduksi oleh bunga untuk menarik hewan penyerbuk).

Ia adalah Bustam Arifin, pria yang dikenal sebagai pelopor budidaya lebah madu di Desa Aur Duri.

Tak disangka, usaha yang kini menjadi sumber penghidupan warga desa, bermula dari perjuangan yang sangat panjang, bahkan dengan keterbatasan modal dan tak henti diterpa kegagalan.

Dengan mengerutkan wajah, Bustam mengingat masa-masa awal merintis ternak lebah. “Tahun 2014 sudah memulai, tapi tidak berhasil,” kenangnya.

Kehidupannya saat itu tidak jauh berbeda dengan warga desa lain, yang menggantungkan penghasilan dari hasil kebun Karet dan Kelapa Sawit. Ketika harga anjlok penghasilan mereka juga merosot.

Suami dari Suyati ini tidak ingin menyerah dengan ketidak pastian. Ia bangkit dan mencoba memulai lagi ternak lebah walaupun dengan modal seadanya.

Perjalanan usaha dengan keterbatasan modal menjadi tantangan utama, belum lagi ancaman hewan seperti Beruang yang kerap merusak sarang lebah miliknya.

Usaha budidaya madu yang dirintisnya nyaris berjalan tanpa arah.

Produksi sedikit, pemasaran terbatas, dan keuntungan yang diperoleh belum bisa mendongkrak ekonomi keluarga.

Hadirnya Medco E&P Lematang Membawa Harapan

Kehadiran Medco E&P Lematang di tengah-tengah masyarakat pada tahun 2016 menjadi titik balik perubahan dengan Program Pengembangan Masyarakat (PPM) di desanya.

Bustam Arifin memperlihatkan plang lokasi budidaya lebah madu yang menjadi simbol perjuangan dan ketekunannya dalam mengembangkan usaha madu di Desa Aur Duri. (foto:ist)

Di bawah Kelompok Budidaya Lebah Madu Karya Maju Bersama, Bustam dan warga kemudian ikut bergabung. Mereka mendapat pembinaan dari SKK Migas dan KKKS Medco E&P Lematang cara budidaya lebah, mendapat bantuan peralatan, pendampingan teknis, hingga bagaimana cara pemasaran.

Bagi Bustam dan warga, ini menjadi titik balik kehidupan untuk terus berkembang dan bisa semakin maju.

“Sebelum dibantu Medco, terus terang produksi kami tidak banyak. Sekarang setelah dibantu, produksi kami terus meningkat,” ucapnya dengan mata berbinar.

Dengan adanya Medco ikut memasarkan hasil budidaya madu, produksi terus meningkat dan harga jual semakin tinggi.

Seiring waktu, budidaya lebah madu semakin baik, berkat pengetahuan tentang pemeliharaan dan teknik budidaya, kini usaha mereka terus meningkat.

Dengan adanya pembinaan dari KKKS perusahaan migas ini, Bustam yang tadinya hanya mengandalkan beberapa kotak sarang lebah saja, kini sudah bertambah, dan ukuran kotakpun dibuat semakin besar dan tentunya bisa menghasilkan madu yang lebih banyak.

“Kalau untuk kotak besar, bisa menghasilkan lima kilogram, sedangkan untuk kotak ukuran kecil menghasilkan sekitar dua kilogram madu,” tuturnya.

Hasilnya panen terbaik antara bulan Juli hingga Oktober, dan madu bisa di panen setiap tiga minggu sekali.

Lebah Menjadi Harapan Baru

Apa yang dirintis Bustam tidak hanya berhenti pada dirinya saja, namun apa yang dilakukannya menjadi penggerak ekonomi masyarakat di desanya.

Produk madu asli milik Bustam.

Warga yang selama ini menggantungkan kehidupan pada Kebun Karet dan Kelapa Sawit mulai melirik budidaya lebah madu dan menjadikannya sebagai peluang baru usaha.

Lebah Apis Cerana menjadi harapan baru warga, lebah madu asli Asia yang dikenal masayarakat setempat sebagai lebah “Pramuka” ini menjadi harapan baru bagi mereka dan bisa menjadi ladang rezeki yang menjanjikan.

Menurut Bustam, lebah jenis ini mencari makan secara alami dari bunga, dan tumbuhan yang ada di sekitar desanya.

Dari Nektar yang dikumpulkan inilah, nantinya menghasilkan madu berkualitas tinggi.

“Madu inilah yang dikenal orang dengan ‘madu emas’,” ujar bapak dari Endang, Apri dan Agus.

Pada tahun 2025 produksi madu kelomponya mencapai 174 kilogram dengan rata-rata panen mencapai 15 sampai 20 kilogram perbulan.

Dengan meningkatnya hasil madu produksi kelompoknya, untuk per kilogramnya mereka bisa menjual dengan harga Rp.135.000 dan sasaran pasarnya terus meluas hingga Jambi, Bengkulu, Lampung, bahkan tembus Pulau Jawa.

Bagi Bustam, madu bukan sekedar produk, namun telah menjadi penyangga ekonomi keluarganya.

“Bisa membantu menambah penghasilan rumah tangga dan membantu biaya pendidikan anak,” ungkapnya.

Bertahan di Tengah Tantangan

Perjalanan menuju keberhasilan terkadang memang tidak mudah, produkis madu kelompok sempat mencapai 800 kilogram per tahun pada awal pengembangan, namun perjalanan itu tidak selalu mulus, banyak tantangan yang mereka hadapi.

Pada saat pandemi Covid-19 menjadi titik terendah dalam pengembangan budidaya lebah madu, membuat jumlah anggota yang aktif mulai berkurang, hal ini akibat faktor cuaca dan kondisi alam, belum lagi serangan Beruang yang sewaktu-waktu menghancurkan kotak sarang lebah dalam waktu satu malam.

Namun Bustam memlih bertahan.

“Saya terus memelihara lebah, dan tetap menanam Kelapa Sawit dan pohon Karet untuk menambah penghasilan,” tuturnya.

Baginya, budidaya lebah bukan sekadar mencari keuntungan saja, tetapi dipikirannya apa yang dilakukannya ini bisa menjaga keseimbangan alam.

Desa Biasa Menjadi Desa Unggulan

Desa Aur Duri yang dulunya hanya dikenal sebagai salah satu desa penghasil Karet dan Sawit saja, kini desanya sudah mulai mendapat perhatian dan menjadi salah satu desa unggul di sektor ekonomi kreatif.

Setelah sukses dalam pengembangan madu murni, masyarakat mulai mengembangkan berbagai macam produk lainnya, seperti sabun madu dan lainnya.

Dengan keberhasilan tersebut membuat Aur Duri sebagai contoh salah satu desa dengan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal di Sumatera Selatan.

Dimata Bustam, perubahan ini merupakan suatu kebanggan bagi dirinya.

Ia adalah saksi, bagaimana usaha yang dulu dianggap kecil kini mampu mengangkat nama desanya dan bisa dikenal luas di luar.

“Lebah madu telah mengangkat Aur Duri menjadi desa unggulan, mendapat penghargaan dan menjadi percontohan di Sumsel,” tandasnya.

Walaupun hanya bisa panen selama lima bulan sekitar 50 sampai 60 kilo perbulan, ia bisa menghasilan delapan juta tiap bulannya. Dimusim panas penghasilannya bisa bertambah, karena jika musim kemarau proses panen bisa dilakukan terus menerus, sedangkan bila memasuki musim hujan sarang tidak bisa diganggu.

Baginya, setiap tetes madu yang dihasilkan bukan hanya menghadirkan rasa manis, tetapi juga menjadi simbol perjuangan, harapan, dan kemandirian ekonomi masyarakat.

Dari situ Bustam membuktikan bahwa perubahan besar bisa lahir dari sesuatu yang sederhana, dari seekor lebah, setetes madu menjadi semangat untuk tidak pernah menyerah.

Proses Ternak Lebah Madu

  1. Penyediaan Kotak Sarang (Stup)

Sebelum memulai budidaya lebah madu, perlu disiapkan kotak sarang atau stup sebagai tempat tinggal koloni. Stup umumnya terbuat dari kayu yang kuat dan tahan terhadap cuaca. Dan dirancang menyerupai habitat alami lebah. Hal ini dilakukan agar koloni dapat berkembang dengan nyaman.

Untuk kotak sarang lebah terdapat bagian penting, yakni ruang khusus bagi ratu lebah untuk bertelur, dan ada area untuk lebah pekerja yang bertugas membesarkan larva. Dan ada bingkai atau ruang penyimpanan madu yang berfungsi untuk diisi nektar yang dikumpulkan dari sari bunga.

Selain itu kotak juga harus di buat memiliki ventilasi agar suhu dan  kelembapan tetap stabil. Dan stup atau kotak harus berada di Lokasi yang teduh, terbebas dari genangan air dan jangkauan hama dan predator.

  1. Pemilihan Bibit atau Koloni Lebah

Untuk pemilihan koloni lebah yang sehat, faktor utamanya adalah ratu lebah harus yang sehat dan berada di usia produktif antara 3 bulan sampai 1 tahun, karena dengan Ratu Lebah yang berkualitas maka akan menghasilkan telur dalam jumlah yang banyak dan populasi koloni terus berkembang.

  1. Sumber Pakan Alami

Kunci produksi madu lebih baik faktor penunjangnya adalah dengan ketersediaan bunga, karena itu peternak harus menanam seperti Kaliandra, Kopi, Karet, Kelapa Sawit, Rambutan, Durian dan berbagai macam tanaman hutan lainnya.

Dengan adanya mata rantai makanan yang cukup, lebah pekerja akan mencari nektar dan serbuk dengan radius ratusan meter hingga berkilometer dari sarangnya.

  1. Perawatan Lebah dan Koloni

Untuk memastikan kondisi Ratu, koloni ini harus diperiksa secara rutin, baik itu jumlah polpulasi dan ketersediaan pakan di lokasi budidaya lebah. Dan jika musim bunga mulai berkurang peternak harus memberikan pakan tambahan, seperti larutan gula demi ketahanan koloni dan tak kalah penting membersihkan sarangnya.

  1. Menjaga Agar Tidak Diganggu Hama dan Predator.

Untuk mencegah gangguan hama dan predator, peternak biasanya memasang pelindung di kaki kotak sarang, agar tidak ada ancaman dari hama Tikus, Semut, Tawon, Cicak, Burung hingga hewan liar.

  1. Proses Terjadinya Madu

Proses ini bisa dilihat dari Lebah pekerja yang selalu mengumpulkan nektar dari bunga dan membawanya kedalam sarang. Nektar ini nanti dioalah secara alami melalui proses Enzimatis dan penguapan sehingga bisa berubah menjadi madu. Setelah proses lebah ini melakukan pekerjaanya menjadi kadar madu ideal, lebah akan menutup sel-sel madu dengan lapisan lapisan lilin tipis tanda madu telah matang.

  1. Proses Panen Madu

Jika Sebagian besar sel madu telah tertutup lilin, maka peternak akan melakukan proses panen madu, dengan cara mengangkat bingkai sarang yang berisi madu matang lalu mengekstraknya menggunakan alat khusus agar menghasilan kualitas madu terbaik.

  1. Pemisahan Kotoran

Setelah ekstrak madu lalu dilakukan pemisahan sisa lilin, dan setelah proses selesai madu siap di masukkan ke dalam kemasan botol atau wadah yang higienis, dan madu siap dipasarkan.

Medco Energi Dorong Peletarian Lingkungan

Medco E&P Lematang berkomitmen dalam menjalankan operasi hulu migas selaras dengan upaya pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Lead Field Relations Support Medco E&P Indonesia, Ericka Lestari Dewi A menegaskan bahwa perusahaan selalu mengedepankan aspek lingkungan dalam setiap operasionalnya.

Sebagai perusahaan energi, Medco berupaya memenuhi standar operasional dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Bagaimana kami beroperasi selalu memperhitungkan aspek lingkungan dalam seluruh kegiatan operasional. Salah satu bentuk menjaga lingkungan adalah dengan menggandeng masyarakat sekitar untuk ikut terlibat dan berperan aktif,” ujarnya.

Program yang digelontorkan bisa menyentuh masyarakat seperti budidaya lebah madu di wilayah Lematang.

“Masyarakat sebenarnya telah memiliki minat dan potensi untuk membudidayakan lebah madu. Namun, saat itu mereka masih menghadapi kendala berupa keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan budidaya yang baik,” bebernya.

Kehadiran Medco di tengah masyarakat ternyata memberikan efek, dengan adanya pelatihan, pendampingan serta dukungan sarana dan prasarana untuk memulai usaha budidaya lebah madu.

“Dalam proses pendampingan, masyarakat juga diajak untuk mengidentifikasi jenis-jenis tanaman yang cocok sebagai sumber pakan lebah maupun tempat berkembang biaknya koloni lebah madu,” ungkapnya.

Program penanaman tanaman di sekitar area budidaya juga mendukung ketersediaan sumber pakan lebah. Apa yang dilakukan Medco Energi termasuk mendukung penghijaun dan menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Medco E&P tidak hanya berfokus pada penyediaan energi nasional, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.

“Perusahaan selalu mengedepankan masyarakat (engagement) dalam setiap program pengembangan yang dijalankan. Keberadaan industri migas tidak hanya menghasilkan energi untuk kebutuhan nasional, tetapi juga harus mampu menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.

Dengan kondisi lingkungan yang terjaga, aktivitas masyarakat dapat terus berkembang dan dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.

“Kami ingin masyarakat semakin berdaya tanpa mengabaikan aspek lingkungan,” harapnya.

Bustam di Mata Medco

Ericka berharap untuk pengelolaan budidaya madu di Desa Aur Duri terus dapat berkembang.

“Jujur, pak Bustomi adalah sosok yang luar biasa, beliau memanfaatkan ilmu yang diperoleh pada saat awal pelatihan, lalu diimplementasikan dan sampai saat ini dijaga selalu lingkungan sekitarnya, dan bagaimana kegigihan, keteguhan beliau dalam berusaha,” ungkapnya.

Budidaya madu itu tergantung dari lebah madunya dan Pak Bustomi sabar dan tekun yang akhirnya bisa membuat beliau cukup dikenal di masyarakatnya dan produk madunya mulai dibawa kemana-mana.

“Saya berharap semoga usahanya tetap terus dijaga, semakin maju, semakin berkualitas madunya, semakin baik, sehingga bisa menembus pasar yang lebih luas. Tidak gampang menyerah dan semoga usahanya selalu memberikan hasil yang terbaik,” harapnya.

Terus Mengembangkan Program

Sebagai salah satu program kedepannya Medco Energi berencana dalam pengelolaan bank sampah yang ada di dekat wilayah operasinya.

“Aspeknya ada beberapa yang kami ingin ambil, pertama adalah bagaimana usaha atau upaya kami dalam mengelola lingkungannya, salah satunya adalah pengelolaan sampah. Nanti Medco akan bekerja sama dengan masyarakat dan mengelola sampah domestik yang sifatnya bisa di recycle, seperti sampah organik dan anorganik,” jelasnya.

Untuk sampah organik bisa menjadi kompos dan anorganiknya mungkin bisa dicaca menjadi biji plastik atau bubur plastik yang bisa punya nilai ekonomis dan bisa dijual sebagai pendapatan dari bank sampah.

Untuk saat ini Desa Sumaja Makmur sudah ada bank sampahnya, namun saat ini masih kesulitan di transportasinya. “Nah kita sedang menjajaki apa yang harus kita lakukan,” ungkapnya.

“Kedua, mereka kesulitan mengelola sampah plastiknya karena butuh mesin dan sebagainya. Kemarin mesinnya itu sempat rusak dan belum diperbaiki, nanti kita akan coba perbaiki agar bank sampah ini nantinya membantu mereka mengelola sampah,” bebernya.

Komitmen Penghijauan

Medco saat ini terus berkomitmen untuk melakukan penanaman penghijauan.

Walupun jauh dari lokasi kerja, namun lokasi ini merupakan lokasi yang dikelola oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan.

“Medco sejak 2024 sudah bekerja sama dengan dinas kehutanan provinsi dan lembaga desa pengelola hutan desa yang ada di desa Sungsang 4, kita sudah menanam Mangrove, karena ini adalah program-program yang terkait dengan lingkungan,” ucapnya.

Pinjaman Tanpa Bunga

Selain itu Medco juga terus berupaya memberikan program-program yang bisa memberdayakan ekonomi masyarakat.

“Selain pengelolaan madu, nanti tahun depan kita akan mencoba mendata UMKM dan mengidentifikasi jumlah UMKM yang berpotensi di wilayah blok Medco E&P,” bebernya.

Secara korporasi mikro, pihaknya akan menggelontorkan pinjaman dana kepada pelaku UMKM melalui program simpan pinjam.

“Medco Group akan mengelontorkan pinjaman tanpa bunga bagi UMKM. Nanti dana pokok yang dikembalikan oleh peminjam akan disalurkan kembali sebagai pinjaman untuk mendukung UMKM lainnya, jadi efek berdampaknya seperti itu,” tutupnya.

Penulis : Muhammad Asri