Opini

Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei “The Silent” yang Dinanti

×

Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei “The Silent” yang Dinanti

Sebarkan artikel ini

Oleh: Muhammad Abdillah Dosen Pascasarjana UIN Raden Fatah

 

BERITAPRESS.ID | Di tengah turbulensi geopolitik yang mengguncang Iran pasca wafatnya Ali Khamenei, satu nama beredar pelan namun konsisten di ruang-ruang diskusi politik Teheran adalah Mojtaba Khamenei. Ia dijuluki oleh sebagian analis Barat sebagai “the silent” yang diam, yang tak banyak tampil di panggung publik, tetapi diyakini memiliki pengaruh signifikan dalam orbit kekuasaan Republik Islam. Julukan ini bukan sekadar metafora personal, melainkan refleksi dari model kekuasaan Iran yang kerap bekerja melalui jaringan informal, bukan semata institusi formal.

Mojtaba bukan figur populis. Ia bukan diplomat flamboyan, bukan pula jenderal karismatik. Ia lahir dalam lingkar inti revolusi, dididik dalam tradisi hauzah Qom, dan besar dalam bayang-bayang kepemimpinan ayahnya. Dalam sistem politik Iran, yang menggabungkan teokrasi dan republik, legitimasi tidak hanya ditentukan oleh popularitas, tetapi oleh jejaring ulama, loyalitas aparat keamanan, serta dukungan Garda Revolusi Islam (IRGC). Di sinilah relevansi Mojtaba muncul. Sejumlah laporan analis termasuk dari lembaga seperti International Crisis Group dan berbagai studi kebijakan Barat menyebutkan bahwa ia memiliki hubungan dekat dengan unsur-unsur kunci IRGC, institusi yang secara de facto menjadi tulang punggung keamanan dan ekonomi Iran.

Namun pertanyaan utama bukan sekadar apakah Mojtaba memiliki pengaruh, melainkan apakah ia memiliki legitimasi. Dalam konstitusi Iran, pemimpin tertinggi dipilih oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts), lembaga ulama yang memiliki kewenangan konstitusional menentukan dan mengawasi Supreme Leader. Secara formal, Iran bukan monarki herediter. Oleh karena itu, jika Mojtaba benar-benar naik menggantikan ayahnya, dunia akan mengamati apakah proses tersebut mencerminkan konsensus religius-institusional atau justru menimbulkan persepsi dinasti terselubung.

Di sinilah paradoks “the silent” menjadi menarik. Diamnya Mojtaba selama ini bisa dibaca sebagai strategi. Dalam tradisi politik Iran, terlalu menonjol justru bisa menimbulkan resistensi dari faksi-faksi lain, baik di kalangan ulama senior maupun elit politik. Politik Iran bukanlah blok tunggal, ia terdiri dari spektrum konservatif garis keras, pragmatis, hingga reformis. Mojtaba, dengan profil rendahnya, menghindari polarisasi terbuka. Ia menunggu momentum.

Momentum itu kini hadir dalam konteks krisis eksternal. Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta ketegangan regional yang meningkat menciptakan atmosfer “rally around the flag” di mana masyarakat dan elit cenderung bersatu di bawah simbol kontinuitas dan stabilitas. Dalam situasi ancaman, preferensi sistem seringkali condong pada figur yang dianggap mampu menjaga kesinambungan ideologis dan keamanan nasional. Mojtaba dapat tampil sebagai simbol kesinambungan tersebut.

Namun dunia internasional akan membaca kemunculannya melalui lensa yang berbeda. Bagi Washington dan Tel Aviv, kepemimpinan Mojtaba kemungkinan berarti berlanjutnya kebijakan keras terhadap Israel dan skeptisisme mendalam terhadap Amerika Serikat. Ia dibesarkan dalam fase ketika Iran berada di bawah tekanan sanksi maksimal dan konfrontasi regional. Artinya, orientasi strategisnya kemungkinan tidak akan jauh dari garis resistensi. Dalam perspektif realisme struktural, negara yang merasa terancam cenderung memperkuat kapasitas deterensinya, bukan melunakkannya.

Sebaliknya, bagi Russia dan China, figur Mojtaba dapat dilihat sebagai jaminan keberlanjutan kemitraan strategis. Moskow memiliki kepentingan mempertahankan poros anti-Barat yang mengimbangi tekanan NATO. Beijing, dengan investasi energi dan proyek infrastruktur di Iran, membutuhkan stabilitas kepemimpinan. Dalam kerangka multipolaritas, Iran di bawah Mojtaba berpotensi semakin terintegrasi dalam orbit Eurasia non-Barat.

Namun tantangan terbesar Mojtaba bukanlah eksternal, melainkan internal. Generasi muda Iran menunjukkan aspirasi yang lebih kompleks dibanding generasi revolusi 1979. Gelombang protes dalam beberapa tahun terakhir mencerminkan tuntutan reformasi sosial dan ekonomi. Jika Mojtaba hanya mereplikasi pendekatan keamanan tanpa membuka ruang adaptasi, ia berisiko menghadapi tekanan domestik yang berkelanjutan. Stabilitas Iran tidak hanya bergantung pada IRGC, tetapi juga pada legitimasi sosial.

Sebagai “the silent”, Mojtaba menghadapi dilema klasik suksesi, apakah ia akan tetap menjadi arsitek di balik layar, ataukah ia siap berdiri di garis depan sebagai simbol negara? Diam memberinya fleksibilitas,  tampil memberinya legitimasi formal. Namun tampil juga berarti menerima sorotan global, sanksi baru, dan kemungkinan tekanan diplomatik lebih keras.

Dalam geopolitik, figur seperti Mojtaba seringkali diremehkan pada awalnya. Sejarah menunjukkan bahwa pemimpin yang tidak banyak bicara dapat menjadi sangat menentukan. Deng Xiaoping di China misalnya, tidak selalu tampil sebagai kepala negara formal, tetapi membentuk arah strategis negaranya selama dekade penting. Tentu, konteks Iran berbeda, tetapi analogi ini menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu identik dengan visibilitas.

Mojtaba Khamenei mewakili fase transisi Iran dari kepemimpinan revolusioner generasi pertama menuju generasi kedua. Jika ia naik, itu bukan sekadar pergantian individu, melainkan konsolidasi model kekuasaan yang lebih terinstitusionalisasi dalam jaringan keamanan dan ulama konservatif. Dunia harus memahami bahwa stabilitas Iran pasca-Khamenei tidak akan otomatis berarti moderasi. Bisa jadi justru berarti konsistensi yang lebih disiplin dan terstruktur.

Akhirnya, “the silent” yang dinanti bukanlah misteri romantik, melainkan simbol pertarungan arah masa depan Iran. Apakah ia akan menjadi penjaga ortodoksi revolusi, atau arsitek adaptasi strategis dalam sistem internasional yang berubah? Jawabannya akan menentukan bukan hanya masa depan Teheran, tetapi juga keseimbangan kekuatan di Timur Tengah dan bahkan lanskap multipolar global. Dunia menunggu dan dalam keheningan itu, politik sedang bekerja.