RABU malam kemarin, warga Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan, sedang menikmati waktu santai di rumah masing-masing. Tapi Sungai Muara Bala tampaknya punya rencana lain. Airnya meluap dan merendam halaman rumah, motor pun ikut “berenang” gratis, dan jemuran? Otomatis jadi kolam mini. Ketinggian banjir di berbagai titik berkisar 1-2 meter.
Bencana ini tidak main-main, pasalnya sebanyak 489 kepala keluarga terdampak banjir, tersebar di Kecamatan Belitang III, Belitang, Belitang Mulya, dan Semendawai Suku III. Dalam sekejap, halaman rumah berubah menjadi kolam mini, anak-anak justru asik bermain air, dan warga kreatif memanfaatkan papan kayu sebagai jalan darurat atau ember sebagai perahu. Dari sini kita bisa belajar hidup itu fleksibel, dan kreativitas lahir dari situasi darurat.
Di tengah musibah ini, Kementerian Sosial (Kemensos) tidak tinggal diam. Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), menegaskan tim di lapangan terus bekerja menyalurkan bantuan sekaligus mendirikan dapur umum. Semua ini bertujuan, agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi meski rumah mereka terendam banjir.
Bantuan logistik yang dikirim Kemensos pun lengkap seperti 2.000 paket makanan siap saji, 1.000 paket makanan anak, 500 paket family kit, 300 kidsware, 400 selimut, 800 kasur dan 400 tenda gulung.
Barang-barang itu dikirim melalui Gudang Dinas Sosial Provinsi Sumatera Selatan dan langsung didistribusikan ke warga terdampak. Paket logistik ini bukan sekadar barang, namun menjadi teman setia warga untuk tetap hangat, kenyang, dan terhindar dari kebingungan saat menghadapi banjir.
Hingga Jumat (9/1/2026), banjir mulai surut di beberapa titik, namun bagi warga yang rumahnya berada di cekungan, air masih bertahan satu meter lebih. Gus Ipul menegaskan, pihaknya terus berkoordinasi dengan instansi terkait dan pemerintah setempat untuk memastikan keselamatan masyarakat serta mempercepat proses penanganan dampak bencana.
Dari kejadian ini, ada beberapa pelajaran hidup yang bisa diambil kreativitas dalam menghadapi krisis, warga yang membuat papan sebagai jalan darurat atau ember sebagai perahu dadakan membuktikan kemampuan adaptasi manusia luar biasa. Banjir memang repot, tapi juga memunculkan solusi kreatif yang kadang lucu tapi efektif.
Pelajaran hidup
Selain itu solidaritas dan gotong royong itu penting, tetangga saling membantu mengevakuasi barang, membagikan informasi, dan menenangkan anak-anak. Krisis bukan hanya soal air, tapi soal bagaimana komunitas bisa saling menopang satu sama lain.
Dan kehadiran pemerintah dan Kemensos krusial, sebab bantuan logistik dan dapur umum dari Kemensos menunjukkan peran pemerintah sangat penting. Bantuan makanan, tenda, selimut, dan kasur bukan sekadar barang, tapi penyelamat kenyamanan warga di tengah banjir.
Oleh sebab itu, kita perlu belajar bersyukur meski dalam kesulitan, meski rumah tergenang, warga tetap bisa tersenyum, bermain air, dan memanfaatkan bantuan logistik. Sikap ini mengajarkan bersyukur dan tetap positif bisa meringankan beban mental saat krisis.
Banjir OKU Timur 2026 bukan hanya soal air yang naik, tapi soal pelajaran hidup yang turun dari langit, dengan sedikit basah-basahan di sela-selanya.
Sungai Muara Bala memang ngambek, tapi warga menunjukkan kemampuan adaptasi luar biasa, dan Kemensos hadir memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi. Oleh sebab itu krisis bisa menguji kesabaran, kreativitas, dan solidaritas. Namun, jika kita tetap fleksibel, saling bantu, dan tidak kehilangan rasa humor, bahkan banjir setinggi satu meter pun bisa menjadi cerita yang berkesan dan penuh hikmah.
Jadi, kalau hidup memberi “banjir” jangan hanya cemberut di tepi kolam. Jalan di papan darurat, bikin perahu dari ember, tertawa bersama tetangga, dan hargai setiap bantuan yang datang, karena pelajaran hidup kadang datang sambil basah-basahan, tapi tetap bisa lucu, bermakna, dan layak dikenang. (***)






















