BERITAPRESS.ID, PALEMBANG | Kepala SMK Negeri 4 Palembang, Sumin Eksan, S.Pd., M.M., mengajak masyarakat dan para pemangku kebijakan untuk meningkatkan ikhtiar menghadapi musim kemarau, salah satunya melalui pelaksanaan sholat Istisqa berjamaah. Ia juga mengajak masyarakat memahami fenomena kemarau melalui pendekatan ilmiah dan nilai-nilai keagamaan.
Menurut Sumin, pemahaman yang menyeluruh mengenai fenomena kemarau perlu dilihat dari dua perspektif yang saling melengkapi, yakni ilmu geografis dan ajaran Islam. Pendekatan ilmiah membantu menjelaskan proses terjadinya fenomena alam, sedangkan perspektif agama mengajak umat untuk mengambil hikmah dan meningkatkan keimanan.
Kemarau dalam Perspektif Geografis
Dari sisi geografis, Sumin menjelaskan bahwa fenomena kemarau dipengaruhi sejumlah faktor yang saling berkaitan, mulai dari pola angin monsun, fenomena El Niño, perubahan tutupan lahan, hingga pemanasan global.
Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia adalah angin monsun Australia. Angin yang berasal dari wilayah Australia tersebut umumnya membawa massa udara relatif kering sehingga dapat mengurangi pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Selain itu, fenomena El Niño yang ditandai oleh peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur dapat memengaruhi pola sirkulasi atmosfer serta distribusi curah hujan. Dampaknya, sebagian wilayah Indonesia berpotensi mengalami kondisi lebih kering.
Sumin juga menyoroti alih fungsi lahan dan deforestasi yang dapat memengaruhi siklus hidrologi. Berkurangnya tutupan vegetasi berpotensi menurunkan kemampuan tanah dalam menyerap dan menyimpan air, sehingga meningkatkan risiko kekeringan.
Sementara itu, pemanasan global turut memengaruhi pola iklim dan meningkatkan risiko terjadinya sejumlah kejadian cuaca ekstrem.
“Geografi menjelaskan secara objektif bagaimana proses mekanisme alam ini terjadi di bumi kita,” ujar Sumin.
Kemarau dalam Perspektif Agama Islam
Selain menjelaskan faktor ilmiah, Sumin mengajak masyarakat memaknai fenomena kemarau dari perspektif keimanan. Menurutnya, berbagai peristiwa alam dapat menjadi momentum bagi manusia untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki perilaku, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan.
Ia merujuk pada Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 155 yang menjelaskan bahwa manusia akan diuji dengan berbagai keadaan, termasuk rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.
Dalam konteks tersebut, kemarau dapat menjadi pengingat bagi umat Islam untuk memperkuat kesabaran, meningkatkan keimanan, dan memperbanyak doa kepada Allah SWT.
Sumin juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian alam. Ia mengaitkan pesan tersebut dengan Surah Ar-Rum ayat 41 yang menjelaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan manusia agar mereka kembali ke jalan yang benar.
Selain itu, ia mengajak umat Islam memperbanyak istighfar, menunaikan zakat dan kewajiban sosial, serta meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan.
“Jika ilmu bumi menjelaskan bagaimana prosesnya, maka agama menjelaskan kenapa peristiwa itu diizinkan terjadi dan apa hikmah di baliknya,” tambahnya.
Menurut Sumin, menjaga kelestarian lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia. Upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar spiritual, kepedulian sosial, dan doa agar masyarakat diberikan keselamatan serta keberkahan.
Serukan Gerakan Sholat Istisqa Berjamaah
Menutup penjelasannya, Sumin menyampaikan imbauan kepada para pemangku kebijakan dan pimpinan lembaga pendidikan di Sumatera Selatan agar turut menggerakkan pelaksanaan sholat Istisqa berjamaah sebagai bentuk ikhtiar spiritual memohon turunnya hujan.
Ia berharap Gubernur Sumatera Selatan, para bupati dan wali kota, kepala dinas terkait, kepala sekolah, hingga pimpinan pondok pesantren dapat mengajak jajaran dan masyarakat di lingkungan masing-masing untuk melaksanakan sholat Istisqa.
“Diharapkan kepada Bapak Gubernur, para bupati dan wali kota, kepala dinas terkait, para kepala sekolah, hingga pimpinan pondok pesantren untuk bersama-sama menggerakkan dan memerintahkan jajarannya agar melaksanakan sholat Istisqa. Kita tidak pernah tahu, dari doa siapa di antara kita yang tulus ikhlas, hajat ini dikabulkan oleh Allah SWT,” ujar Sumin.
Ia berharap gerakan tersebut dapat menjadi momentum memperkuat kebersamaan, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, dan menumbuhkan semangat gotong royong dalam menghadapi dampak musim kemarau.
Sumin menegaskan bahwa ikhtiar menghadapi kemarau perlu dilakukan secara menyeluruh, baik melalui pemahaman ilmiah, upaya menjaga lingkungan dan ketersediaan air, maupun pendekatan spiritual sesuai keyakinan masing-masing. (MR)
























