BERITAPRESS.ID, PALEMBANG | SMA Negeri 5 Palembang menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa kelas 10 dan 11 menyusul kondisi kabut asap yang dinilai telah melebihi batas ambang dan berisiko terhadap kesehatan.
Kebijakan tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut imbauan Gubernur Sumatera Selatan, Wali Kota Palembang, serta Kepala Dinas Pendidikan agar kegiatan pembelajaran tetap berlangsung dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan siswa dan guru.
Kepala SMA Negeri 5 Palembang, Drs. Hj. Ria Wilastri, MM, mengatakan pihak sekolah sebenarnya lebih menyukai pembelajaran tatap muka. Namun, kondisi kabut asap membuat sekolah harus mengikuti imbauan pemerintah.
”Sebetulnya jujur lebih menyenangi pembelajaran tatap muka. Namun kita melihat perkembangan dari kabut asap yang melebihi batas ambang ya, jadi sangat berbahaya untuk kesehatan. Maka kita mengikuti himbauan, kemudian Bapak Wali Kota juga himbauan yang dilakukan oleh Bapak Gubernur Provinsi Sumatera Selatan, kemudian Bapak Wali Kota, juga Ibu Kepala Dinas Pendidikan, bahwa sebaiknya kita melakukan pembelajaran jarak jauh,” ujar Ria Wilastri, Selasa (6/10/2026).
Untuk kelas 10 dan 11, pembelajaran dilakukan dari rumah dengan memanfaatkan sejumlah platform, seperti Zoom, Google Meet (GMeet), maupun WhatsApp Group.
”Untuk kelas 10 dan kelas 11 itu memang kita lakukan PJJ dan Ibu mengontrol setiap pagi guru-guru hadir di sekolah dan memberikan layanan yang terbaik kepada kelas 10 dan 11 yang sedang melakukan PJJ. Mereka bisa menggunakan aplikasi Zoom ataupun Gmeet ataupun dari WA ya, jadi di WA grup. Insyaallah pembelajaran yang diberikan juga efektif,” jelasnya.
Sementara itu, siswa kelas 12 tetap diwajibkan datang ke sekolah karena tengah mengikuti kegiatan gladi resik Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang merupakan program dari kementerian dan membutuhkan penggunaan laboratorium komputer.
”Nah kalau untuk kelas 12, karena ini adalah program dari kementerian ya, dan anak-anak kelas 12 saat ini sedang melakukan kegiatan gladi resik TKA, maka mau tidak mau anak-anak harus datang ke sekolah karena menggunakan komputer, harus menggunakan lab komputer, dan itu kita sudah agendakan,” katanya.
Ria Wilastri mengatakan, SMA Negeri 5 Palembang memiliki tiga komputer yang digunakan siswa kelas 12 sesuai jadwal yang telah ditentukan.
”Jadi ada tiga komputer yang tersedia di SMA Negeri 5 ini dan mereka datang ke sekolah sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan,” ujarnya.
Terkait durasi pembelajaran, pihak sekolah menyesuaikan jam belajar dengan kondisi kabut asap. Waktu pembelajaran setiap mata pelajaran dikurangi sekitar 30 menit.
”Kita mengikuti jam pembelajaran TMT (Pembelajaran Tatap Muka Terbatas). Jadi pembelajaran TMT itu karena kabut asap, jadi waktu belajarnya kita kurangi 30 menit per mata pelajaran,” ungkapnya.
Untuk pembelajaran dari rumah, sekolah juga menyesuaikan jadwal agar kegiatan belajar tetap berjalan efektif.
”Ketika mereka berada di kelas tentunya kita menyesuaikan kegiatan yang ada di rumah masing-masing. Dan bapak ibu guru juga dari awal, kalau TMT jadwal kabut asap 7.30 masuknya. Tapi kalau pembelajaran dari rumah itu jam 7, anak-anak sudah stand by di rumah masing-masing,” pungkas Ria Wilastri.
Di tengah penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat kabut asap, SMA Negeri 5 Palembang tetap memantau kondisi kesehatan peserta didik, khususnya siswa kelas 12 yang saat ini mengikuti gladi resik Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Kepala SMA Negeri 5 Palembang, Drs. Hj. Ria Wilastri, MM, mengatakan pemantauan kesehatan siswa dilakukan melalui Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Berdasarkan data dan pemantauan selama ini, keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada siswa masih relatif sedikit.
”Iya, karena kita punya UKS, tentunya di UKS itu ada data ya, ada data, dan alhamdulillah selama ibu pantau di UKS itu tidak terlalu banyak anak-anak yang ada gangguan keluhan ISPA. Nah mungkin dari dasar itulah kemarin kita tetap melakukan pembelajaran tatap muka,” ujarnya.
Namun, kondisi kabut asap yang semakin pekat dalam beberapa hari terakhir membuat sekolah mengambil langkah untuk merumahkan siswa demi mengurangi risiko gangguan kesehatan.
”Di minggu ini karena luar biasa kabut asapnya, jadi ya bagaimanapun anak-anak harus kita rumahkan, supaya terhindar dari gangguan pernafasan,” katanya.
Sementara itu, untuk siswa kelas 12 yang mengikuti gladi resik TKA, pihak sekolah telah melakukan berbagai persiapan, baik dari sisi akademik maupun sarana dan prasarana.
Menurut Ria Wilastri, persiapan akademik telah dilakukan jauh sebelum pelaksanaan gladi resik. Siswa diberikan pendampingan dan tambahan pembelajaran agar lebih familiar dengan bentuk soal yang nantinya dihadapi.
”Iya, tentunya perjalanan sebelum sampai ke gladi resik ini sudah kita lakukan. Yang pertama persiapan dari peserta didik kelas 12, kita berikan pendampingan yang efektif, kita buatkan jadwal yang efektif untuk mereka, paling tidak mereka familiar lah dengan soal-soal yang akan mereka hadapi nanti, dengan cara bagaimana cara belajar ataupun menganalisa soal-soal tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.
Program tersebut, lanjutnya, merupakan inisiatif sekolah yang telah disepakati bersama para siswa dan mendapat sambutan positif.
”Dan itu juga atas inisiatif sekolah dan kita sepakati dengan anak-anak dan mereka juga sangat menyambut apa yang sudah diprogramkan oleh sekolah. Nah itu untuk persiapan dari kognitifnya peserta didik,” ungkapnya.
Selain persiapan akademik, sekolah juga melakukan pembenahan sarana dan prasarana penunjang, terutama laboratorium komputer yang digunakan dalam pelaksanaan TKA.
”Kemudian kalau untuk persiapan sarana prasarana penunjang seperti lab komputer tentunya kita melihat bagaimana kestabilan jaringan, kemudian kondisi komputer yang akan digunakan itu sudah dievaluasi semua,” katanya.
Ria Wilastri menambahkan, pembenahan perangkat komputer telah dilakukan sejak pertengahan September karena terdapat sejumlah komputer yang mengalami kendala.
”Jadi mulai dari bulan September, pertengahan September itu kita sudah mulai berbenah, karena banyak komputer yang ada kendalanya. Nah itu kita perbaiki ulang. Dan alhamdulillah selama pelaksanaan gladi resik dua hari ini sudah lancar semua,” ujarnya.
Terkait target pelaksanaan TKA, pihak sekolah berharap siswa kelas 12 SMA Negeri 5 Palembang dapat memperoleh hasil terbaik.
”Targetnya ya anak-anak bisa menghasilkan nilai TKA yang terbaik tentunya. Dan kembali ke peserta didik, nanti nilainya seperti apa, ya mudah-mudahan mereka juga sudah lebih siap dengan apa yang sudah kita lakukan untuk mereka,” tuturnya.
Dalam proses persiapan tersebut, sekolah juga mengapresiasi dukungan orang tua yang ikut memantau perkembangan siswa kelas 12 selama berada di rumah.
”Dan tentunya kami juga berterima kasih kepada orang tua yang sudah bekerja sama dengan baik untuk memantau perkembangan kelas 12 ini di rumah. Jadi dengan kolaborasi antara orang tua dan peserta didik, tentunya ini akan lebih memaksimalkan potensi si anak,” katanya.
Ria Wilastri mengatakan, sekolah juga berencana melibatkan orang tua dalam evaluasi hasil gladi resik TKA. Hasil evaluasi nantinya akan disampaikan kepada orang tua sebagai bahan persiapan menghadapi pelaksanaan TKA pada November mendatang.
”Dan insyaallah nanti pada saat kegiatan TKA pada bulan November nanti, kita pun akan mengumpulkan orang tua rencananya. Jadi hasil dari ini nanti kita evaluasi, gladi ini kita evaluasi, kita sampaikan ke orang tua, sehingga nanti mudah-mudahan upaya-upaya seperti ini bisa meningkatkan nilai TKA kelas 12 SMA Negeri 5 tahun pelajaran 2026-2027,” jelasnya.
Mengenai penerapan PJJ akibat kabut asap, Ria berharap kondisi udara segera membaik sehingga kegiatan belajar mengajar dapat kembali normal. Menurutnya, pola pembelajaran yang berganti-ganti antara tatap muka dan PJJ selama beberapa waktu terakhir turut memengaruhi ritme pembelajaran di sekolah.
”Ya harapannya mudah-mudahan hujan segera turun ya, sehingga karena pembelajaran sudah dua bulan ini, kadang masuk, kadang PJJ, kadang PTM, itu tentunya mengganggu siklus pembelajaran yang ada di sekolah. Dan harapannya mudah-mudahan kabut asap segera teratasi dan semua kembali normal,” pungkasnya.
TKA Bantu Persiapan ke Jenjang Selanjutnya
Pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diterapkan akibat kondisi kabut asap di Kota Palembang dinilai kurang maksimal oleh sejumlah siswa, terutama bagi peserta didik kelas 12 yang membutuhkan bimbingan lebih intensif dari guru.
Hal tersebut disampaikan Naila Zahratus Shita, siswi kelas XII-5 SMA Negeri 5 Palembang. Menurutnya, pembelajaran tatap muka masih lebih efektif, khususnya bagi siswa kelas 12 yang tengah mempersiapkan diri menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA).
”Sejujurnya adanya kendala ini mengganggu kami, terutama pembelajaran jarak jauh atau dari rumah itu sedikit mengganggu karena ketidakmaksimalan dalam pembelajaran. Sejujurnya kelas 12 butuh bimbingan lebih, butuh bimbingan guru-guru secara tatap muka untuk diajarin langsung,” ujar Naila.
Ia menilai pembelajaran dari rumah terkadang kurang efisien karena tidak semua siswa dapat mengikuti proses pembelajaran secara optimal.
”Karena kan melalui jarak jauh banyak siswa terkadang memanfaatkannya dengan adanya pembelajaran jarak jauh itu tidak efisien menurut saya,” katanya.
Naila mengatakan, sekolah telah melakukan berbagai persiapan menghadapi TKA. Persiapan tersebut antara lain pembagian kelas berdasarkan bidang serta pelaksanaan try out secara rutin.
”Untuk persiapan TKA sudah banyak yang dilakukan, terutama pembagian kelas, try out, pembagian kelas sesuai bidangnya masing-masing, dari kelas A sampai kelas Z itu dilaksanakan setiap minggunya,” ungkapnya.
Menurut Naila, keberadaan TKA sangat membantu siswa dalam mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
”Jujur TKA ini sangat membantu, terutama nilai-nilai yang akan semakin bisa dikejar oleh siswa-siswi yang pasti membutuhkan banyak effort, tapi membantu sekali dalam memasuki jenjang selanjutnya, karena nilai itu dibutuhkan untuk memasuki jenjang selanjutnya,” ujarnya.
Ia menilai siswa harus percaya diri dan tetap giat belajar untuk memperoleh hasil terbaik.
”Pertama kita harus dengan adanya TKA ini kita percaya diri. Iya, harus percaya diri, belajar juga, belajar dengan giat yang pasti untuk mendapatkan hasil yang maksimal yang pastinya untuk prestasi selanjutnya,” katanya.
Naila juga menyatakan setuju apabila TKA terus digunakan sebagai salah satu instrumen untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
”Boleh, sangat setuju mungkin, karena TKA ini termasuk bagaimanapun hasil dari usaha individu. Jadi yang mempunyai bakat ataupun yang ingin serius dalam melaksanakannya pasti dapat hasilnya. Jadi kalaupun ini dilanjutkan juga masih baik kok, masih bisa bermanfaat untuk siswa-siswi yang berusaha selama ini,” tuturnya.
Pesan untuk Adik Kelas
Kepada siswa kelas 10 dan 11 yang saat ini menjalani PJJ, Naila berpesan agar tetap menjaga kesehatan dan mengikuti pembelajaran dengan baik meskipun kegiatan belajar dilakukan dari rumah.
”Yang pasti jaga kesehatan, selalu ikuti pembelajaran, selalu belajar dari rumah meskipun ketidakefisienan, namun kita harus tetap belajar. Bagaimanapun usaha adalah usaha menghasilkan sesuatu,” pesannya.
Selama bersekolah di SMA Negeri 5 Palembang, Naila juga mengaku sekolah memberikan dukungan kepada siswa untuk mengembangkan prestasi akademik maupun nonakademik.
Untuk prestasi pribadi, ia pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Biologi, meski belum berhasil melaju ke tahap berikutnya.
”Untuk prestasi individual saya sendiri saya belum punya kesempatan untuk ikut prestasi. Namun saya berapa kali ikut lomba sebagai OSN Biologi, namun memang belum rezeki untuk lulus ke babak selanjutnya. Tapi saya SMA 5 benar-benar mendukung prestasi anak-anak siswa-siswi SMA-nya,” ujarnya.
Naila juga menyampaikan kesan positif selama menempuh pendidikan di SMA Negeri 5 Palembang.
”Kesan saya baik yang pasti, terima kasih Ibu sudah membantu siswa-siswi untuk terus menghasilkan sesuatu, mendorong siswa-siswi mendapatkan prestasi lebih. Untuk pesannya, teruslah berusaha, teruslah semangat Ibu,” pungkasnya. (MR)



























