Bisnis

Dulu Dianggap Sisa, Kini Limbah Sawit Diburu Perajin

×

Dulu Dianggap Sisa, Kini Limbah Sawit Diburu Perajin

Sebarkan artikel ini
foto : kemenperin.go.id

BERITAPRESS.ID, JAKARTA | Limbah sawit tampaknya sedang menikmati masa-masa terbaiknya.

Jika dulu lebih sering dipandang sebagai produk samping perkebunan yang kerap terabaikan, kini nasibnya perlahan berubah. Di Kalimantan Utara, limbah dan produk samping kelapa sawit mulai diburu para perajin untuk diubah menjadi anyaman dan kertas seni yang memiliki nilai ekonomi.

Bahkan, bahan yang selama ini identik dengan sisa produksi itu kini mendapat panggung tersendiri melalui Workshop Kerajinan Anyaman dan Kertas Seni Berbasis Kelapa Sawit yang digelar Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Samarinda bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan.

Kalau limbah sawit bisa berbicara, mungkin ia akan tersenyum.

Sebab selama lima hari, mulai 22 hingga 26 Juni 2026, puluhan pelaku usaha dari Bulungan, Malinau, Nunukan, dan Tana Tidung berkumpul bukan untuk menyingkirkannya, melainkan mempelajari cara mengubahnya menjadi produk yang bernilai jual.

Sebanyak 30 peserta mengikuti pelatihan yang memadukan teori dan praktik pemanfaatan limbah serta produk samping sawit sebagai bahan baku utama kerajinan. Dari tangan para perajin, bahan yang sebelumnya dianggap tidak memiliki banyak kegunaan itu mulai menjelma menjadi produk kreatif yang berpotensi membuka peluang usaha baru.

Perubahan cara pandang terhadap limbah sawit sejalan dengan upaya pemerintah mendorong industri kerajinan nasional yang lebih inovatif dan berkelanjutan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri kerajinan merupakan sektor yang memiliki potensi besar karena mampu menciptakan nilai tambah tinggi, memperluas kesempatan kerja, serta memperkuat ekonomi daerah.

“Industri kerajinan merupakan sektor yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan karena mampu menciptakan nilai tambah tinggi, memperluas kesempatan kerja, serta memperkuat ekonomi daerah. Pemerintah terus melakukan penguatan ekosistem industri kerajinan melalui peningkatan kapasitas SDM, pengembangan inovasi produk, dan perluasan akses pasar,” ujar Agus dalam keterangannya, Kamis (25/6).

Potensi tersebut tercermin dari kinerja ekspor industri kerajinan Indonesia yang masih menunjukkan tren positif.

Kementerian Perindustrian mencatat nilai ekspor industri kerajinan pada kuartal I 2026 mencapai USD165,27 juta atau sekitar Rp2,97 triliun. Angka itu meningkat 4,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Data tersebut menjadi sinyal bahwa pasar masih memberikan ruang bagi produk-produk kerajinan Indonesia untuk berkembang, termasuk yang berasal dari bahan baku alternatif seperti limbah sawit.

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Emmy Suryandari menegaskan bahwa peningkatan daya saing industri kerajinan nasional membutuhkan pengembangan keterampilan, pemanfaatan bahan baku alternatif, dan penerapan prinsip ekonomi sirkular.

Menurutnya, ketiga hal tersebut menjadi faktor penting dalam menciptakan produk kerajinan yang bernilai tambah tinggi sekaligus berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala BSPJI Samarinda Ransi Pasae mengatakan pemanfaatan limbah dan produk samping kelapa sawit menjadi produk kerajinan merupakan langkah nyata dalam mendukung industri yang berkelanjutan.

Selain membantu mengurangi limbah, pemanfaatan bahan tersebut diharapkan mampu melahirkan produk-produk kreatif unggulan yang dapat memperkuat perekonomian daerah.

Dukungan juga datang dari BPDP yang menilai program semacam ini sejalan dengan pengembangan ekonomi hijau berbasis sawit melalui pemberdayaan UMKM di wilayah perkebunan.

Bagi Kalimantan Utara, peluangnya terbilang terbuka lebar. Selain memiliki kawasan perkebunan yang luas, provinsi ini juga berada di wilayah perbatasan yang strategis dan dekat dengan jalur perdagangan regional.

Karena itu, bukan tidak mungkin limbah sawit yang dulu hanya dipandang sebagai sisa produksi suatu saat berubah menjadi produk kerajinan unggulan yang menembus pasar nasional hingga internasional.

Setidaknya, cerita itu kini mulai ditulis dari Tanjung Selor. Dari tempat tersebut, limbah sawit sedang membuktikan bahwa menjadi “sisa” bukan berarti tidak memiliki masa depan. (***)