Bisnis

Ekonomi Haji Rp194 Triliun, Produk RI Bidik Pasar Arab Saudi

×

Ekonomi Haji Rp194 Triliun, Produk RI Bidik Pasar Arab Saudi

Sebarkan artikel ini
foto : haji.go.id

BERITAPRESS.ID, JAKARTA | Ekonomi haji dan umrah yang nilainya diperkirakan mencapai Rp194 triliun per tahun kini menjadi target besar pemerintah untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi pelaku usaha nasional. Tidak hanya soal pemberangkatan jamaah, sektor ini dinilai menyimpan peluang besar bagi produk Indonesia untuk menembus pasar Arab Saudi.

Selama ini jutaan jamaah Indonesia yang beribadah ke Tanah Suci menciptakan perputaran ekonomi yang sangat besar. Namun, sebagian besar rantai pasok kebutuhan jamaah masih didominasi produk dan layanan dari luar negeri. Kondisi tersebut mendorong pemerintah mempercepat pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umrah agar nilai ekonominya semakin banyak dinikmati pelaku usaha dalam negeri.

Langkah itu menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah yang digelar Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia di Jakarta, Selasa (23/6).

Direktur Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Tri Hidayatno mengatakan potensi ekonomi haji dan umrah harus dioptimalkan melalui keterlibatan yang lebih besar dari produk, jasa, dan pelaku usaha Indonesia.

“Potensi ekonomi haji dan umrah merupakan peluang strategis yang harus dioptimalkan bersama. Melalui pengembangan ekosistem yang terintegrasi, kami ingin memastikan semakin banyak produk, layanan, dan pelaku usaha Indonesia menjadi bagian dari rantai nilai haji dan umrah sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” kata Tri.

Salah satu peluang yang mendapat perhatian besar adalah sektor pangan. Pemerintah menilai kebutuhan konsumsi jamaah Indonesia di Arab Saudi dapat menjadi pintu masuk bagi produk pertanian dan perikanan nasional.

Beras premium Indonesia disebut memiliki peluang besar untuk masuk ke pasar Arab Saudi, seiring tingginya kebutuhan pangan yang terus meningkat setiap musim haji dan umrah.

Perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Yosi, mengatakan peluang tersebut perlu dimanfaatkan melalui penguatan kolaborasi dan investasi.

“Kebutuhan beras premium di Arab Saudi merupakan peluang yang perlu dimanfaatkan secara optimal. Dengan kolaborasi yang kuat dan dukungan investasi, produk pangan Indonesia memiliki peluang menjadi bagian dari rantai pasok haji dan umrah secara berkelanjutan,” ujarnya.

Selain beras, berbagai produk perikanan dan hasil olahan dalam negeri juga dinilai berpotensi memperluas pasar ke Timur Tengah melalui jalur kebutuhan jamaah.

UMKM dan Logistik Jadi Kunci

Pengembangan ekonomi haji tidak hanya menyasar sektor pangan. Pemerintah juga mendorong penguatan Pusat Logistik Berikat (PLB) untuk memperlancar distribusi barang dan memperpendek rantai pasok kebutuhan jamaah, baik di Indonesia maupun Arab Saudi.

Di saat yang sama, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) didorong agar mampu memenuhi standar kualitas dan keamanan produk yang dibutuhkan pasar internasional.

Forum tersebut juga membahas penguatan investasi, pengelolaan DAM haji, hingga peluang kerja sama yang lebih luas dengan mitra strategis di Arab Saudi.

Sebagai tindak lanjut, pemerintah bersama para pemangku kepentingan sepakat memperkuat koordinasi lintas sektor dan mempercepat penyusunan peta jalan pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umrah.

Melalui strategi tersebut, pemerintah berharap semakin banyak produk nasional yang hadir dalam rantai pasok kebutuhan jamaah Indonesia di Tanah Suci. Jika berhasil, ekonomi haji tidak hanya menjadi layanan ibadah, tetapi juga mesin baru yang mampu menggerakkan ekspor, investasi, serta pertumbuhan UMKM nasional. (***)/one