BERITAPRESS, ID FAKFAK/Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) kembali menorehkan prestasi gemilang dengan meraih peringkat Gold Rank pada ajang The Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) 2025.
Penghargaan ini menjadi pengakuan atas komitmen tinggi SKK Migas dalam memperjuangkan isu-isu keberlanjutan (Sustainability) di tengah tugas berat untuk meningkatkan produksi dan lifting minyak dan gas bumi nasional.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyatakan bahwa penghargaan ini memperkuat Rencana Strategis industri hulu migas. “SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) sedang berjuang keras meningkatkan produksi migas. Namun, upaya keberlanjutan tetap menjadi prioritas karena Rencana Strategis kita juga mendukung komitmen Indonesia mencapai target net zero emission,” ujar Djoko Siswanto usai menerima ASRRAT 2025 pada Jumat (30/11/2025).
SKK Migas secara rutin mengikuti ajang ini dan telah meraih Gold Rank sebanyak tujuh kali. Konsistensi ini membuktikan bahwa penanganan isu keberlanjutan, seperti pengurangan emisi karbon, menjadi pekerjaan jangka panjang yang diterjemahkan melalui aksi nyata dan realistis.
Saat ini, industri hulu migas telah menjalankan berbagai inisiatif strategis, antara lain:
Meningkatkan efisiensi energi operasional, Mengurangi emisi metana, Meminimalkan flare gas hingga mencapai target zero flaring, Pengembangan dan implementasi proyek Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS).
Beberapa proyek CCUS skala besar yang sedang berprogres adalah proyek Ubadari di Tangguh dan next Abadi Masela. Selain itu, teknologi CCUS sebenarnya telah lama diterapkan di Indonesia untuk Enhanced Oil Recovery (EOR) dengan injeksi \text{CO}_2 di lapangan Sukowati dan untuk pressure maintenance di lapangan Banyu Urip.
Regulasi mendukung pemanfaatan potensi karbon Indonesia dinilai memiliki potensi penyimpanan karbon yang sangat besar. Untuk memaksimalkan potensi ini, SKK Migas telah proaktif menerbitkan Pedoman Tata Kerja (PTK).
”PTK ini memberikan panduan yang jelas bagi proyek Carbon Capture and Storage (CCS) dan CCUS di sektor hulu migas Indonesia. Dokumen ini menjadi acuan bagi KKKS dalam perencanaan, evaluasi, pelaksanaan, pemantauan, dan pelaporan, sekaligus memberikan kewenangan kepada SKK Migas untuk mengawasi proyek,” tambah Djoko.
Meskipun demikian, Kepala SKK Migas menegaskan bahwa kolaborasi yang kuat antar semua pemangku kepentingan masih diperlukan untuk mewujudkan proyek CCS/CCUS yang nyata, mengingat industri hulu migas tidak dapat berjalan sendiri.
ASRRAT 2025, yang diselenggarakan oleh National Center for Corporate Reporting (NCCR), menilai laporan keberlanjutan yang merangkum kiprah organisasi dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dengan mengacu pada standar global general reporting initiative (GRI). Ajang tahun ini diikuti oleh 82 perusahaan dan organisasi dari Indonesia, Bangladesh, dan Filipina. (IB).










































