NASIONAL

Setelah Kasus Kematian, 17 Gajah Seblat Terekam Utuh

×

Setelah Kasus Kematian, 17 Gajah Seblat Terekam Utuh

Sebarkan artikel ini
foto : kehutanan.go.id

BERITAPRESS.ID, Di tengah rimbunnya Bentang Alam Seblat, kehidupan liar tidak pernah benar-benar berhenti. Hutan ini tetap bergerak, meski tidak selalu terlihat oleh mata manusia. Kali ini, “cerita” itu kembali muncul bukan dari jejak kaki di tanah, melainkan dari panas tubuh yang tertangkap dari udara.

Melalui pemantauan menggunakan drone thermal, Kementerian Kehutanan berhasil mendeteksi satu kelompok Gajah Sumatera berjumlah 17 ekor di kawasan Bentang Alam Seblat. Di dalamnya terdapat 4 anak gajah, yang menjadi tanda penting bahwa proses regenerasi populasi masih terus berlangsung di habitat alami tersebut.

Kalau biasanya gajah di hutan ini dikenal sebagai “ahli menghilang” di balik lebatnya vegetasi, kali ini situasinya berbeda. Teknologi membuat mereka tetap terlihat, meskipun mereka sendiri mungkin sedang menjalani aktivitas seperti biasa tanpa menyadari ada “mata tambahan” dari udara.

Drone thermal bekerja dengan cara membaca jejak panas tubuh makhluk hidup di tengah hutan. Dengan teknologi ini, pemantauan dapat dilakukan tanpa harus masuk terlalu jauh ke dalam kawasan atau mengganggu perilaku alami satwa liar. Ibaratnya, hutan Seblat kini punya sistem pengamatan yang bekerja diam-diam, tapi cukup detail.

“Dengan teknologi ini, kita bisa memantau kelompok gajah tanpa mengganggu perilaku alaminya di hutan,” ujar Kepala BKSDA Bengkulu, Agung Nugroho.

Ia menjelaskan bahwa kelompok yang terpantau ini baru sebagian dari populasi gajah yang ada di Bentang Alam Seblat. Karena itu, pemantauan akan terus dilakukan secara berkala sebagai bagian dari upaya perlindungan jangka panjang.

Namun di balik kabar ini, Bentang Alam Seblat masih menyimpan catatan serius. Kawasan ini sebelumnya tercatat mengalami beberapa kasus kematian gajah liar. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa tekanan terhadap habitat masih berlangsung dan tidak bisa diabaikan.

Artinya, 17 gajah yang terekam ini bukan sekadar angka hasil pemantauan. Mereka adalah bagian dari cerita yang lebih besar tentang bagaimana satwa liar masih berusaha bertahan di tengah perubahan lingkungan yang terus terjadi.

Bentang Alam Seblat sendiri merupakan salah satu kawasan penting bagi Gajah Sumatera di Bengkulu. Wilayah ini menjadi jalur jelajah alami sekaligus ruang hidup utama bagi kelompok-kelompok gajah yang masih tersisa di Sumatera bagian selatan.

Namun, kawasan ini juga tidak lepas dari tantangan. Penyempitan habitat dan potensi konflik antara manusia dan satwa liar masih menjadi isu yang perlu terus diperhatikan. Di beberapa titik sekitar kawasan hutan, interaksi keduanya masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Di sinilah teknologi seperti drone thermal mulai mengambil peran baru. Selain membantu pemantauan lebih akurat, teknologi ini juga mengurangi kebutuhan interaksi langsung manusia dengan satwa liar. Dengan begitu, gangguan terhadap perilaku alami hewan dapat diminimalkan.

Cara kerjanya sederhana tapi efektif: menangkap perbedaan suhu tubuh di tengah gelapnya hutan. Hasilnya, aktivitas gajah yang bergerak di malam maupun siang hari bisa dipetakan lebih jelas, termasuk struktur kelompok dan keberadaan anak-anak gajah.

Meski begitu, para pemerhati konservasi menilai bahwa teknologi hanya bagian dari solusi. Perlindungan habitat, pengendalian konflik, serta pengelolaan kawasan hutan tetap menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan hidup Gajah Sumatera.

Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa pemantauan akan terus diperkuat sebagai bagian dari strategi konservasi berkelanjutan di Bentang Alam Seblat.

Di hutan ini, yang sedang dijaga bukan hanya satwa liar yang terlihat di layar drone, tetapi juga keseimbangan ekosistem yang perlahan berusaha dipertahankan. Dan 17 gajah yang terekam itu menjadi salah satu tanda kecil bahwa kehidupan masih terus berjalan di dalamnya—meski tidak selalu mudah, dan tidak selalu terlihat.