RUMAH Dinas Wali Kota Palembang terlihat riu, tapi bukan karena ada warga ribut atau banjir melanda, melainkan karena Sekretaris Daerah Palembang, Aprizal Hasyim, menerima tamu dari Konsulat Amerika Serikat untuk Sumatera, kamis lalu. Kalau diibaratkan, ini seperti ketika tetangga sebelah datang bukan cuma untuk ngopi, tapi juga membawa peta harta karun.
Pertemuan berlangsung hangat, topiknya? mulai dari investasi, pendidikan, kesehatan, sampai pengembangan teknologi. Dari semua itu, yang paling bikin mata berbinar adalah urusan pendidikan dan beasiswa bagi siswa Palembang.
Konsulat AS bilang, “Kalau Palembang mau, siswa bisa kita undang ke Amerika”.
Wah, siapa yang nggak tergiur? kalau diibaratkan, ini seperti tukang bakso bilang, “Mau nyobain bakso level Internasional gratis, tapi jangan lupa bawa sendok sendiri”.
Aprizal Hasyim tentu saja sumringah, ia dengan santai bilang, visi Palembang di bawah kepemimpinan RDPS adalah Palembang Sehat, Cerdas, Peduli, Belagak, dan Gercep.
Waduh, lima kata itu nggak cuma keren, tapi juga bikin lidah pegal kalau harus diulang-ulang. Tapi yang penting, visi ini menegaskan bahwa Palembang ingin bersaing di level global, termasuk di pendidikan.
Namun, di balik ramah- tamah dan senyum lebar itu, ada sedikit kecemasan yang nggak bisa ditutup-tutupi. Misalnya, banyak sekolah negeri dan swasta di Palembang sedang berusaha mengintegrasikan diri dalam ekosistem pendidikan cerdas.
Ada perpustakaan digital yang siap, tapi kalau cuma dijanjikan di meja pertemuan tanpa tindak lanjut, percuma juga. Seperti pepatah lama bilang “Air tenang menghanyutkan, tapi kalau cuma diam di ember, ya cuma bikin lumut”.
Perwakilan Konsulat, Lisa N. Podolny, melalui stafnya, Rachma Jaurinata, menyampaikan berbagai peluang, beasiswa, pertukaran budaya hingga edukasi.
Bahkan disebutkan tahun depan Amerika Serikat akan merayakan HUT ke-250, dan Palembang bisa ikut ambil bagian. Rasanya seperti dikasih tiket nonton konser Internasional gratis, tapi kursinya masih di langit-langit bioskop.
Joshua G. Gonzalez, Consul for Public Diplomacy menambahkan, Palembang punya potensi besar untuk jadi mitra AS di bidang pendidikan.
Ia menyebutkan UNSRI sudah lebih dulu menjalin hubungan dengan universitas di Amerika, tapi, kalau bicara siswa SMA atau SMP yang masih berharap ikut program pertukaran, semua masih sebatas wacana. Nggak ada salahnya berharap, tapi jangan sampai nanti harapannya cuma jadi judul berita doang.
Oleh sebab itu, pertemuan resmi memang penting, tapi penjajakan di meja pertemuan itu ibarat masak sayur tanpa bumbu, tampak rapi, tapi rasanya hambar.
Pemerintah kota perlu menindaklanjuti dengan strategi jelas misalnya, siapa siswa yang berhak, mekanisme seleksi, anggaran untuk perjalanan, hingga persiapan akademik. Kalau tidak, peluang emas ini cuma jadi catatan manis di buku rapat, tanpa pernah terealisasi.
Kalau digali lebih dalam, sisi humor pun bisa muncul dari realitas sehari-hari, misal, ada siswa yang tiba-tiba mikir. “Wah, belajar ke Amerika, tapi aku belum bisa bikin kopi sendiri, gimana nanti kalau harus tinggal jauh dari ibu? atau guru yang kelakar, kalau muridnya pada balik dari AS, jangan sampai bahasa Indonesia mereka cuma tersisa burger dan fries”.
Perlu motivasi
Jadi peluang Internasional itu ada, tapi suksesnya tergantung kesiapan lokal. Pendidikan bukan cuma soal membayar tiket atau mendapatkan undangan, tapi membentuk karakter, kemampuan adaptasi, dan kerja keras sejak sekarang.
Sekolah-sekolah di Palembang perlu bersiap, siswa perlu motivasi, dan pemerintah harus bikin roadmap konkret. Kalau tidak, pertemuan dengan Konsulat AS hanyalah foto bagus di media, tapi tidak ada perubahan nyata di lapangan.
Palembang ingin menjadi kota yang benar-benar cerdas dan global, atau tetap menjadi kota yang pandai foto bersama diplomat, tapi siswanya cuma tahu Amerika dari film dan burger.
Pendidikan adalah investasi jangka panjang, bukan sekadar jabat tangan hangat dan senyum ramah di meja pertemuan.
Jadi, apakah Palembang akan benar-benar menindaklanjuti janji peluang pendidikan ini, atau sekadar “bertemu di meja, pulang tanpa bukti”?.
Pepatah Sumsel bilang, “Jangan cuma menabur janji, seperti menabur benih di pasir kering”. Semoga benih-benih pendidikan ini bisa tumbuh subur, hingga kelak siswa Palembang bisa benar-benar terbang jauh bukan cuma dalam imajinasi.[***]








































