ACEH Tamiang baru saja kedatangan tamu istimewa, jangan pikirkan boyband atau influencer viral, karena yang datang itu 119 relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Batch II dari Kementerian Kesehatan ini membawa “senjata” yang lebih ampuh, seperti stetoskop, obat-obatan, dan semangat super untuk bantu masyarakat terdampak bencana.
Rombongan relawan ini lengkap banget, bak tim multi-profesi ada 9 dokter spesialis yang siap menghadapi kasus rumit, 16 dokter umum yang siap menangani penyakit sehari-hari, 59 perawat yang tak kenal lelah, 4 tenaga gizi yang memastikan perut pengungsi tetap bahagia, 12 tenaga kesehatan lingkungan yang siap bersih-bersih lokasi pengungsian, dan sisanya tenaga non-kesehatan yang siap membantu segala hal, mulai dari logistik sampai nyelipin senyum ke warga.
Mereka turun ke 15 lokus pelayanan RSUD Aceh Tamiang sebagai markas besar, dan 14 titik layanan di lokasi pengungsian, bahkan satu rumah sakit sudah ramai dengan pasien, ditambah 14 tenda pengungsian yang tiap harinya penuh dengan warga terdampak, ya… bisa dibilang RS sampai tenda ikut panik. Tapi jangan salah, panik ini langsung berubah jadi aksi nyata lantaran semua relawan itu bergerak cepat, saling melengkapi, dan memastikan semua warga tetap mendapat layanan kesehatan optimal.
Tirta Muhammad Rizki, pendamping relawan TCK Batch II, bilang, misi mereka sederhana tapi krusial “Pastikan layanan kesehatan tetap berjalan, baik di fasilitas rujukan maupun titik pengungsian.” Simpel namun menantang, karena setiap hari mereka harus menghadapi berbagai kebutuhan, seperti pengobatan medis dasar, kasus spesialistik, perawatan pasien, pemenuhan gizi, hingga pengendalian kesehatan lingkungan.
Di lapangan, tiap profesi punya jurus masing-masing, contohnya dokter spesialis siap menangani kasus serius, seperti serangan penyakit yang bikin kepala pusing, dokter umum cek pasien yang sakit ringan tetapi tetap butuh perhatian.
Selain itu, perawat lincah mengurus obat, infus, dan pasien, kadang sambil bercanda biar suasana nggak tegang. Tenaga gizi memastikan anak-anak dan lansia tidak kelaparan atau kekurangan nutrisi. Sementara tenaga kesehatan lingkungan siap mengobati lokasi pengungsian dari sampah dan sumber penyakit, bikin lingkungan tetap sehat.
Kemenkes menjelaskan kolaborasi lintas profesi itu kunci sukses respon bencana kesehatan. Setiap relawan, dari dokter sampai tenaga non-kesehatan, punya peran yang tidak bisa digantikan satu sama lain. Jika satu roda berhenti, maka pelayanan di lapangan bisa terganggu.
Makanya, hadirnya 119 relawan ini bukan sekadar angka, tapi simbol kesigapan dan kepedulian pemerintah terhadap masyarakat terdampak bencana, sebab keberadaan relawan TCK juga memberikan pelajaran penting seperti, kesehatan itu prioritas, terutama pascabencana. Jangan menunggu sakit parah baru ke fasilitas kesehatan, selain itu gizi dan lingkungan itu penting, karena tubuh sehat butuh nutrisi cukup dan lingkungan bersih, dan yang terakhir kolaborasi tim lintas profesi bisa menyelamatkan nyawa lebih cepat daripada kerja sendiri-sendiri.
Oleh sebab itu, patut kita renungkan bencana mungkin tak bisa dihindari, tapi kesiapan, kerja sama, dan kepedulian membuat dampaknya bisa diminimalisir, relawan TCK menunjukkan dengan koordinasi yang baik, warga terdampak tetap bisa merasa aman, sehat, dan diperhatikan.
Kemenkes pun terus memantau perkembangan situasi di Aceh Tamiang, memastikan sumber daya kesehatan tersedia sesuai kebutuhan. Dari RSUD hingga tenda pengungsian, relawan bergerak cepat, penuh semangat, dan… kadang bikin pengungsi tersenyum karena gaya mereka yang santai tapi profesional.
Jadi, kehadiran relawan TCK bukan hanya soal angka atau jumlah fasilitas yang dijangkau, akan tetapi soal kehadiran manusia yang peduli, yang bisa menyentuh kesehatan fisik, sekaligus hati masyarakat.
Sehingga dengan kerja tim yang solid, tawa ringan di tengah krisis, dan pelayanan profesional, Aceh Tamiang, kini punya satu hal yang pasti, yaitu 119 pahlawan kesehatan yang siap panik… eh bantu kapan saja!
Kalau suatu hari kita melihat relawan TCK beraksi, jangan cuma bilang kerja bagus, tapi juga ingat solidaritas, kolaborasi, dan kepedulian nyata itu bisa membuat perbedaan besar, bahkan di tengah bencana. (***)


















