BERITAPRESS.ID | Di hulu Sungai Musi, tepatnya di Kabupaten Kepahiang, berdiri sebuah infrastruktur yang bekerja tanpa banyak suara namun berdampak besar: PLTA Musi. Dari aliran air pegunungan inilah listrik hijau berkapasitas 210 megawatt (3×70 MW) dihasilkan, mengalir melintasi jaringan, menerangi rumah, menopang industri, dan menjaga denyut ekonomi Sumatera bagian selatan.
Air yang turun dari kawasan hulu tak sekadar mengisi sungai. Ia menjadi tenaga yang memutar turbin, diolah menjadi daya, lalu didistribusikan ke sistem interkoneksi Sumatera. Saat beban meningkat atau gangguan terjadi di pembangkit lain, PLTA Musi hadir sebagai penyangga, menjaga stabilitas frekuensi dan memastikan cahaya tetap menyala.
Namun di balik mesin dan panel kendali, ada satu kunci utama yang menentukan keberlanjutan pembangkit ini: kualitas sungai. Sampah yang terbawa arus dan sedimentasi yang menumpuk perlahan dapat mengganggu efisiensi turbin. Erosi di hulu bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga ancaman bagi keandalan listrik.
Karena itu, menjaga hulu berarti menjaga energi. Pepohonan yang ditanam, pengelolaan daerah tangkapan air, hingga kesadaran masyarakat untuk merawat sungai menjadi fondasi agar air tetap jernih dan debit tetap stabil. Energi bersih lahir dari ekosistem yang sehat.
PLTA Musi Bengkulu mengajarkan bahwa listrik bukan sekadar angka dalam megawatt. Ia adalah hasil kolaborasi antara teknologi dan alam, antara pembangkit dan hutan, antara arus sungai dan tanggung jawab manusia.
Selama hulu terjaga, selama Sungai Musi tetap bersih, energi akan terus mengalir, menerangi hari ini dan menjaga masa depan. (*)










































