Ngakak

Petani jagung tersenyum lebar, ayam petelur ikut tenang

×

Petani jagung tersenyum lebar, ayam petelur ikut tenang

Sebarkan artikel ini
foto :badanpangannasional

ADA masa ketika jagung di negeri ini bikin banyak orang ikut tegang, lantaran petani cemas soal harga, bahkan peternak ayam keringat dingin mikirin soal pakan, dan konsumen cuma bisa pasrah kalau harga telur mendadak naik kayak lift rusak.. nggak pakai peringatan.

Tapi akhir 2025 lalu, ceritanya agaknya beda, Jagung justru bisa senyum, jadi tokoh utama dengan wajah sumringah. Petani senyum lebar, ayam petelur ikut tenang, dan telur, Alhamdulillah, jadinya bisa rajin keluar tanpa bikin dompet menjerit.

Kalau boleh dirangkum pakai bahasa ala petani, “jagung bahagia, ayam kenyang, telur pun rajin keluar.”

Pembaruan data Badan Pusat Statistik (BPS) per awal Januari 2026 menyebutkan produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen sepanjang 2025 tercatat mencapai 16,11 juta ton.

Sementara itu, kebutuhan nasional jagung pipilan kering (JPK) 14 persen selama 2025 berada dikisaran 15,64 juta ton. Artinya, produksi dalam negeri bukan cuma cukup, tapi lebih. Ada surplus sekitar 470 ribu ton.

Ini bukan klaim mengkalim, namun angka resmi, bahkan di dunia pangan, surplus itu bukan sekadar statistik, sebab adalah bantalan empuk untuk stabilitas harga dan pasokan.

Lebih menarik lagi, berdasarkan proyeksi Neraca Pangan Nasional yang disusun Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama kementerian dan lembaga terkait, stok jagung carry over dari 2025 ke 2026 diperkirakan mencapai 4,5 juta ton.

Jumlah ini setara hampir tiga bulan kebutuhan nasional, dengan kebutuhan bulanan sekitar 1,4 juta ton. Dalam bahasa sederhana, kalau produksi berhenti sejenak, dapur nasional masih tetap ngebul. Inilah salah satu alasan utama pemerintah mengambil keputusan penting, tidak melakukan impor jagung sepanjang 2026, baik untuk pakan, benih, maupun konsumsi rumah tangga.

Oleh karena, Jagung itu kelihatannya sederhana, dampaknya ke mana-mana, terutama ke sektor peternakan unggas.

Bahkan lebih dari separuh biaya produksi telur dan daging ayam berasal dari pakan, dan pakan itu, komposisi terbesarnya adalah jagung. Begitu pasokan jagung aman dan harga terkendali dampaknya biaya pakan jadi lebih stabil, peternak ayam petelur nggak ketar-ketir. Produksi telur lebih konsisten dan harga telur di pasar nggak loncat-loncat.

Oleh sebab itu, ayam memang nggak bisa ngomel, namun kalau pakannya bermasalah, telurnya langsung mogok. Tahun 2025 lalu, ayam-ayam petelur boleh dibilang cukup bahagia. Makan teratur, gizinya cukup, stres berkurang.

Petani tak ditinggal

Pemerintah juga nggak berhenti di data dan klaim swasembada. Ada langkah konkret, melalui Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 216 Tahun 2025, pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) jagung.

HPP jagung pipilan kering ditingkat petani ditetapkan Rp5.500 per kilogram untuk kadar air 18-20 persen. Sementara di gudang Bulog, HPP mencapai Rp6.400 per kilogram untuk kadar air maksimal 14 persen. Artinya jelas, petani tidak dibiarkan panen ramai-ramai lalu harga ambruk rame-rame juga,  ada jaring pengaman dan ada kepastian.

Ditambah lagi, hingga pertengahan November 2025, realisasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung telah mencapai 51,2 ribu ton, disalurkan kepada 3.578 peternak ayam ras petelur di 17 provinsi, dan jagung bergerak, ayam makan, telur jalan.

Meski kondisinya sedang bagus, pekerjaan rumah belum selesai. Produksi besar tanpa tata kelola rapi justru bisa jadi masalah baru.

Pertama, soal distribusi. Jagung tidak boleh menumpuk di satu wilayah, sementara daerah lain kekurangan.
Kedua, soal kualitas. Kadar air dan aflatoksin harus dijaga, supaya jagung yang banyak itu benar-benar layak pakan.
Ketiga, soal hilirisasi. Jagung jangan berhenti jadi pakan saja. Produk turunan harus mulai didorong.

Jadi, ke depannya, kunci ketahanan jagung bukan cuma di ladang, tapi di sistem seperti, data produksi yang akurat dan real time, peran Bulog sebagai penyangga aktif, sinergi petani, peternak, dan industri dan kepastian harga yang konsisten. Dengan sistem yang rapi, jagung tak hanya bikin petani senyum satu musim, tapi senyum panjang bertahun-tahun.

Cerita jagung 2025 sebenarnya bukan  soal panen dan angka, cerita ini tentang keberpihakan, konsistensi, dan kepercayaan pada petani sendiri.

Saat jagung bahagia, ayam kenyang, saat ayam tenang, telur melimpah, dan saat telur stabil, rakyatpun bisa sarapan tanpa cemas.

Terkadang,  stabilitas negara memang tidak lahir dari pidato panjang, tapi dari ladang jagung yang hasilnya benar-benar dijaga, ketika tren bisa konsisten, karena jagung bukan cuma pakan ayam melainkan bisa sebagai  fondasi ketahanan pangan bangsa.(***)/one