Berita

Pesan Sejuk Wabup Fakfak dari Kantor Dewan Adat, Perbedaan Adalah Perekat Sosial yang Tak Tergoyahkan

×

Pesan Sejuk Wabup Fakfak dari Kantor Dewan Adat, Perbedaan Adalah Perekat Sosial yang Tak Tergoyahkan

Sebarkan artikel ini

BEEITAPRESS, ID FAKFAK/Semangat toleransi di “Kota Pala” kembali berpijar. Dewan Adat Mbaham Matta menggelar tradisi Wewowo, sebuah aksi pembagian takjil dan buka puasa bersama yang melibatkan lintas etnis dan agama di Jalan DR Salasa Namudat, Kabupaten Fakfak, Selasa (3/3/2026).

​Kegiatan yang berlangsung di tengah suasana Ramadan 1447 Hijriah ini dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Fakfak, Donatus Nimbitkendik. Kehadiran orang nomor dua di Fakfak tersebut menjadi simbol dukungan penuh pemerintah terhadap penguatan nilai-nilai kebersamaan dalam bingkai adat.

​Acara ini tidak hanya sekadar ritual berbagi makanan, tetapi menjadi ajang berkumpulnya wajah-wajah keberagaman Fakfak. Mulai dari tokoh Suku Besar Mbaham Matta, paguyuban Nusantara, hingga komunitas Arab dan Tionghoa, semuanya melebur dalam tradisi “Wewowo” yang bermakna berbagi dalam kebersamaan.

​Dalam sambutannya, Wakil Bupati Donatus Nimbitkendik memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif Dewan Adat yang terus menghidupkan nilai-nilai luhur di tengah masyarakat.

​“Apa yang kita lakukan hari ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi bentuk nyata solidaritas dan nilai luhur budaya kita yang menjunjung tinggi kebersamaan dan gotong royong,” tegas Donatus.

​Donatus juga menitipkan pesan menyentuh bagi masyarakat yang tidak berpuasa untuk terus mendukung saudara-saudara umat Muslim dengan menjaga kondusivitas wilayah. Ia menekankan bahwa kekuatan utama pembangunan Fakfak terletak pada persaudaraan yang kokoh.

​“Kehadiran pemerintah di sini adalah wujud dukungan terhadap solidaritas sosial. Mari kita terus saling membantu dan menjaga harmoni ini,” tambahnya.

​Kegiatan diakhiri dengan pembagian takjil kepada warga yang melintas dan sesi buka puasa bersama yang penuh kehangatan. Suasana kekeluargaan yang kental ini sekali lagi membuktikan bahwa di Fakfak, perbedaan keyakinan justru menjadi perekat sosial yang tak tergoyahkan. (IB).