Penulis : LUTFI RUMADAY, S.Ag, M.Pd.I, MM.Sip. (Ketua Umum Pertama HMI Cab. Fakfak 1999-2001).
Dalam Rangka Dies Nataalis HMI ke 79:
BERITAPRESS, ID FAKFAK/Perjuangan merupakan suatu usaha secara sungguh-sungguh untuk meraih sesuatu yang diharapkan bersama. Pada masa penjajahan, perjuangan adalah segala usaha yang dilakukan dengan pengorbanan, peperangan dan diplomasi untuk memperoleh atau mencapai kemerdekaan. dalam konteks kekinian Perjuangan haruslah mempunyai tujuan yang nyata untuk kepentinan bersama.
Manusia sebagai makluk social hidup selalu berkelompok dan berkoloni, saling membantu dan menolong untuk mencapai tujuan hidup bersama. maka dari itu sudah menjadi fitrah manusia untuk hidup bersama, berjuang bersama dalam suatu tatanan social masyarakat.
Sedangkan unsure terkecil dalam suatu tatanan masyarakat itu adalah organisasi, didalam organisasi kita belajar, mengajar juga diajar untuk hidup dalam tatanan social masyarakat. Sejarah adalah pelajaran dan pengetahuan tentang perjalanan masa lampau umat manusia mengenai apa yang dikerjakan, dikatakan, dipikirkan oleh manusia masa lampau untuk menjadi cerminan dan pedoman berupa pelajaran, peringatan, kebenaran bagi masa kini dan mendatang untuk mengukuhkan hati manusia.
Kenapa PT di anggap strategis.?
Kedudukan Perguruan Tinggi dan Dunia Kemahasiswaan yg Strategis
Setelah mengalami pertumbuhan perguruan tinggi maupun perkembangan situasi sosial budaya, poitik dan pendidikan maka berdirilah organisasi kemahasiswaan seperti :
Persatuan Mahasiswa Indonesia Djakarta (PMID), himpunan Mahasiswa Djakarta (HMD), masyarakat mahasiswa Bogor (MMB),Perhimpunan Mahasiswa bandung (PMB),Gerakan Mahasiswa Surabaya(GMS), dst. Alasan yang paling mendasar organisasi mahasiswa setiap daerah di bentuk saat itu adalah:
Pertama: sistem yang diterapkan dalam dunia pendidikan umumnya dan PT khususnya adalah sistem pendidikan barat, yang mengarah kepada sekulerisme yang “mendangkalkan agama disetiap aspek kehidupan manusia”.
Kedua : adanya Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) dan Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) di Surakarta dimana kedua organisasi ini dibawah pengaruh Komunis.
Dari kondisi di atas ketika dilihat dari aspek persatuan dan kesatuan sudah barang tentua jauh dari harapan kemerdekaan bangsa Indonesia sehingga tujuan mempertahankan kemerdakaan bangsa Indonesia tidak tercapai, selain itu kondisi saat itu mahasiswa Islam di berbagai organisasi daerah terpecah belah sehingga penegakkan dan pengembangan ajaran islam sangat tipis untuk di laksanakan.
Maka seorang Pemuda dan juga mahasiswa pada saat itu, sekarang juga di sebut sebagai Tokoh Nasional melalui fikiran cerdas dan keberaniannya menghadirkan sebuah organisasi yang di sebut HMI sebagai wadah persatuan mahasiswa Islam.
Dengan HMI, mahasiswa Islam bisa bersatu dan berperan dalam pembangunan bangsa maupun agama karena dapat dan mampu mempersatukan mahasiswa Islam yang terpecah-belah, memperkuat peran mahasiswa Islam dalam perjuangan kemerdekaan, mewujudkan tujuan mempertahankan kemerdekaan dengan nilai-nilai Islam.
Himpunan Mahasiswa Islam Yaitu organisasi mahasiswa yang diprakarsai berdirinya oleh Lafran Pane dan didukung 14 mahasiswa STI lainnya yang didirikan di Yogyakarta tanggal 13 Rabi’ul Awwal 1366 H/ 5 Februari 1947 yang kedudukan pengurus besarnya di Jalan Diponegoro 16 Menteng Jakarta pusat. Pada awal pembentukkannya HMI bertujuan diantaranya antara lain.
Mempertahankan dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diprakasai oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa STI (Sekolah Tinggi Islam), kini UII (Universitas Islam Indonesia) yang masih duduk ditingkat I Sosok Lafran Pane
Pemuda Lafran Pane lahir di Sipirok-Tapanuli Selatan, Sumatera Utara 1922 dari keluarga pujangga. Pemuda Lafran Pane yang tumbuh dalam lingkungan nasionalis-muslim pernah mengenyam pendidikan di Pesantren, Ibtidaiyah, Wusta dan sekolah Muhammadiyah
Faktor Pendukung Berdirinya HMI
Posisi dan arti kota Yogyakarta
Yogyakarta sebagai Ibukota NKRI dan Kota Perjuangan Pusat Gerakan Islam Kota Universitas/ Kota Pelajar Pusat Kebudayaan 1. Terletak di Central of Java
2. Kebutuhan Penghayatan dan Keagamaan Mahasiswa
3. Adanya STI (Sekolah Tinggi Islam), BPT (Balai Perguruan Tinggi), Gajah Mada, STT (Sekolah Tinggi Teknik).
4. Adanya dukungan Presiden STI Prof. Abdul Kahar Muzakir
5. Ummat Islam Indonesia mayoritas Sebagai fenomena baru dalam pergerakan Islam kontemporer sebab berbasis kampus maka. Anggota HMI memperoleh Manfaat ganda yaitu mendapatkan Ilmu Pengetahuan dari PT sebagai kampus pertama dan satunya pendidikan HMI sebagai Kampus Kedua HMI sering disebut sebagai “kampus alternatif kedua” karena HMI jadi tempat kader belajar organisasi, kepemimpinan, dan pengembangan diri di luar kuliah. Banyak kader HMI yang jadi aktivis, politisi, dan pemimpin masyarakat. HMI membentuk karakter dan kapasitas kader dengan nilai-nilai Islam dan nasionalisme.
1. Fase-Fase Perkembangan HMI dalam Perjuangan Bangsa Indonesia
2. Fase konsolidasi spiritual & proses berdirinya HMI (Nov 1946 – 5 feb 1947)
3. Fase berdiri dan Pengokohan (5 feb – 30 nov 1947).
4. Fase Perjuangan Bersenjata (1947 – 1949)
5. Fase pembinaan & pengembangan Organisasi (1950-1963)
6. Fase demokrasi terpimpin & tantangan
7. Fase kebangkitan HMI sebagai pejuang orde baru & pelopor kebangkitan angkatan 1966 (1966-1968)
8. Fase partisipasi HMI dalam Pembangunan (1969 – 1970)
9. Fase pergolakan & Pembaharuan Pemikiran (1970-1994) HMI di fase reformasi (1995-2000) jadi salah satu titik penting!
HMI terlibat aktif dalam perjuangan reformasi, menentang Orde Baru. Banyak kader HMI jadi aktivis pro-demokrasi, tuntutkan reformasi politik. Fase ini HMI buktikan diri sebagai bagian gerakan mahasiswa yang berpengaruh.
Bagaiman seorang kaders HMI untuk bisa mempelajari dan memahami kondisi perjalanan dan berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam di Bumi Indonesia.? Maka sebagai seorang kader dapat mengembangkan dirinya melalui Latihan-latihan Formal yang di laksanakan oleh Komisariat, Cabang maupun Badko. Karean HMI memiliki pelatihan Formal yang berjenjang memiliki Silabus/sistematika yang jelas dan pelatihan itu bantu kader paham sejarah, nilai, dan tujuan HMI.
HMI adalah organisasi kader tertua di Indonesia. Sebagai organisasi perkaderan, HMI memiliki jenjang perkaderan yang dapat ditempuh oleh calon kader dan kader HMI. Ada dua jenis jenjang perkaderan dalam HMI, yaitu formal dan informal. Dalam jenjang formal, ada 3 pembagian pelatihan yang dibagi berdasarkan tujuannya, Maka Dalam Kurikulum pengkaderan melalui Keputusan Kongres ke Kongres, maka Jenjang Pengkaderan Formal di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) terdiri dari beberapa tingkat, yaitu :
Latihan Kader 1
Latihan Kader 1 (LK 1) merupakan gerbang menjadi seorang kader HMI. Syarat utama mengikuti LK 1 adalah islam dan terdaftar sebagai mahasiswa. Siapapun orangnya, jika dia beragama Islam dan terdaftar sebagai mahasiswa di suatu Perguruan Tinggi dapat menjadi kader HMI dengan cara mengikuti LK 1. Tentunya sebagai organisasi kader tertua di Indonesia, HMI memiliki jaringan organisasi hampir di seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia. Malah sekarang sudah sampai ke luar negeri.
Tujuan LK 1 rata-rata sebagai tanggung yaitu “terbinanya kepribadian muslim yang berkualitas akademis, sadar akan fungsi dan peranannya dalam berorganisasi serta hak dan kewajibannya sebagai kader umat dan kader bangsa”.
Ini sangat mendukung peningkatan kualitas kita sebagai mahasiswa. Tentu HMI tidak hanya menekankan peran mahasiswa dalam berorganisasi, namun seorang kader HMI harus memiliki kepribadian muslim dan kualitas akademis yang baik. Serta dalam berorganisasi, seorang kader HMI harus mampu menyadari peran dan fungsinya tak hanya sebagai kader HMI, namun lebih luas sebagai kader umat dan kader bangsa.
Latihan Kader 2
Tidak hanya LK 1, ketika seorang kader HMI telah berproses di HMI selama 6 bulan (terhitung setelah selesai LK 1) dapat mengikuti forum lanjutan dalam jenjang perkaderan HMI yaitu Latihan Kader 2 (LK 2). Nah LK 2 merupakan pelatihan kader HMI tingkat nasional yang diselenggarakan oleh HMI Cabang ataupun bisa dilaksanakan oleh Korkom (Koordinator Komisariat) dengan izin dari cabang asal.
Berbeda dengan LK 1, sebelum terdaftar sebagai peserta LK 2 ada seleksi karya tulis yang mesti dilewati. Karya tulis dalam LK 2 biasanya berupa makalah atau beberapa cabang ada yang memilih jurnal sebagai pra syarat Lk 2. Jadi peserta LK 2 sudah merupakan kader terpilih dari setiap cabang yang diseleksi melalui karya tulis yang dibuatnya. Tujuan LK 2, “terbinanya kader HMI yang mempunyai kemampuan intelektual untuk memetakan peradaban dan memformulasikan gagasan dalam lingkup organisasi”.
Jika kita ulas kembali tujuan LK 2, dapat kita lihat bahwa fokus pelatihan ada pada peningkatan intelektual kader. Maka, dalam forum LK 2 kamu akan banyak mendapat materi, pengalaman, ketegangan baru, serta memelajari bagaimana cara berdialektika yang baik.
Latihan Kader 3
Tidak berhenti sampai LK 2, forum lanjutan tingkat nasional selanjutnya adalah Latihan Kader 3 (LK 3). LK 3 merupakan training formal tertinggi dalam jenjang pendidikan kader HMI. Jika kamu benar-benar berniat untuk menuntaskan jenjang perkaderan, maka susun strategi yang baik agar pada masa menjadi mahasiswa tentunya mampu mencapai titik latihan kader 3 ini. Tentunya, kamu juga perlu memperkuat mental karena setiap naik jenjang perkaderan yang lebih tinggi tantangan yang dihadapi semakin bertambah.
HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) adalah sebuah organisasi kader sudah selayaknya bertanggung jawab untuk membentuk kader yang mempunyai karakter kepemimpinan untuk selanjutnya mampu mengimplementasikan ide-ide serta pemikiran untuk kesejahteraan masyarakat dan mampu berkiprah menjadi pemipin sejati. Dengan mempertahankan konsep Keumatan, Kebangsaan dan ke-Indonesiaan.
Pada tahun 2026 usia Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) 79 tahun sejak berdiri tanggal 5 Februari 1947. Apa yang menjadi motivasi kita sebagai kader HMI untuk memperingati Dies Natalis HMI ke 79.? Maka saya mengajak para kader dan Alumni untuk :
– Bersyukur atas eksistensi HMI dalam perjuangan bangsa, 79 tahun jadi saksi kiprah HMI.
– Mengingat kembali tujuan HMI: tingkatkan kualitas mahasiswa Islam, wujudkan peran dalam pembangunan bangsa dengan nilai-nilai Islam dan nasionalisme. Perkuat komitmen untuk terus berkontribusi pada bangsa dan umat, jadi agen perubahan yang positif. Inspirasi bagi kader muda untuk terus berjuang, berani, dan berintegritas. Sesuai tujuan HMI. Evaluasi diri, dengan tingkatkan kapasitas, jaga integritas sebagai kader HMI yang berkualitas. Wujudkan visi HMI: Insan Akademis, Pencerah dan Pemimpin Umat dan Bangsa.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua, dan mari mempersiapkan diri kita untuk memasuki bulan suci Ramadhan 1447 H, Ramadan adalah waktu untuk membasuh hati yang berdebu dengan air mata tobat, karena Hati yang bersih adalah wadah terbaik untuk menerima keberkahan Ramadan, Maka maafkanlah orang lain sebelum Ramadan tiba, agar bebanmu ringan saat mendaki puncak takwa, Lupakan luka lama, bentangkan sajadah doa. Sambut Ramadhan dengan jiwa yang merdeka. YAKUSA. (IB).










































