BERITAPRESS.ID, REJANG LEBONG | Di lereng-lereng hijau Rejang Lebong, pagi tak hanya datang bersama kabut tipis dan suara alam. Ia juga membawa harapan—harapan yang ditanam satu per satu di tanah hulu Sungai Musi.
Sebanyak 3.000 pohon kini tumbuh di kawasan tangkapan air (catchment area) PLTA Musi, Kabupaten Rejang Lebong. Gerakan ini bukan sekadar seremoni penghijauan, melainkan langkah nyata menjaga denyut energi bersih yang mengalir dari sungai menuju jutaan rumah di Sumatera bagian selatan.
Di balik turbin-turbin pembangkit, ada hulu yang harus dirawat. Pepohonan yang ditanam berfungsi menahan erosi, menyerap air hujan, dan menjaga kualitas debit sungai agar tetap stabil. Akar-akar yang mengikat tanah itu menjadi benteng alami dari sedimentasi, ancaman senyap yang dapat mengurangi efisiensi pembangkit listrik tenaga air.
Namun manfaatnya tak berhenti pada aspek teknis. Bagi masyarakat sekitar, pohon-pohon tersebut adalah investasi hijau. Di masa depan, ia bisa memberi nilai ekonomi, baik melalui hasil hutan non-kayu, udara yang lebih bersih, hingga lingkungan yang lebih lestari untuk pertanian dan kehidupan sehari-hari.
Menjaga hulu berarti menjaga cahaya. Sebab listrik yang andal lahir dari alam yang dirawat bersama. Dari tanah yang ditanami, dari air yang dijaga kejernihannya, hingga dari kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat.
Dari hulu yang terjaga, energi bersih akan terus menyala menerangi bukan hanya rumah dan kota, tetapi juga kesadaran bahwa masa depan bergantung pada apa yang kita tanam hari ini. (*)










































