SEPAK BOLA itu seperti pisang goreng, maka FIFA Series 2026™️ yang akan digelar di Indonesia bukan cuma pisang goreng biasa. Ini pisang goreng premium, yang krispi di luar, lembut di dalam, dan siap bikin Dunia Internasional tergoda untuk mampir ke dapur kita.
Ya, Indonesia resmi jadi tuan rumah ajang FIFA Series 2026™, dan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, langsung naik panggung memberikan sambutan penuh rasa syukur.
Namun dibalik tepuk tangan dan Alhamdulillah itu, ada sisi lain yang kalau ditelisik lebih dalam, bikin kita tersenyum sambil ngangguk-angguk ini bukan sekadar soal bola, tapi juga soal diplomasi dan soft power.
Coba misalnya, negara kita, yang biasa dikenal karena nasi goreng, wayang, dan ramahnya masyarakat, tiba-tiba jadi magnet perhatian dunia sepak bola.
Presiden FIFA Gianni Infantino bakal hadir langsung di Kongres AFF di Bangkok, dan ini seperti tetangga sebelah yang datang ke pesta ulang tahun rumahmu sambil bawa kue cokelat import.
Kehadirannya, bukan cuma sekadar formalitas, ini sinyal bahwa FIFA melihat Indonesia sebagai pemain serius di panggung global. Kalau pepatah bilang, “Dimana ada gula, di situ ada semut”. maka FIFA jelas melihat gula Indonesia bukan cuma karena stadionnya, tapi karena antusiasme suporter dan kesiapan federasinya.
Sekarang mari kita bongkar ini dari sisi strategi, bagi Indonesia, menjadi tuan rumah turnamen berskala Internasional bukan cuma soal membuat Timnas latihan tanding ekstra atau selfie bareng tim luar negeri.
Lebih dari itu, ini kesempatan menunjukkan kapabilitas diplomasi olahraga. Kita tahu, di dunia ini, soft power itu ibarat sambal terasi sedikit tapi bisa bikin rasa dan reputasi membumbung.
Dengan FIFA Series™, Indonesia bisa tunjukan “Eh, kita nggak cuma jago membuat sate dan rendang, tapi juga bisa jadi tuan rumah event berskala global dengan rapi”.
Dan jangan salah, ini bukan urusan gampang, sebab mengelola turnamen FIFA itu seperti menjaga anak ayam di kandang harus telaten, harus siap kalau ada yang lari, dan jangan sampai ada yang kepanasan. Infrastruktur, keamanan, transportasi, akomodasi, sampai protokol kesehatan harus on point.
Kalau sampai salah langkah, bisa-bisa reputasi Indonesia di mata FIFA seperti kue yang gosong luar terlihat oke, tapi dalemnya bikin cemas. Oleh sebab itu, penunjukan ini sebenarnya adalah amanah besar sekaligus tantangan terselubung.
Nah, dibalik semua formalitas dan tekanan, ada pesan moral yang bisa kita serap sambil senyum-senyum kuda. Diplomasi olahraga itu menunjukkan kalau kadang strategi terbaik nggak harus lewat politik keras atau pidato panjang lebar.
Kadang cukup lewat bola, suporter yang rameh bersemangat menyaksikan aksi Tim Nasional, bahkan penyelenggaraan event ikut tertib, kita bisa bikin negara lain respect sama kita. Ingatlah ada pepatah mengatakan “Air tenang menghanyutkan”.
Ternyata, dalam dunia sepak bola Internasional, bola yang rapi dan suporter yang bersemangat bisa bikin negara kita tenang tapi dihormati.
Bola dunia
Kalau diibaratkan, Indonesia lagi main catur sambil jongkok di atas bola. Setiap langkah dari undangan FIFA sampai persiapan stadion adalah gerakan strategi yang bisa meningkatkan reputasi, membuka peluang kerja sama Internasional, dan menambah pengalaman timnas menghadapi lawan dari berbagai konfederasi. Ini bukan sekadar menang kalah di lapangan, tapi menang di mata dunia.
Tapi, tentu saja, semua itu butuh konsistensi. Kalau kita asal-asalan, FIFA bisa ilfeel dan reputasi kita bisa seperti kue bolu yang bantat niatnya manis, tapi hasilnya mengecewakan.
oleh sebab itu, dukungan semua pihak dari pemerintah, suporter, hingga pelatih harus solid seperti rendang yang dimasak minimal 3 jam lama, sabar, tapi hasilnya bikin lidah bergoyang.
FIFA Series 2026™️ bukan cuma soal bola yang ditendang ke gawang, ini soal Indonesia yang menggunakan olahraga sebagai alat diplomasi.
Disini kita bisa belajar strategi tidak selalu harus formal dan kaku, kadang cukup dengan menggelar turnamen, menampilkan keseriusan, dan menunjukkan keramahan kita ke dunia, kita sudah memegang kartu diplomasi yang kuat.
Jadi, ketika nanti kick-off FIFA Series™️ dimulai, jangan hanya bersorak untuk gol Timnas, lihat juga ini sebagai pertunjukan strategi Nasional, panggung diplomasi, dan laboratorium soft power.
Apalagi di dunia ini, bukan hanya negara besar yang punya suara, tapi juga negara yang bisa memadukan bola, budaya, dan strategi. Dan Indonesia, dengan segala banyolan dan krunya yang kocak, sedang menulis bab baru di buku sejarah sepak bola Internasional.
Siap-siap, bola di lapangan mungkin bulat, tapi langkah Indonesia dalam diplomasi olahraga bisa sejajar dengan bola dunia!.[***]






































