BERITAPRESS.ID, JAKARTA| Di tengah percepatan digitalisasi dan otomatisasi, Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menegaskan, manusia tetap menjadi pusat dunia kerja, bukan mesin. Pernyataan ini ia sampaikan saat kuliah umum di Politeknik Ketenagakerjaan (Polteknaker), belum lama ini.
Afriansyah menyoroti tren Society 5.0, di mana kecerdasan buatan, big data, dan sistem digital semakin mendominasi aktivitas kerja. Ia memperingatkan, meski teknologi memudahkan pekerjaan, dunia kerja yang adil dan sehat hanya bisa tercipta jika karakter, etika kerja, dan komunikasi manusia tetap dikedepankan.
“Teknologi bisa dipelajari, tetapi karakter harus dibentuk. Dunia kerja bukan milik robot, melainkan manusia yang adaptif dan peduli,” ujar Afriansyah.
Kuliah umum ini dihadiri Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kuntadi, Direktur Polteknaker Yoki Yulizar, serta ratusan mahasiswa dan tenaga pengajar.
Selain itu, sejumlah perusahaan dan institusi ikut menandatangani nota kesepahaman dengan Polteknaker untuk mendukung pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
Dalam acara tersebut, Polteknaker meluncurkan sejumlah alat digital inovatif, seperti Sistem Kalkulator Lembur (SiKALEM), Sistem Kalkulator Jaminan Sosial dan Tapera (KJP), serta Sistem Kalkulator Simulasi PHK (Si KaSep).
Afriansyah menyebutkan, inisiatif ini membantu pekerja memahami hak-hak mereka, sambil menekankan pendekatan yang berpusat pada manusia.
Afriansyah menekankan transformasi digital tanpa perhatian pada aspek manusia berpotensi menimbulkan stres kerja, alienasi, dan ketidakadilan.
Menurutnya, pekerja yang sehat secara mental dan fisik akan lebih produktif dan kreatif dalam memanfaatkan teknologi. Pendekatan ini juga membentuk budaya kerja yang peduli, inovatif, dan inklusif.
Pemerintah dan institusi pendidikan bekerja sama untuk membangun sistem pembelajaran dan kebijakan yang menempatkan manusia sebagai pusat pengembangan.
Contohnya, program pendidikan dan pelatihan Polteknaker yang menggabungkan keterampilan teknis dengan pengembangan karakter, etika kerja, dan kemampuan komunikasi.
Afriansyah menegaskan meski digitalisasi tidak bisa dihindari, manusia tetap memiliki peran kunci.
“Masa depan dunia kerja harus adil, sehat, dan bermakna bagi manusia. Robot boleh membantu, tetapi yang mengendalikan adalah kita,” tuturnya.
Dengan strategi ini, dunia kerja di Indonesia diharapkan tidak hanya efisien secara teknologi, tetapi juga manusiawi dan berkelanjutan.
Pendekatan berpusat pada manusia menjadi kunci agar digitalisasi membawa manfaat nyata bagi pekerja, perusahaan, dan masyarakat luas. (***)/one










































