NASIONAL

BMKG Peringatan Dini Cuaca Jabodetabek Diuji di Zona Banjir

×

BMKG Peringatan Dini Cuaca Jabodetabek Diuji di Zona Banjir

Sebarkan artikel ini

BERITAPRESS.ID, JAKARTA | BMKG peringatan dini cuaca Jabodetabek kini memasuki fase uji presisi di salah satu wilayah paling rentan banjir di Indonesia. Di tengah meningkatnya frekuensi hujan ekstrem dan banjir bandang sejak akhir 2025, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memilih menggeser fokus: dari sekadar prakiraan cuaca menjadi prediksi berbasis dampak yang dapat langsung diterjemahkan menjadi tindakan.

Melansir laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, lembaga tersebut menggandeng Institut Teknologi Bandung dalam pengembangan model cuaca resolusi tinggi. Tahap awal implementasi difokuskan di Jabodetabek kawasan dengan kombinasi risiko kiriman air hulu, limpasan sungai, dan banjir pesisir.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan pendekatan baru ini dirancang untuk menjawab kebutuhan keputusan cepat di tingkat lokal.

“Kita membutuhkan sistem peringatan dini yang semakin presisi hingga skala lokal. Informasi yang kami keluarkan harus menjawab kebutuhan pengambilan keputusan secara cepat, baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat,” ujarnya.

Berbeda dengan pola konvensional yang berhenti pada informasi intensitas hujan, skema baru ini mengintegrasikan model meteorologi dengan model hidrologi dan hidrodinamika. Artinya, sistem tidak hanya memproyeksikan hujan lebat, tetapi juga menghitung potensi genangan, debit sungai, hingga risiko rob.

Pendekatan ini dikenal sebagai impact-based forecast prakiraan yang menjelaskan “apa dampaknya” bagi warga, bukan sekadar “berapa milimeter hujan turun”.

Menurut Kepala Pusat Analisis dan Penerapan Geospasial ITB, Wedyanto, kolaborasi ini mengusung prinsip early warning, early action.

“Early warning dan zero victim menjadi tujuan kita bersama. Peringatan dini harus bermuara pada aksi nyata untuk menyelamatkan masyarakat,” katanya.

Pilihan wilayah bukan tanpa alasan. Kawasan metropolitan ini menghadapi kompleksitas risiko berlapis urbanisasi padat, penurunan muka tanah, aliran sungai lintas provinsi, serta ancaman banjir pesisir. Dalam konteks itu, BMKG peringatan dini cuaca Jabodetabek diuji sebagai model integratif menghubungkan observasi atmosfer, data geospasial, hingga respons kebijakan.

BMKG menekankan efektivitas sistem tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga rantai informasi yang utuh: observasi, pemodelan, diseminasi, hingga respons cepat di lapangan. Tanpa respons, peringatan dini kehilangan makna.

Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari strategi research to operation mempercepat transisi hasil riset akademik menjadi sistem operasional nasional. Jika berhasil di Jabodetabek, model serupa akan direplikasi ke wilayah rawan lain di Indonesia.

Di era cuaca ekstrem yang semakin tidak terduga, langkah ini menjadi penanda perubahan pendekatan.

Bukan lagi sekadar memberi tahu bahwa hujan akan turun, tetapi memastikan setiap peringatan berubah menjadi keputusan dan setiap keputusan menyelamatkan nyawa.

Dengan kata lain, BMKG peringatan dini cuaca Jabodetabek bukan hanya soal akurasi data. Ini tentang menguji apakah sains bisa bergerak cukup cepat sebelum air datang lebih dulu. (***)