EKONOMI Indonesia kayak pemain Mobile Legends yang akhirnya dapat emblem level tinggi, dulu fokusnya nge-farm bahan mentah, sekarang mulai rajin nge-build item. Itulah kondisi investasi asing kita, makin banyak yang masuk ke sektor manufaktur logam, kimia, mesin, elektronik alias lane baru yang lebih menjanjikan.
Data BRI Danareksa bilang, PMA ke sektor manufaktur naik dari 35,3% (2018) jadi 59,6% pada 2025. Ibaratnya warung bakso yang awalnya sepi, tiba-tiba viral karena resepnya makin mantap. bahkan ekosistem industri makin matang, regulasi makin jelas, dan hilirisasi bikin investor yakin Indonesia bukan cuma gudang bahan mentah, tapi tempat produksi kelas dunia.
Inilah plot twist yang tak disangka-sangka, PMA Rp1 triliun di luar Jawa menghasilkan PMTB Rp1,76 triliun-12 kali lipat lebih besar dibanding di Jawa.
Pepatah bilang, “di mana bumi dipijak, di situ peluang berjajak”, dan tampaknya bumi luar Jawa sedang memijakkan peluang besar bagi industrialisasi.
Efeknya bukan cuma pabrik berdiri, tapi multiplier ekonomi merambat, lapangan kerja, UMKM rantai pasok, kota industri baru, sampai peningkatan kesejahteraan. Manufaktur itu seperti motor gede, sekali gas, getaran positifnya kerasa sampai jauh.
Investor masih menunggu kepastian permintaan global, stabilitas kebijakan, dan insentif yang nggak PHP. Pemerintah pun mempersiapkan insentif industri, penyederhanaan regulasi, serta dorongan penguatan SDM agar tenaga kerja kita makin kompetitif.
Ada pertanyaan, apa strategi supaya Indonesia tetap jadi magnet investasi?, kuncinya yakni terus membangun klaster industri, memperkuat rantai pasok, meningkatkan skill tenaga kerja, dan fokus pada produk bernilai tambah tinggi.
Kalau konsisten, Indonesia bisa naik kelas jadi pusat manufaktur Asia yang tidak cuma ikut arus, tapi memimpin.
Ceritanya investor asing datang ke warung industri Indonesia. Dulu cuma ada menu bahan mentah, singkong rebus. Sekarang sudah berubah jadi restoran dengan menu lengkap mulai dari produk kimia, elektronik, sampai komponen mesin. Investor lihat menu baru, langsung pesen banyak. Siapa sih yang nggak tergoda?
Arah investasi 2026 yang dipimpin manufaktur jelas tanda Indonesia naik kelas, tentu ini bukan sekadar tren sesaat, tapi fondasi masa depan ekonomi. Yang penting, momentum ini jangan sampai kendor. Jika ekosistem industri terus dirawat, Indonesia siap jadi powerhouse manufaktur Asia.
Oleh sebab itu, kita sedang berada di jalur yang benar, tinggal bagaimana memastikan jalur ini tetap lapang, cepat, dan konsisten. Dengan kolaborasi, kebijakan tepat, dan pembangunan merata, masa depan industri Indonesia bukan hanya cerah tapi gemilang.[***]










































