Ngakak

Anak di Kebun Sawit? Kok Bisa! Siapa Nyuruh Mereka?

×

Anak di Kebun Sawit? Kok Bisa! Siapa Nyuruh Mereka?

Sebarkan artikel ini

ISU pekerja anak di kebun sawit masih kadang muncul kayak rumput liar, sudah dicabut tumbuh lagi. Ada saja anak-anak yang harusnya berada di sekolah, malah ikut orang tua ke kebun, kayak dianggap asisten kecil untuk metik brondolan, padahal kalau dipikir-pikir, mereka ini seharusnya metik ilmu, bukan sawit.

Inilah kenapa Pemkab. Muba bergerak cepat dengan penanggulangan pekerja anak Muba, biar masa depan anak-anak tak lari ke hutan gara-gara kebanyakan ikut ke kebun.

Oleh karena itu,  ketika Wakil Bupati Muba, Kyai Abdur Rohman Husen, ngomong, “Anak itu tempatnya di ruang belajar, bukan di kebun sawit”. hal itu rasanya langsung kayak ditepuk  oleh semesta.
“Ya… Kyai! kami setuju!, anak itu bukan tenaga kerja cadangan!”

Acara Rakor Penanggulangan Pekerja Anak ini bak kumpul keluarga besar bedo bedawai tapi fokusnyo satu, gimano caronyo anak-anak Muba gak lagi diseret-seret ke kebun sawit. Ada PAACLA, ILO, DPPPA, sampe forum anak. Lengkap. Tinggal bawa pempek, kurang lebih hajatan lah itu.

Perwakilan ILO ngomong,
“Ini isu global”
Dalam hati kita mikir “Oo…, jadi nasib anak yang metik brondolan itu ternyata trending se-dunia jugo?”

Kyai cerita dengan polos tapi nyelekit “Masih ado anak yang nyadap karet, ado yang pungut brondolan. Ini jelas bahayo. Tumbuh kembang mereka bisa terganggu”

Kalau dipikirkan, pungut brondolan itu bukan cuma soal capek, tapi macam latihan life skill yang tidak ada di kurikulum, belari ngejar brondolan, ngindari duri, ngecek semut, dan nyimak suara orang tua:
“Ayo cepat, nak, masih banyak ni!”

Padahal harusnya latihan mereka itu nulis huruf sambung, ngapalin perkalian, dan ngerjain PR (yang kadang lebih horror dari brondolan).

Ibarat Pepatah “Kalau mau besok ada harapan, hari Ini jangan eksploitasi”

Rakor ini bukan acara seremonial yang selesai tinggal pulang makan siang. Ini semacam rapat keluarga besar yang akhirnya sepakat anak bukan alat produksi,sekolah bukan pilihan, tapi kewajiban, masa depan bukan buat ditukar dengan satu karung brondolan per hari.

PAACLA bilang, “Mari kita bersihkan rantai pasok sawit dari pekerja anak”
Kyai bilang, “Anak itu amanah, bukan karyawan”
ILO bilang, “Ini isu dunia”
Kita bilang, “Setuju, bu, setuju, pak… setuju semua!”

Oleh karena Pemkab Muba mau mulai dari akar masalahnya pemetaan risiko anak putus sekolah, penguatan perlindungan anak berbasis komunitas,edukasi keluarga dan perusahaan diminta mulai bikin “kebun ramah anak”

Bayangkan nanti ada gapura bertuliskan “Selamat Datang di Perkebunan Sawit Tanpa Pekerja Anak. Yang di bawah 18? Silakan ke sekolah!”

Jauhkan anak dari pekerjaan berbahaya, karena masa kecil itu cuma sekali. Sawit bisa dipanen tiap bulan, tapi masa depan anak tidak ada panen susulan.

Rakor ini pesannya sederhana tapi nusuk “biarkan anak-anak belajar, biarkan mereka tumbuh. Jangan biarkan mereka kehilangan masa kecil cuma karena tuntutan ekonomi”

Kita semua mungkin tidak bisa mengganti beratnya hidup orang tua. Tapi kita bisa memastikan satu hal anak-anak Muba harus memanen cita-cita, bukan brondolan sawit.

Oleh karena itu, acara ditutup dengan tanda tangan komitmen bersama.
Tanda tangan yang bukan sekadar goresan tinta, tapi janji “Tidak ada lagi pekerja anak di sektor pertanian Muba”

Kalau kata pepatah Sumsel versi upgrade “Sawit boleh tumbuh tinggi, tapi mimpi anak harus lebih tinggi lagi”.[***]