Scroll untuk baca artikel
Pagaralam

JATMAN PCNU Pagaralam Rutin Gelar Mujahadah, Wirid, Zikir, dan Tahlil

×

JATMAN PCNU Pagaralam Rutin Gelar Mujahadah, Wirid, Zikir, dan Tahlil

Sebarkan artikel ini

BERITAPRESS.ID, PAGARALAM | Lembaga Jami’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) di lingkungan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pagaralam terus mengaktifkan kegiatan keagamaan melalui mujahadah, wirid, zikir, dan tahlil yang dilaksanakan secara berjamaah oleh pengurus Idarah Syu’biyah Kota Pagaralam.

Kegiatan rutin tersebut dipimpin langsung oleh Rais Idarah Syu’biyah Kota Pagaralam, Kyai Ibnu Kasitr, bersama Mudir dan Sekretaris Idarah Syu’biyah, Ust. Ibnu Hamzah, serta Khalifah Ust. Rifki. Kegiatan berlangsung di Surau Suluk Baiturobbi, Kota Pagaralam.

Suluk yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali ini menjadi salah satu ikhtiar spiritual untuk memohon ampunan atas dosa dan kekhilafan. Kegiatan diisi dengan istigfar, zikir khafi (zikir dalam hati), serta doa bersama.

Sebagai salah satu tarekat mu’tabarah di lingkungan NU, Tarekat Naqsabandiyah merupakan ajaran tasawuf yang berlandaskan kepatuhan terhadap syariat Islam dan berpegang pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

Tarekat Naqsabandiyah dikenal sebagai salah satu aliran tasawuf Sunni yang memiliki pengaruh luas di dunia Islam. Ajarannya menekankan ketaatan terhadap syariat Islam serta praktik zikir dalam hati atau zikir khafi.

Tarekat ini dikaitkan dengan Syekh Bahauddin al-Bukhari an-Naqsabandi (717–791 H/1318–1389 M), yang mengembangkan ajarannya di wilayah Bukhara, Uzbekistan, pada abad ke-14. Silsilah spiritual tarekat ini tersambung kepada Nabi Muhammad SAW melalui sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq RA, berbeda dengan sejumlah tarekat lain yang menghubungkan silsilahnya melalui Ali bin Abi Thalib RA.

Pada abad ke-19, muncul cabang penting, yakni Naqsabandiyah Khalidiyah, yang dipelopori oleh Maulana Khalid al-Baghdadi dari wilayah Kurdistan. Tarekat ini kemudian berkembang ke Nusantara, termasuk Minangkabau dan sejumlah daerah lainnya, melalui jaringan ulama yang menimba ilmu di Makkah.

Dalam praktiknya, Tarekat Naqsabandiyah memiliki sejumlah prinsip ajaran utama, antara lain ketaatan terhadap syariat, zikir khafi atau zikir dalam hati, serta prinsip khalwat dar anjuman, yakni menjaga kedekatan spiritual kepada Allah SWT di tengah aktivitas kehidupan bermasyarakat.

Selain itu, terdapat pula ajaran mengenai tobat, uzlah atau menyendiri sejenak untuk berkontemplasi, zuhud, takwa, qana’ah atau menerima ketentuan Allah SWT, serta taslim atau berserah diri. Konsep rabithah, yakni ikatan spiritual dengan guru pembimbing atau mursyid, juga dikenal dalam praktik tarekat ini.

JATMAN PCNU Pagaralam melalui pengamalan Tarekat Naqsabandiyah terus berkembang dengan melibatkan banyak jamaah dan ikhwan. Lembaga ini menjadi wadah berkumpulnya jamaah untuk memperkuat kehidupan spiritual dan meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT, tanpa meninggalkan aktivitas sehari-hari serta kepedulian terhadap sesama manusia.

Diharapkan, keberadaan Tarekat Naqsabandiyah yang terhimpun dalam JATMAN Nahdlatul Ulama dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat melalui amaliah spiritual, zikir, dan doa, serta membawa keberkahan bagi Kota Pagaralam dalam bingkai Ahlussunnah wal Jamaah. (09/PA)