SEANDAINYA kamu jalan-jalan ke pelosok Musi Banyuasin, jangan heran kalau suatu hari nanti kamu lihat anak muda membawa helm, sarung tangan, dan… semangat level dewa, sambil bilang, “Tenang, Pak, sumur rakyat aman di tangan saya!” Iya, betul. Mereka ini bukan superhero biasa, tapi “Local Hero Migas” yang bakal jadi garda terdepan pengelolaan 22.381 sumur minyak rakyat sebentar lagi bakal legal dan produktif.
Selama ini sumur rakyat di Muba itu ibarat warung kopi pinggir jalan ada, rame, tapi kadang susah diatur. Legal atau ilegal, aman atau rawan tumpah minyak, semua campur aduk. Nah, kini Pemkab Muba lewat Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) bikin gebrakan yang bikin migas nasional tepuk tangan mengusulkan regulasi khusus agar lulusan Cepu asal Muba jadi prioritas di pengelolaan sumur rakyat dan perusahaan migas lokal.
Jangan salah sangka, ini bukan sekadar formalitas birokrasi yang bikin pusing. Ini tentang kesempatan bagi anak daerah sendiri. Lulusan Cepu sudah dilatih keras, bersertifikasi, dan siap turun ke lapangan.
Mereka seperti versi migas dari Iron Man, tapi tanpa baju besi, cukup dengan sertifikat kompetensi dan semangat patriotik yang membara. Mereka tahu medan, paham teknik, dan yang penting… ngerti kearifan lokal. Jadi kalau ada sumur yang nakal, mereka nggak cuma benerin pipa, tapi juga bisa negosiasi sama tetangga yang protes karena bau minyak.
Menurut Kadisnakertrans Muba, Herryandi Sinulingga, tujuan utama program ini jelas, anak Muba nggak cuma jadi penonton di daerah sendiri. “Lulusan Cepu adalah ‘Local Hero’ yang punya kompetensi teknis sekaligus pemahaman sosiologis medan. Dengan regulasi penempatan yang tepat, kita memastikan minyak rakyat dikelola profesional dan zero accident, sekaligus meminimalisir potensi kesenjangan sosial,” katanya tegas sambil melempar senyum yang bikin kita percaya banget sama visi ini.
Ini nggak sekadar janji muluk, ada beberapa langkah konkret yang bikin hati hangat dan kepala angguk-angguk Mandatory Local Content, minimal 70% tenaga teknis di sumur rakyat harus lulusan lokal bersertifikat. Jadi jangan harap orang luar datang terus ambil job sambil bilang, “Ah, saya lebih pinter, deh.“
Bridging Internship Program, program magang terstruktur di Pertamina, Medco, dan subkontraktor lokal. Jadi lulusan baru nggak langsung dilempar ke lapangan, tapi dididik dulu supaya nggak salah sambung pipa.
HSE Supervision, alumni Cepu bakal jadi pengawas keselamatan dan lingkungan, anak Muba yang dulunya cuma tahu sumur dari cerita orang tua, sekarang pegang tanggung jawab keselamatan ratusan pekerja.
Kemandirian energi
Sekretaris SKK Migas, Luky A. Yusgiantoro, Ph.D., sampai memberi apresiasi tinggi. Menurut Luky, sinkronisasi antara kebutuhan industri dan ketersediaan SDM lokal bersertifikat adalah kunci stabilitas operasional. Jadi bukan hanya soal kerja, tapi soal membangun budaya profesionalisme dan kemandirian energi.
Yang lucu tapi juga menyentuh hati, misalnya seorang lulusan Cepu pulang kampung, disambut tetangga seperti pahlawan lokal. Ada yang minta selfie, ada yang tanya, “Eh, bisa nggak bantu sumur tetangga yang bocor itu?.” Anak muda ini nggak cuma bawa keahlian, tapi juga dampak sosial nyata, penghasilan keluarga meningkat, desa lebih aman, dan yang paling penting, rasa bangga lokal meningkat drastis.
Oleh sebab itu, keberhasilan suatu daerah bukan cuma ditentukan dari kekayaan alamnya, tapi dari keberanian dan kesiapan anak-anak daerah sendiri untuk mengelolanya. Kita bisa punya sumur berjuta-juta barel, tapi kalau anak lokal nggak dilibatkan, itu cuma angka di kertas. Sekarang, Muba membalikkan logika itu, anak lokal berkompeten sama dengan sumur aman dan masyarakat sejahtera.
Tentu, jalan ke depan nggak selalu mulus. Tantangan seperti risiko operasional, standar keselamatan tinggi, dan persaingan industri masih ada. Tapi dengan regulasi yang jelas dan dukungan SKK Migas, anak-anak Muba punya peluang nyata untuk jadi penggerak perubahan, bukan sekadar penonton drama migas nasional.
Kalau kamu lewat Muba dan melihat seorang pemuda membawa helm sambil tersenyum percaya diri di sumur rakyat, ingat satu hal, itu bukan sekadar kerja, tetapi simbol harapan, kemandirian, dan lokal heroisme yang membumi, dibalik tawa dan lelucon sehari-hari, mereka sedang menulis bab baru sejarah energi Muba dengan tinta minyak, tapi hati mereka tetap murni untuk daerah sendiri. (***)










































