FLU babi lingkungan kotor, ya dua masalah ini nggak bisa dipisahkan juga, dan dua kata ini menjadi kata sepertinya horor, apalagi kalau digabung. Kayak mi instan dicampur es krim, bisa kenyang, tapi bisa juga jadi penyakit bahkan malah bisa masuk UGD.
Itulah kira-kira tragedi yang menimpa warga Dusun Datai, pedalaman Riau baru -baru ini, sampai lima anak meninggal hanya gara-gara kombinasi virus dan habitat yang… yah, katakanlah kurang ramah kesehatan.
Begini, ceritanya, di dusun itu, rumahnya bisa jadi padat, ventilasinya seret, asap dapur mengepul kayak konser metal, dan sampah bertaburan seperti confetti habis acara dangdutan. Kalau nyamuk bisa ngomong, mungkin dia bilang, “Cuy, ini surga kita!”.hehehe!.
Sehingga di tengah kondisi begini, datanglah Influenza A/H1pdm09 alias flu babi, virus yang dulu pernah bikin dunia panik. Jadi bukan soal virusnya liar, tapi kondisi dusunnya yang open house banget buat penyakit. Kayak ngebiarin maling masuk karena pintu rumah kebuka, lampu mati, dan ada tulisan silakan ambil yang kamu mau.
Kata tim epidemiologi Kemenkes, warga Dusun Datai memasak pakai kayu bakar di ruangan yang sama dengan tempat tidur. Gile, Bro. Saya baca laporan itu aja langsung sesak napas virtual.
Asapnya mengendap, ventilasi minim, anak-anak tidur sambil fumigasi gratis, dan hasil akhirnya? ISPA di mana-mana.
Belum lagi banyak yang gizi kurang, jadi tubuh mereka ibarat pasukan perang tapi perut kosong. Mana kuat ngelawan virus yang datangnya kombo pula, flu babi, pertusis, adenovirus, bocavirus, wah.. paket lengkap itu namanya!.
Pepatah bilang “Sedia payung sebelum hujan”
Nah, di dusun ini bukan cuma payungnya nggak ada, atapnya pun bocor, maksudnya, pertahanannya lemah dari segala sisi, sanitasi nol, MCK nggak ada, sampah liar, nyamuk berjamaah, sehingga virus datang tinggal pencet tombol start.
Kita akui, flu babi itu ibarat korek, tapi lingkungan kotor? itu bensinya.
Ketemu, jadi kebakaran, cocok!.
Gizi Rendah
Coba misalnya di daerah itu, balita-balita diimunisasi masih rendah, gizi kurang, tubuh mereka sudah capek duluan sebelum perang dimulai. Makanya ketika virus masuk, langsung KO, kayak disuruh ikut pertandingan tinju tapi belum sarapan.
Warga dewasa juga banyak yang batuk-batuk, tapi karena harus kerja, sudah biasa menghirup asap dapur tiap hari, dan akses Puskesmas jauh, jadinya dianggap remeh. Trus nular ke anak-anak. Anak-anak jadi korban terakhir dari sistem yang memang sudah timpang sejak lama.
Betul, Kemenkes akhirnya turun pengobatan massal, intervensi gizi, edukasi PHBS, pemantauan ibu hamil dan balita, perbaikan lingkungan dan media edukasi sekolah
Semua itu bagus banget. Tapi masalahnya bukan bisa selesai seminggu dua minggu. Lingkungan itu bukan kayak reset HP yang tinggal klik factory reset, ini kerja marathon, bukan sprint.
Sebenarnya kalau dilihat dari helikopter view, krisis ini bukan cuma urusan kesehatan, tapi urusan akses, ekonomi, pendidikan, dan budaya hidup bersih.
Kayak rangkaian domino, satu tumbang, semua ikut roboh.
Dan jujur, situasi seperti ini masih banyak di Indonesia. Dusun terpencil yang jauh dari fasilitas dasar, warganya bergantung pada alam, gaya hidup tradisional, tapi belum diberi fasilitas modern yang layak.
Jadi kalau ada virus baru mampir lagi tahun depan?
Ya, siklusnya bakal terulang, dan itu ngeri.
Oleh karena itu, Lingkungan yang bersih bukan hanya bikin hidup nyaman, tapi menyelamatkan nyawa.
Kadang kita lupa, tapi tragedi ini mengingatkan, kesehatan itu bukan cuma soal obat, tapi soal tempat kita tinggal, apa yang kita hirup, apa yang kita makan, dan bagaimana kita hidup.
Flu babi itu memang berbahaya, tapi lingkungan kotor jauh lebih mematikan. Virus hanya tamu tak diundang, lingkungan buruklah yang membukakan pintunya. Kita tidak bisa mengendalikan virus, tapi kita bisa mengendalikan kebersihan, ventilasi, gizi, dan perilaku hidup.
Untuk mencegah tragedi itu, seperti di Dusun Datai jangan sampe terulang lagi, ibaratnya “setidaknya perbaikilah rumahnya sebelum menyalahkan tamu yang datang”.
Ingat! tragedi lima anak ini bukan sekadar berita lewat. Ini alarm keras yang bunyinya bukan “tit… tit… tit…”, tapi dangdut koplo volume 100 yang memaksa kita bangun dari tidur panjang soal kebersihan lingkungan.
Lingkungan kotor itu kayak mantan toksik, kalau nggak segera ditinggalin, hidup kita pelan-pelan habis tanpa sadar.
Karena itu, sebelum nunggu pemerintah datang bawa program, masker, vitamin, atau spanduk PHBS, langkah paling sederhana justru dari diri sendiri, buka jendela, pisahkan dapur, buang sampah pada tempatnya, dan didik anak soal kebersihan. Perubahan kecil bisa mencegah tragedi besar.
Kalau kata orang bijak itu “Virus itu kayak tamu, Bro. Dia cuma mampir. Tapi lingkungan kotor? Itu juragan kos-kosan yang ngasih dia kunci duplikat”.[***]










































