Ngakak

Festival Film Dokumenter, Kreator Muda Bisa Apa Saja?

×

Festival Film Dokumenter, Kreator Muda Bisa Apa Saja?

Sebarkan artikel ini
foto : kementerian ekraf

DUNIA film dokumenter itu serius banget, tapi di balik itu semua, ada banyak cerita lucu dan situasi menarik yang bikin kreator muda harus mikir keras? Festival Film Dokumenter (FFD) 2025 membuktikan hal itu.

Bukan karena kita hadir di sana, tapi dari cara festival ini menghadirkan ruang bagi kreator untuk bereksperimen, setiap ide, sekonyol apapun, tetap dianggap serius.

Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, baru-baru ini menekankan dokumenter bukan sekadar karya audio-visual, tapi juga arsip, refleksi, dan edukasi publik.

Kalau dibaca sekilas, terdengar formal dan serius, tapi kalau dibawa ke dunia kreator muda, maknanya lebih luas dan dokumenter bisa jadi medan uji kreativitas yang bikin orang berpikir dan kadang mikir, mantap! ini ide siapa ya?.

Pembukaan FFD 2025 berlangsung di Langgeng Art Foundation, Yogyakarta, menandai rangkaian program pemutaran film, diskusi, lokakarya, dan forum jejaring. Semua itu bukan sekadar formalitas, festival ini seperti taman bermain kreatif, di mana setiap kreator muda bisa mencoba berbagai pendekatan, dari yang sederhana sampai yang paling unik.

Misalnya ada yang bikin film tentang pedagang bakso yang punya cerita lebih dramatis daripada sinetron, ada yang mendokumentasikan ritual kampung yang kelihatan sepele, tapi ternyata punya makna mendalam sedalam Samudera Indonesia.

Deputi Agustini Rahayu menegaskan, FFD 2025 menjadi laboratorium bagi kreator muda. Mereka belajar soal riset, eksperimen, pemutaran alternatif, sampai strategi monetisasi karya.

Intinya, festival ini mendorong mereka untuk berpikir kreatif, kompetitif, dan berani mencoba hal-hal baru, bahkan yang menarik, banyak ide yang muncul justru berasal dari hal-hal yang biasa terlihat sepele, tapi kalau diolah dengan imajinasi dan ketelitian, hasilnya bisa luar biasa.

Oleh karena itu, FFD juga bukan sekadar soal kompetisi atau pemutaran film, festival ini membangun ekosistem kreatif, seperti komunitas kreator, akademisi, pelajar, dan masyarakat umum bisa bertemu, berdiskusi, dan berbagi perspektif.

Sehingga kolaborasi ini membuka peluang baru, misalnya kemitraan dengan platform digital atau proyek riset yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Dengan begitu, kreator muda tidak hanya belajar membuat film, tapi juga mengelola karya mereka agar bisa menjangkau pasar lebih luas dan memberi dampak nyata.

Makan jelas, kreativitas itu harus berani bereksperimen, dan setiap ide punya nilai jika diolah dengan cerdas. Kegagalan bukan akhir dari segalanya, justru kegagalan bisa jadi bahan belajar yang berharga.

Festival ini menunjukkan, untuk membangun daya saing, kreator muda perlu fleksibel, berpikiran terbuka, dan tidak takut mencoba pendekatan baru, dari yang serius sampai yang penuh humor.

FFD 2025, yang memasuki edisi ke-24, mengambil tema besar tentang keberagaman perspektif dan relevansi dokumenter dalam masyarakat.

Jadi, festival  membuktikan dokumenter bisa menjadi media edukasi sekaligus sarana refleksi sosial, dengan pendekatan kreatif yang tetap menyenangkan.

Kreator muda diajak berpikir kritis, tapi tetap diberi ruang untuk berinovasi, sehingga lahirlah karya-karya yang punya kualitas tinggi sekaligus bermakna.

Festival Film Dokumenter juga bukan sekadar ajang pemutaran film, dan bisa menjadi  wadah belajar, bereksperimen, dan mengasah kreativitas.

Bahkan kreator muda Indonesia menunjukkan  ide seaneh apapun bisa dikembangkan menjadi karya yang bermakna, selama ada keberanian, ketekunan, dan imajinasi.

Festival ini asanya sederhana sebenarnya, yaitu sebagai bahan pengingat  hidup, seperti dokumenter, bisa serius tapi tetap bisa menyenangkan, jika kita berani berpikir kreatif.[***]