SEANDAINYA laut itu bisa ngomong, mungkin dia bakal nyeletuk, “Halo manusia, luas aku 3,25 juta kilometer, tapi yang ngurus kok masih wajah-wajah itu lagi? Aku ini bukan klub eksklusif cowok, lho”.
Dan di situlah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merasa terpanggil. Karena jujur saja, urusan laut yang segede itu tidak mungkin ditangani satu sisi gender saja, nanti kebijakan kita bisa oleng, kayak perahu sewaan yang mesinnya karatan.
Makanya, Bimtek Pengarusutamaan Gender 2025 di Makassar kemarin jadi momen penting. Bukan sekadar ngumpul sambil nyeruput kopi Toraja, tapi kelas intensif untuk memahami bahwa kesetaraan gender itu bukan tambahan topping, melainkan fondasi stabil sebuah kebijakan.
Di ruangan itu hadir 48 peserta, dan 73 persennya perempuan. Ruangannya mendadak lebih cerah bukan karena lampu LED, tapi karena suasananya hidup. Yang biasanya rapat kayak kelas matematika jam terakhir, hari itu malah terasa kayak workshop bikin masa depan lebih waras.
Sekretaris Ditjen Pengelolaan Kelautan, Miftahul Huda, ngomong satu kalimat yang layak ditulis tebal “Pengarusutamaan gender bukan kewajiban administratif, tapi strategi pembangunan yang adil dan berkelanjutan”.
Alias bukan hiasan laporan, bukan garnish daun bawang di sup, bukan formalitas biar rapat kelihatan keren.
PUG itu GPS penunjuk arah supaya kebijakan nggak nyasar ke jurang ketimpangan sosial.
Materinya lengkap, gender action plan, gender budgeting, sampai bagaimana perempuan bisa berperan aktif dalam rehabilitasi mangrove, konservasi karang, dan penguatan ekonomi pesisir. Dan ini bukan teori doang.
Karena faktanya kalau perempuan ikut nimbrung, hasil lapangan lebih rapi, lebih detail, dan lebih tahan lama.
Laki-laki tetap penting, tentu. Tapi hasil terbaik selalu datang dari kerja barengan, bukan kerja kelompok eksklusif. hehehe!.
Pepatah bikinan sendiri untuk tema ini pas banget “Kerja yang dikerjakan bareng, hasilnya jarang miring”
Biar tidak monoton, mari lihat negara lain, seperti Norwegia, negeri fjord dan salmon mahal itu, sejak lama menerapkan gender equality dalam sektor perikanan.
Hasilnya? Industri laut stabil. Perempuan dan laki-laki sama-sama dapat pelatihan, dan Kebijakan lebih cepat dieksekusi dan minim drama.
Kalau Norwegia bisa, Indonesia tentu bisa. Laut kita lebih luas, sinarnya lebih hangat, ikannya lebih banyak. Yang perlu kita kejar tinggal mentalitas bahwa ruang laut bukan ruang khusus satu kelompok.
Dan percaya atau nggak, ini bukan cuma soal kesetaraan, tapi efisiensi. Kalau semua duduk satu meja, musyawarah lebih cepat selesai, tidak perlu debat panjang kayak pilih tempat reuni, alasannya, yaitu pertama, laut itu rumit, penuh dinamika alam, ekonomi, sosial. Semua perspektif dibutuhkan untuk bikin kebijakan yang tidak timpang.
Kedua, perempuan di pesisir bekerja diam-diam tapi vital, mengolah hasil laut, mengatur keuangan rumah tangga, menjaga ekosistem.
Ketiga, zaman sudah berubah. Masyarakat tidak bisa lagi hidup dengan mindset “yang laki-laki kerja, perempuan nunggu di darat”. Tolong ya, itu pikiran jaman kapal layar masih digerakkan doa.
Kesetaraan gender bukan konsep manis, ia adalah strategi efektif, seperti kapal kalau hanya satu sisi yang berat, ya pasti miring.
Ini pesan moral yang sederhana tapi nancap “Kalau ada dua dayung, kenapa cuma mau mendayung pakai satu? Capek, pelan, dan arahnya gampang melenceng”
Begitu pula dengan pembangunan kelautan. Kalau hanya satu gender diberi akses, nilai, dan ruang menentukan arah, kapal kebijakan pasti oleng. Kolaborasi itu kunci, bukan opsi.
Dan yang paling penting kesetaraan gender bukan soal memanjakan perempuan, tapi soal menyeimbangkan kesempatan untuk semua.
Bimtek PUG 2025 di Makassar ini jadi simbol bahwa KKP sedang memperbaiki cara pandang. Bahwa pengelolaan laut yang adil itu dimulai dari ruang rapat, ruang pelatihan, dan cara kita menghargai peran semua orang tanpa terkecuali.
Indonesia punya laut yang luar biasa, tapi laut hebat butuh manusia yang berpikir adil.
Dan pesan terakhir yang harus diingat laut kita luas. Jangan dikelola dengan sudut pandang sempit.
Laut kita kaya. Jangan hanya dikerjakan oleh separuh bangsa.
Laut kita, bukan klub eksklusif cowok.[***]










































