Teknologi

“Sumsel Buka Data Sampai Ventilasi, Warga Tinggal Ngintip Aje!”

×

“Sumsel Buka Data Sampai Ventilasi, Warga Tinggal Ngintip Aje!”

Sebarkan artikel ini
Foto : ist/Pemprov.Sumsel

DULU cari informasi itu harus siap mental, seperti mau ikut lomba tarik tambang, ditarik sana, ditarik sini pindah dari dinas ke dinas, sekarang Pemprov Sumsel tampil gaya baru katanya, semua pintu informasi dibuka, jendela dibentang, bahkan ventilasi pun disiapkan biar masyarakat gampang ngintip data.

Sekda Sumsel, H. Edward Candra, kemarin hadir ke Jakarta untuk presentasi di Uji Publik KIP 2025. Beliau tampil seperti duta besar keterbukaan, menjelaskan bahwa Pemprov Sumsel kini serba digital dan punya tiga aplikasi jagoan untuk memudahkan akses informasi.

Tiga pendekar digital yang dipamerkan itu adalah Dashboard Sumsel, gudang data OPD yang rapi, tak lagi berserakan seperti kabel charger yang ngumpet di dasar laci. Terus SIGA, rumah data gender dan anak, serius, sensitif, dan wajib tertata cantik. Dan ada lagi yang namanya Giwang, aplikasi untuk warga yang suka kuliner, jalan-jalan, atau sekadar cari acara, semacam kompas wisata Sumsel.

Tujuannya adalah Pemprov ingin menunjukkan bahwa era “nanya petugas dulu” sudah lewat, sekarang cukup klik.

Tapi… ada fenomena yang sering terjadi di banyak layanan publik, meski aplikasi itu dibuat niatnya mulia, namun banyak fenomena yang sering terjadi di banyak daerah dan dapat muncul kapan saja kalau tidak dirawat.  Misalnya, [maaf bukan nuduh]

Tampilan yang bikin mata ikut workout, karena kebanyakan aplikasi itu dibuat  tampilan dengan tampilan, misal menunya kecil-kecil macam semut baris berbaris.
Kalau hal seperti ini terjadi, masyarakat bisa bingung membedakan mana tombol, mana dekorasi.

Selanjutnya server yang kadang sukanya Me-time,  andaikan halaman website tiba-tiba loading pelan, masyarakat bisa merasa datanya “jalan keong”, padahal mungkin cuma server lagi manyun.

Data yang tidak selalu segar -sering terjadi di OPD mana pun, misalnya, data baru muncul setelah menunggu sampai pergantian musim.
Andaikan situasi seperti ini terjadi, masyarakat bisa merasa informasinya “kurang renyah”.

Layanan offline-online yang tak selalu kompak, di banyak instansi, sering terjadi warga datang langsung, lalu diarahkan untuk buka website. Andaikan websitenya sedang rebahan, masyarakat tentu kebingungan.

Dan aplikasi  banyak itu bukan untuk bangga-banggaan, kerena di banyak daerah, misalnya, pemerintah berlomba-lomba bikin banyak aplikasi. Padahal kalau masyarakat dijejali terlalu banyak platform, bukan makin melek akan tetapi otak rakyat bisa lemot karena harus ingat nama aplikasi, fungsi aplikasi, dan cara pakainya.

Andaikan ini terjadi juga di Sumsel, aplikasi sebanyak apa pun tetap tidak menarik kalau rakyat sudah keburu ogah karena kebanyakan pilihan.

Makanya, aplikasi itu bukan soal jumlah, tapi soal seberapa mudah dan nyaman digunakan oleh masyarakat. Untuk memastikan aplikasi benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, beberapa langkah bisa dipertimbangkan, misalnya perbaiki tampilan dan alur pengguna biar mudah, jelas, dan tidak bikin mata olahraga.

Perkuat server supaya tak gampang masuk angin. Rajin update data supaya informasi tetap segar. Sosialisasi gila-gilaan di media sosial, sekolah, kampus, komunitas. Samakan ritme layanan online dan offline agar tidak saling oper bola dan Evaluasi jumlah aplikasi, satukan jika bisa disatukan, sederhana lebih disukai rakyat.

Karena jika, aplikasi bagus, namun tidak dipakai, itu sama saja seperti lemari baru tanpa pakaian, indah tapi tidak berguna.

Oleh karena itu, keterbukaan informasi itu seperti cahaya lampu jalan.
Kalau terang, semua bisa melihat arah.
Kalau redup, masyarakat bisa tersandung got,
dan got-nya pula yang disalahkan.

Pemerintah yang baik bukan yang punya aplikasi terbanyak,
tapi yang aplikasinya paling dipahami dan dimanfaatkan rakyat.

Dan masyarakat yang cerdas bukan yang cerewet bertanya,
tapi yang tahu cara mencari jawaban.

Pemprov Sumsel sudah buka pintu, jendela, sampai ventilasi informasi.
Sekarang tinggal masyarakat mau mengintip lewat sisi mana,
dan pemerintah memastikan agar proses ngintipnya tidak bikin puyeng.

Kalau dua-duanya kompak, Sumsel bisa jadi juara akses informasi se-Sumatera.

Sepert kata pepatah “Data terbuka bukan untuk gaya… tapi supaya kita tambah kaya ilmu”.[***]