Seragam KKP hari itu benar-benar kehilangan warna aslinya.
“Bang, lumpurnya jangan dilawan, nanti dia makin cinta.”
Kalimat itu meluncur santai dari salah satu taruna KKP sambil mengangkat lumpur setinggi betis di Sumatra. Seragamnya tak lagi hijau kinclong, sepatu tak jelas warnanya, tapi wajahnya justru santai bahkan sempat bercanda.
Di sinilah seragam KKP kehilangan fungsi estetikanya, tapi justru menemukan makna sebenarnya kerja nyata.
Tak ada apel pagi, tak ada barisan lurus, apalagi pidato panjang. Yang ada hanya taruna Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang turun langsung membantu korban bencana. Mereka datang bukan buat gagah-gagahan, tapi buat bersih-bersih lumpur yang alat berat pun ogah mendekat.
“Kalau di kampus belajar teori, di sini kami belajar sabar,” celetuk Muhammad Ridho, Taruna Politeknik AUP, sambil mengibaskan lumpur dari sarung tangannya.
“Ini praktik lapangan versi ekstrem,” tambahnya, disambut tawa rekan-rekannya.
Ridho mengaku senang bisa diterjunkan langsung ke lokasi bencana. Baginya, tugas ini bukan sekadar penugasan, tapi pelajaran hidup yang tak ada di modul kuliah.
“Saya siap 100 persen. Seragam boleh kotor, yang penting niat jangan ikut keruh,” katanya sambil tersenyum.
Para taruna KKP memang datang dengan perlengkapan sederhana. Tidak ada alat supercanggih. Isinya cuma tali, sarung tangan, sepatu lapangan, dan alat bantu pembersihan. Tapi justru di situ letak pendidikannya mengelola keterbatasan.
“Di sini kami belajar kerja tim. Kalau satu orang capek, yang lain lanjut. Nggak bisa egois,” ujar taruna lain sambil menarik ember berisi lumpur.
Sebanyak 1.142 taruna dari berbagai satuan pendidikan vokasi KKP diterjunkan ke Sumatra. Tugas mereka fokus pada area yang tak terjangkau alat berat gang sempit, rumah warga, dan titik-titik yang sering luput dari perhatian.
Di lapangan, seragam KKP bukan lagi simbol kerapian, melainkan saksi bisu kerja keras. Ada yang sobek, ada yang penuh noda lumpur, tapi tak satu pun kehilangan fungsi melindungi tubuh saat membantu orang lain.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, bahkan mengakui medan di lokasi bencana bukan main beratnya.
“Saya sudah ke sana. Lumpurnya tinggi-tinggi. Makanya taruna kami bekali mental dan fisik,” ujarnya saat melepas taruna di Halim.
Kalau biasanya pendidikan vokasi dinilai dari praktik laboratorium, di Sumatra praktik itu naik level. Di sini, taruna belajar empati, manajemen krisis, dan arti kehadiran negara tanpa perlu slide presentasi.
“Capek iya, tapi malu kalau ngeluh,” kata seorang taruna sambil tertawa.
“Warga lebih capek dari kami,” sambung temannya.
Di tengah lumpur dan puing, para taruna ini sedang belajar hal paling mahal dalam pendidikan kepekaan sosial. Mereka belajar bahwa seragam bukan untuk difoto, tapi untuk dipakai bekerja.
KKP pun menyatakan siap menambah jumlah taruna jika dibutuhkan. Karena bagi taruna-taruna ini, tugas belum selesai selama masih ada lumpur yang menutup jalan dan harapan warga.
Pepatah bilang, ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Di Sumatra, para taruna KKP memilih berbuah meski harus berlumur lumpur. Seragam KKP mungkin kotor, tapi pelajarannya bersih dan melekat seumur hidup. (***)










































