Teknologi

Swasembada Bawang Putih Nasional: Resep Baru

×

Swasembada Bawang Putih Nasional: Resep Baru

Sebarkan artikel ini

SWASEMBADA bawang putih nasional membutuhkan resep baru yang tak lagi mengandalkan tebakan cuaca, melainkan data dan perhitungan.

Bak pepatah  bilang, memasak tanpa resep itu sama saja mengandalkan nasib. Kadang jadi, kadang gosong. Begitu pula urusan swasembada bawang putih nasional.

Bahkan bertahun-tahun target dikejar, tapi cuaca sering datang merusak rencana. Kini, lewat resep baru swasembada bawang putih, negara mulai belajar satu hal penting, alam tak bisa ditebak, tapi bisa dibaca.

Selama ini, swasembada bawang putih kerap terdengar seperti slogan tahunan. Target dipajang, grafik dipresentasikan, tapi di ladang, petani tetap bertaruh dengan hujan dan suhu.

Dalam kondisi seperti itu, hasil panen sering lebih bergantung pada keberuntungan ketimbang perhitungan. Padahal, di era perubahan iklim, bertani dengan modal nekat justru memperbesar risiko.

Dari masalah itu, BMKG masuk sebagai bagian dari resep baru swasembada, pemasangan Automatic Weather Station (AWS) di Sentra Benih Bawang Putih Nasional Sembalun, Lombok Timur, bukan sekadar proyek alat, melainkan perubahan cara berpikir.

Swasembada bawang putih nasional tak lagi dimulai dari ladang saja, tapi dari data cuaca yang dibaca sebelum benih ditanam.

Direktur Informasi Perubahan Iklim BMKG, A. Fachri Radjab dalam laman resmi bmkg.go.id menjelaskan secara gamblang bahwa bawang putih adalah komoditas yang sangat sensitif terhadap cuaca dan iklim.

Pernyataan ini penting, karena  data cuaca BMKG bukan pelengkap, melainkan fondasi dalam resep baru swasembada bawang putih. Tanpa informasi iklim yang akurat, produksi akan selalu dibayangi ketidakpastian.

Swasembada bawang putih nasional membutuhkan resep baru, bahkan, lebih dari sekadar membaca hujan dan suhu, AWS menghadirkan data cuaca real-time yang bisa dimanfaatkan di setiap fase budidaya.

Mulai dari menentukan waktu tanam, mengatur pengairan, hingga mengantisipasi risiko serangan organisme pengganggu tanaman. Dalam konteks swasembada bawang putih, data ini ibarat kompas agar petani tidak berjalan dalam kabut.

Namun, cuaca yang terbaca saja tidak cukup. Benih bawang putih bersertifikat menjadi bahan utama lain dalam resep baru swasembada nasional.

Seperti memasak, bahan berkualitas tanpa takaran yang tepat tetap bisa gagal. Karena itu, perpaduan benih unggul dan informasi iklim presisi menjadi kunci agar produktivitas naik tanpa mengorbankan kualitas.

Menariknya, perubahan ini juga diakui langsung oleh pelaksana kebijakan. Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura, Inti Pertiwi Nashwari, mengungkapkan  upaya tanam bawang putih di luar musim sebelumnya dianggap terlalu berisiko.

Namun, kehadiran teknologi cuaca dari BMKG justru menumbuhkan optimisme baru. Risiko memang tidak hilang, tapi kini berubah menjadi sesuatu yang bisa dihitung.

Dari sisi petani, perubahan ini terasa nyata, hal itu diungkap Ketua Kelompok Tani Bawang Putih Pusuk Pujata, H. Egi Frisma, Ia mengaku  kehadiran AWS sebagai “mata baru” di ladang.

Sehingga dalam swasembada bawang putih nasional, suara petani menjadi bukti data bukan hanya berhenti di meja rapat, tapi benar-benar menyentuh praktik bertani sehari-hari.

Tak kalah penting, BMKG juga menyusun Peta Kesesuaian Agroklimat sebagai panduan ekstensifikasi lahan. Kepala Stasiun Klimatologi NTB, Nuga Putrantijo, menekankan data iklim jangka panjang menjadi dasar menentukan wilayah potensial pengembangan bawang putih. Dalam resep baru swasembada, peta ini ibarat buku resep daerah setiap wilayah punya perlakuan berbeda.

Jadi, swasembada bawang putih tidak akan tercapai hanya dengan target ambisius atau perluasan lahan semata. Resep baru swasembada bawang putih nasional menuntut akal sehat, yaitu benih yang bermutu, cuaca yang dibaca, dan data yang dimanfaatkan.

Seperti pepatah lama, siapa menanam dengan perhitungan, ia memanen tanpa banyak keluhan. (***)