Opini

Ratu Dewa, PMII dan Rumah yang Tak Pernah Ditutup

×

Ratu Dewa, PMII dan Rumah yang Tak Pernah Ditutup

Sebarkan artikel ini

ADA acara yang sejak awal sudah terasa bukan sekadar formalitas. Pelantikan PKC PMII Sumatera Selatan, Sabtu malam itu, salah satunya bukan karena ballroom hotelnya yang kinclong, bukan juga karena jas hitam berderet rapi. Tapi karena ada satu momen yang bikin suasana berubah yaitu Ratu Dewa Walikota Palembang  ‘pulang ke rumah lamanya’.

Rumah itu bernama PMII…. begitu Ratu Dewa bicara, suasana mendadak seperti reuni. Bedanya, ini reuni tanpa daftar hadir alumni dan tanpa foto jadul yang mukanya masih imut. Yang ada justru pengakuan jujur nan polos “Ratu Dewa jadi Walikota karena PMII.”

Kalimat ini kalau ditulis di spanduk bisa jadi slogan. Tapi di telinga kader PMII, itu terdengar seperti pesan warisan jabatan itu bonus, proses itu wajib.

PMII dalam cerita ini bukan organisasi yang hanya jago yel-yel. Ia bukan sekadar tempat rapat sampai subuh lalu besoknya telat kuliah. PMII adalah dapur, tempat mental dimasak. Kadang gosong, kadang keasinan, tapi dari sanalah rasa terbentuk.

Dan Ratu Dewa adalah contoh masakan yang matang bukan karena michelin star, tapi karena sering diasah.

Yang bikin lucu tapi kena, Ratu Dewa tidak cuma bicara ide besar, demokrasi, atau masa depan bangsa yang sering bikin kepala pening. Ia justru mengingatkan hal yang sering dianggap remeh oleh aktivis mahasiswa IPK.

Misalnya  di tengah semangat pergerakan, tiba-tiba yang diomongin indeks prestasi. Rasanya seperti sedang orasi revolusi, lalu disela dengan, “Jangan lupa absen ya.”

Tapi justru di situlah letak kejujurannya, oleh karena itu pesannya jelas aktivisme tanpa akademik itu pincang, idealisme tanpa disiplin itu ompong.

Pelantikan PKC PMII Sumsel malam itu jadi semacam kelas besar. Tanpa papan tulis, tanpa modul. Isinya pengalaman hidup. Bahwa berorganisasi bukan alasan untuk malas kuliah, dan kuliah bukan alasan untuk cuek pada sekitar.

PMII, kata Ratu Dewa, adalah rumah besar dan rumah besar itu sekarang punya banyak anak yang sudah jadi apa-apa. Ada yang di pemerintahan, ada yang di kampus, ada yang di masyarakat.

Tinggal satu pertanyaan penting apakah mereka masih ingat alamat rumahnya?

Kader

Apalagi penghargaan “Top Performance Leader” yang disematkan PMII kepada Ratu Dewa juga menarik dibaca dari sisi lain karena bukan sekadar plakat cantik buat dipajang di lemari. Ini seperti pengingat keras tapi sopan “Kami bangga, tapi jangan lupa dari mana kamu berangkat.”

Karena di situlah tantangannya, banyak kader yang kritis saat mahasiswa, tapi mendadak alergi kritik saat sudah duduk di kursi empuk. Banyak yang dulu lantang bicara rakyat, tapi sekarang lebih sering bicara fasilitas.

Maka dari itu, kehadiran Ratu Dewa di acara itu penting bukan karena statusnya, tapi karena simbolnya, sebab ia adalah bukti bahwa PMII tidak sekadar mencetak penggerak, tapi juga pemimpin yang masih mau menoleh ke belakang.

Untuk Ketua PKC PMII Sumsel yang baru dilantik, pesan ini sebenarnya sederhana tapi berat organisasi jangan bikin lupa diri. Jangan sampai sibuk rapat, lupa skripsi, sibuk gerakan, lupa tujuan.

Karena pada akhirnya, PMII bukan tempat numpang tenar, PMII tempat belajar jatuh, lalu bangun tanpa menyalahkan keadaan.

Pelantikan ini bukan akhir cerita. Ini justru bab baru. Bab tentang bagaimana PMII Sumsel mewarnai zaman, bukan sekadar ikut arus. Bab tentang kader yang idealis tapi realistis, kritis tapi beradab, lantang tapi berisi.

Ratu Dewa malam itu seolah berbisik pada adik-adik kadernya “Silakan terbang setinggi mungkin. Tapi ingat, sayap itu dulu ditempa di sini.”

Orang tua dulu bilang, “Air yang meluap takkan lupa hulunya.”
PMII adalah hulu itu.
Siapa pun yang hilirnya nanti sampai ke kursi kekuasaan, semestinya tetap ingat. “Air yang lupa asalnya, cepat keruh dan mudah kering.”