OKUSOpiniPress

Opini : Era Digital dan Krisis Kebenaran, Antara Fakta, Ilusi, dan Kepentingan

×

Opini : Era Digital dan Krisis Kebenaran, Antara Fakta, Ilusi, dan Kepentingan

Sebarkan artikel ini

OPINI : Oleh Suardi Idris

BERITAPERSS, ID OKU Selatan

Di tengah gemuruh era digital, kita hidup dalam lanskap informasi yang tak lagi jernih. Realitas kerap berkelindah dengan rekayasa, sementara kebenaran bersaing ketat dengan ilusi yang dipoles sedemikian rupa hingga tampak meyakinkan.

Ruang publik kini dipenuhi oleh distorsi, perpaduan antara kepalsuan, manipulasi, dan pencitraan yang dirancang untuk membentuk persepsi, bukan menyampaikan fakta.

Arus informasi mengalir tanpa henti, melampaui batas geografis maupun nalar kritis. Dalam hitungan detik, sebuah narasi dapat menjangkau jutaan orang, terlepas dari validitasnya.

Di sinilah letak paradoks era digital,  akses terhadap informasi semakin luas, namun kejernihan dalam memahaminya justru semakin menantang.

Kebenaran tidak lagi berdiri sebagai sesuatu yang tunggal dan kokoh, melainkan kerap tersamarkan oleh kepentingan yang membungkusnya.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat tidak bisa lagi bersikap pasif. Peran sebagai konsumen informasi harus berevolusi menjadi penilai yang cermat dan bertanggung jawab.

Literasi digital bukan sekadar kemampuan mengakses teknologi, melainkan kecakapan untuk memilah, menguji, dan memahami konteks di balik setiap informasi yang diterima.

Tanpa itu, kita rentan terjebak dalam arus opini yang menyesatkan dan memperkuat bias yang keliru.

Verifikasi menjadi kunci utama. Setiap informasi perlu dipertanyakan, dari mana sumbernya, apa motif di baliknya, dan sejauh mana kebenarannya dapat diuji.

Sikap skeptis yang sehat bukanlah bentuk ketidak percayaan, melainkan upaya menjaga integritas nalar di tengah derasnya disinformasi.

Pada akhirnya, era digital bukan semata tentang kecepatan dan kemudahan, melainkan juga tentang tanggung jawab intelektual.

Hanya dengan kesadaran kritis dan keteguhan pada fakta, masyarakat dapat tetap berpijak pada kebenaran—bukan sekadar pada apa yang tampak meyakinkan.(SR)