Kesehatan

Kusta Bukan Kutukan, Dagelan Stigma yang Masih Dipelihara

×

Kusta Bukan Kutukan, Dagelan Stigma yang Masih Dipelihara

Sebarkan artikel ini
JIKA kusta itu bisa makan bareng kita, mungkin dia sudah sejak lama curhat, soalnya dari dulu sampai sekarang, penyakit ini lebih sering dikaitkan dengan kutukan daripada ilmu pengetahuan.
Padahal sejak lebih dari seratus tahun lalu, dunia medis sudah sepakat  kusta bukan kutukan. Penyebabnya jelas, pengobatannya ada, dan kesembuhannya nyata. Tapi di masyarakat, kusta masih sering diperlakukan seperti tokoh antagonis cerita mistik.

Kita hidup di zaman serba cepat. Informasi bertebaran di mana-mana, internet di genggaman, tapi soal kusta, sebagian pikiran masih berjalan pakai rem tangan.

Sedikit bercak di kulit, langsung dikaitkan dengan dosa masa lalu, nasib sial, atau hal-hal yang tak ada hubungannya dengan bakteri. Padahal Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin sudah bicara lugas: kusta itu penyakit medis, bukan urusan gaib. Bahkan setelah pengobatan dimulai, dalam waktu kurang dari satu minggu, penderita sudah tidak menularkan lagi.

Masalahnya, yang sering lebih dulu menular bukan penyakitnya, tapi stigma. Kusta boleh disembuhkan dengan obat, tapi cap sosialnya susah hilang.

Ada orang yang sudah sadar tubuhnya memberi sinyal, tapi memilih diam karena takut dicap. Di kampung, kusta kadang terasa lebih berbahaya dari gosip, karena sekali menyebar, yang menjauh bukan cuma tetangga, tapi juga perasaan kemanusiaan.

Lucunya, kita sering bangga menyebut diri masyarakat ramah dan gotong royong. Tapi giliran ada yang dicurigai kusta, gotong royong berubah jadi gotong menjauh.

Gejala kusta

Orang sakit diminta mengerti perasaan orang sehat, sementara orang sehat lupa belajar empati. Padahal logikanya sederhana semakin cepat diperiksa, semakin cepat sembuh, dan semakin kecil risiko penularan.

Gejala kusta sebenarnya tidak pakai sandi rahasia, bercak putih atau merah yang mati rasa, kulit kering, luka yang tidak nyeri, hingga gangguan saraf adalah tanda medis yang jelas.

Itu bukan isyarat alam, bukan pula hukuman. Tapi karena mitos lebih dipercaya daripada dokter, banyak orang menunda berobat. Di sinilah ironi terjadi. Kusta bukan kutukan, tapi ketakutan pada stigma justru menjadi kutukan sosial yang nyata.

WHO sudah mengingatkan  eliminasi kusta bukan hanya soal obat, tapi juga soal martabat manusia. Artinya, jangan sampai orang yang sedang sakit justru kehilangan harga diri karena omongan. Bakteri bisa dibunuh dengan obat, tapi stigma hanya bisa dilawan dengan pengetahuan dan empati.

Makanya kusta bukan kutukan, berobat bukan aib, dan memeriksakan diri bukan pengakuan dosa. Itu tanda bahwa seseorang peduli pada dirinya dan pada orang lain. Kita berani ke bengkel saat motor bermasalah, masa takut ke puskesmas karena omongan?

Pada akhirnya, kusta mengajarkan kita bahwa penyakit bisa disembuhkan dengan ilmu, tapi cara pandang hanya bisa diperbaiki dengan kesadaran bersama. Pemerintah sudah bicara, tenaga medis sudah siap, obat sudah tersedia. Tinggal masyarakat mau bergerak atau tetap memelihara mitos.

Seperti pepatah lama, air tenang menghanyutkan, stigma yang dibiarkan diam-diam justru paling merusak. Sudah waktunya kita berhenti menganggap kusta sebagai kutukan, dan mulai melihatnya apa adanya penyakit yang bisa disembuhkan, selama kita berani memeriksakan diri dan berhenti menertawakan ketidaktahuan sendiri. (***)