Ngakak

Kok Bisa Sekolah NU Bikin Anak Gaul Tapi Sakti Teknologi

×

Kok Bisa Sekolah NU Bikin Anak Gaul Tapi Sakti Teknologi

Sebarkan artikel ini

SEANDAINYA ya..bro, masuk sekolah itu guru-gurunya nggak cuma ngajarin doa tapi juga ngajarin coding sambil ngakak bareng. Nah, itulah yang terjadi di Sekolah NU Sumatera Selatan.

Jangan kira di NU itu cuma belajar soal pesantren dan kitab kuning, saat ini mereka sudah canggih, main di dua jalur sekaligus, yaitu agama dan teknologi. Makanya bisa dibilang anak-anak di sana bukan cuma gaul, tapi juga sakti teknologi.

Hari itu, Balai Diklat Keagamaan Palembang rame banget karena pelantikan Pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif NU masa khidmat 2025–2030.

Yang paling mencuri perhatian tentu Wakil Gubernur Sumsel H Cik Ujang yang hadir kayak superhero tanpa jubah tapi dengan aura bijak dan jokes ringan yang bikin semua orang senyum-senyum.

Ketua baru LP Ma’arif NU Kiki Subagio resmi dilantik, siap memimpin sekolah-sekolah NU dengan strategi yang bikin anak-anak nggak cuma paham agama tapi juga melek teknologi.

Jadi, pagi hari shalat berjamaah, siang hari coding challenge, sore hari presentasi aplikasi bikinan sendiri. Semua berjalan harmonis, kayak nasi padang yang lengkap sambal, rendang, dan dendengnya.

Cik Ujang bilang, agama itu pondasi, teknologi itu kendaraan buat ngebut di era digital. Kalau pondasi rumah kuat tapi nggak ada jalan masuk.

Ya.. rumahnya keren tapi nggak bisa ditempati. Nah, di sinilah pendidikan agama dan teknologi bermain. Anak-anak belajar nilai dan moral agama, tapi juga belajar cara menghadapi dunia modern tanpa takut ketinggalan zaman.

Yang bikin greget, sekolah NU ini ternyata punya cara unik supaya anak-anak betah. Misalnya guru ngajarin matematika sambil bikin lelucon, ngajarin coding sambil challenge mini game.

Murid jadi semangat belajar bukan karena ditekan tapi karena penasaran dan tertawa. Ini pendidikan tapi versi hiburan cerdas.

Karakter

Ketua Tanfidziyah PWNU Sumsel Hendra Zainuddin bilang, NU selalu siap bareng pemerintah bikin Sumsel maju. Jadi pelantikan ini bukan sekadar seremoni.

Tapi, simbol kerja sama strategis untuk pendidikan yang kreatif dan relevan. Anak-anak diajarin supaya punya karakter kuat tapi tetap fleksibel menghadapi dunia digital.

LP Ma’arif NU menargetkan sekolah-sekolahnya mandiri dan inovatif. Jadi murid nggak cuma datang karena suruhan orang tua, tapi karena mereka penasaran dan senang.

Kelasnya ada papan pintar, lab komputer, tapi pagi tetap doa dan tilawah. Serasa Hogwarts tapi versi Islami, tanpa jubah hitam melayang-layang, cuma guru yang ramah dan penuh humor.

Kalau direnungkan, inti semua ini sederhana tapi penting. Pendidikan bukan cuma soal nilai rapor tapi bagaimana anak-anak siap menghadapi masa depan yang serba cepat.

Dengan menekankan pendidikan agama dan teknologi, NU ingin generasi muda punya karakter, moral, dan kemampuan bersaing.

Jadi ngakak boleh, main gadget boleh, tapi tetap ada pondasi nilai dan agama yang kuat.

Sekolah NU berhasil bikin kombinasi unik antara pondasi moral dan kemampuan digital. Anak-anak bukan cuma gaul dan sakti teknologi, tapi juga punya hati yang bersih dan kepala yang cerdas.

Sehingga pelajaran di sekolah ini nggak membosankan, karena belajar bisa sambil ketawa dan tetap bermakna. Pendidikan agama dan teknologi bukan sekadar jargon, tapi kenyataan yang bikin generasi muda siap menghadapi zaman tanpa kehilangan arah dan identitas.

Jadi kalau kamu masih mikir sekolah itu membosankan, coba tengok sekolah NU. Di sana, belajar itu asyik, ngakak itu wajar, dan masa depan itu bisa disiapkan dari sekarang.

Siapa sangka anak-anak yang dulu cuma main gadget bisa jadi generasi sakti yang pintar agama dan teknologi sekaligus.

Sekolah NU membuktikan pendidikan bisa bikin bahagia dan tercerahkan dalam satu paket kombo yang gokil. (***) /one