TRIWULAN IV 2025 ternyata bukan cuma soal akhir tahun dan libur panjang. Berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) diterbitkan Bank Indonesia dalam rilisnya dilaman resminya menyebutkan dunia usaha kita tetap ngebut, meski kadang pelan-pelan kayak angkot di jam macet. Sinyal positif ini terlihat dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 10,61%, alias mayoritas pelaku usaha bilang, “Eh, bisnis gue jalan terus, kok!”
Nah, kalau ditanya siapa yang paling rajin bikin roda ekonomi berputar, jawabannya jelas Jasa Keuangan, Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Motor, Industri Pengolahan, Administrasi Pemerintahan, Informasi & Komunikasi, serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum.
Jadi, kalau ada yang bilang “ekonomi lesu” kasih lihat daftar ini dulu, biar tahu mereka itu sebaliknya kayak pahlawan yang nggak pernah libur meski cuaca lagi panas atau hujan badai.
Menariknya, lonjakan ini nggak lepas dari aktivitas pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru. Orang-orang belanja kado, liburan, makan enak, bikin permintaan domestik meningkat.
Jadi bisa dibilang, ekonomi kita bisa “sehat” karena rakyatnya doyan beli dan makan enak bukannya karena dompet pelaku usaha aja.
Kapasitas produksi juga nggak kalah kinclong. Triwulan IV 2025, rata-rata kapasitas produksi terpakai ada di 73,15%, level yang stabil. Beberapa pelaku usaha yang top markotop dalam menjaga kapasitas ini adalah LU Pengadaan Listrik, Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang.
Jadi, kalau listrik nyala terus dan air lancar, industri bisa jalan tanpa hambatan. Ini kayak kita tetap bisa masak nasi walau listrik mati sebentar tetap kreatif, tapi efisien.
Yang bikin senyum lagi, kondisi keuangan dunia usaha tetap oke. Likuiditas dan rentabilitas masih terjaga, dan akses kredit makin mudah.
Artinya, kalau ada ide usaha baru atau mau ekspansi, pintu modal relatif terbuka. Jangan lupa, ini data resmi dari Bank Indonesia, bukan cuma gosip tetangga yang suka bilang “bisnisnya bangkrut semua!”
Melihat ke depan, pelaku usaha optimistis. Responden SKDU memprakirakan Triwulan I 2026 bakal lebih ramai dengan SBT 12,93%. Prediksi ini nggak asal nebak, loh, ini alasan utamanya LU Pertanian, pertama Kehutanan, dan Perikanan siap panen. Jadi stok pangan bakal meningkat, harga stabil, rakyat senang.
Kedua, LU Industri Pengolahan, Transportasi, Perdagangan Besar dan Eceran, serta Reparasi Mobil dan Motor bakal kebanjiran order karena permintaan masyarakat meningkat selama Ramadan dan HBKN Idulfitri 1447 H. Jadi, kalau ada yang ngerasa “susah cari kerjaan musiman” santai aja, ekonomi lagi nge-gas!
Ngebut tanpa tersendat
Dari sisi cerita ekonomi, ini pelajaran penting dunia usaha itu kayak badut sirkus, kadang keseimbangan itu tipis, tapi kalau koordinasi bagus, misal permintaan naik, kapasitas produksi siap, likuiditas aman pertunjukan tetap seru dan penonton (rakyat) puas.
Kalau mau dibuat dagelan ringan, misalnya nih Jasa Keuangan dan Perdagangan Eceran lagi joget TikTok, sementara Industri Pengolahan dan Transportasi nyiapin panggung untuk Ramadan. Semua kerja sama biar ekonomi nggak berhenti. Lucu, tapi nyata!
Jadi pesannya jelas stabilitas ekonomi bukan cuma soal angka, tapi soal koordinasi, kesiapan, dan kepercayaan pelaku usaha serta masyarakat. Kalau semua elemen ini jalan bareng, ekonomi tetap ngebut tanpa tersendat.
Oleh karena itu, Triwulan IV 2025 dan prediksi Triwulan I 2026 menunjukkan dunia usaha kita tahan banting, kreatif, dan adaptif. Natal, Tahun Baru, dan Ramadan jadi bensin tambahan untuk roda ekonomi.
Yang penting, semua tetap hati-hati, jangan terlalu serakah, dan pastikan kapasitas produksi serta keuangan dunia usaha tetap sehat.
Kata pepatah itu “Bagaikan padi yang berisi, makin merunduk makin subur.”
Artinya, makin siap dan rendah hati pelaku usaha, makin kuat pertumbuhan ekonomi. (***)










































