Ngakak

“Harga Sapi Impor Masih Mahal, Bro?”

×

“Harga Sapi Impor Masih Mahal, Bro?”

Sebarkan artikel ini

HARGA sapi impor tahun 2026 lagi naik! Rakyat Indonesia butuh daging sapi/kerbau sekitar 794 ribu ton, tapi produksi lokal cuma 421 ribu ton. Sisanya? Ya jelas harus impor, biar perut rakyat kenyang dan dompet nggak nangis.

Pemerintah udah bagi jatah impor, biar semua aman. Swasta dapat 700 ribu ekor sapi/kerbau bakalan (setara 189,7 ribu ton daging) plus tambahan daging lembu 30 ribu ton. Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, bilang santai “Kuota impor sapi udah keluar, nggak ada yang dipersulit. Swasta pegang semua. BUMN cuma buat stabilisasi harga kalau pasar lagi ribut.”

Jadi, bisa saja situasinya kayak ini harga sapi lagi naik kayak balon helium di pasar. Swasta bisa santai, tapi BUMN langsung turun tangan jadi pahlawan dompet rakyat.

Stok awal tahun masih ada 41,7 ribu ton, ditambah produksi lokal dan impor, total daging nasional mencapai 949,7 ribu ton.

Kebutuhan cuma 794,3 ribu ton. Ramadan aman, Lebaran aman, dompet rakyat pun sedikit lega… walaupun tetap ada yang kepanasan.

Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) juga lumayan. ID FOOD pegang 11 ribu ton, Bulog cuma 18 ton. Walaupun kecil, jangan remehkan, bro! Operasi pasar tetap jalan lewat Gerakan Pangan Murah (GPM) supaya harga tetap ramah di hati dan di kantong.

Tapi tetap aja, kadang ada yang nakal jual nggak sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP). Amran nggak mau tinggal diam. “Satgas Pangan Polri sudah turun. Siapa yang main-main pasti ketahuan. Jangan coba-coba!”

Jadi pertanyaannya kalau kuota impor udah keluar, stok aman, BUMN siap jadi stabilisator, kenapa harga sapi kadang masih bikin dompet panas? Apakah karena penggemuk sapi jahat, distributor jahil, atau pasar lagi drama?

Kalau diperhatikan, sebenarnya stok nasional cukup kuat. Total ketersediaan daging sapi/kerbau mencapai 949,7 ribu ton, lebih dari kebutuhan 794,3 ribu ton.

Artinya secara logika, seharusnya harga stabil. Tapi harga sapi kadang naik karena faktor distribusi, penimbunan, atau spekulasi pasar. Makanya pemerintah harus hadir jadi penyeimbang, biar rakyat nggak ikut panik.

Selain itu, BUMN berperan penting sebagai stabilisator. Impor yang dilakukan BUMN bukan buat konsumsi sendiri, tapi buat intervensi pasar kalau harga tiba-tiba melambung.

Jadi kalau ada lonjakan harga menjelang Ramadan atau Lebaran, BUMN siap “nge-backup” rakyat. Bisa dibilang, BUMN ini kayak superhero yang standby, tapi bukan buat selfie doang

Meski stok nasional dan kuota impor sudah aman, harga sapi kadang tetap naik karena mekanisme pasar yang kompleks.

Swasta pegang jatah impor, BUMN jadi penyeimbang, dan pemerintah siap turun tangan kalau ada gejolak harga. Intinya, rakyat tetap diutamakan, tapi drama harga sapi kadang nggak bisa dihindari.

Jadi,  kalau dompet panas saat belanja daging sapi, jangan langsung marah sama pedagang. Ingat, ada stok cukup, ada impor aman, dan BUMN siap jadi superhero penyelamat dompet kita. Yang penting, tetap santai, tetap tertawa, dan siapin kuah rendang paling pedas sebagai hiburan. (***)