Berita

Kalau Desa Maju, Negara Tak Perlu Cemas

×

Kalau Desa Maju, Negara Tak Perlu Cemas

Sebarkan artikel ini

DESA itu lucu. Bisa kaya raya bahan pangan, tapi setiap mau bergerak, harus minta izin dulu. Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Sarwo Edhy, bilang, “Desa merupakan fondasi pembangunan dari bawah. Apabila desa maju, negara akan maju. Tetapi jika desa tidak berkembang, maka negara juga tidak akan berkembang.”

Kalau diterjemahkan ke bahasa kampung desa itu akar, negara itu pohon akar rapuh, pohon tumbang. Lucunya, kita sibuk siram daun, tapi akarnya kelaparan.

Seandainya warga desa punya sawah, kebun, dan ikan melimpah. Tapi begitu mau bikin inovasi pangan, harus menunggu arahan pusat. Rasanya seperti chef yang tahu resep enak tapi harus nunggu buku panduan sebelum boleh menyalakan kompor. Kalau ini sitkom, pasti penonton ketawa sambil tepuk tangan.

Badan Pangan Nasional bikin gebrakan lewat Program B2SA, Desa Beragam, Bergizi, Seimbang, Aman. Tahun 2025, program ini sudah menyentuh 800 desa di 50 kabupaten, termasuk 184 desa di Jawa Tengah.

Sarwo Edhy bilang, “Program Desa B2SA menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran masyarakat desa terhadap konsumsi pangan sehat berbasis potensi lokal.”

Kalau akar diberi ruang berkembang, pohon bisa santai nonton hujan dan angin kencang tanpa panik.

Sekarang mari bercanda, kenyang tanpa gizi di desa itu seperti motor tapi bensinnya dicampur air jalan sih jalan, tapi cepat mogok. Singkong di halaman rumah dianggap kampungan, keripik impor mahal dianggap gourmet.

Desa kaya, rasa miskin. B2SA ngajarin desa bahwa pangan lokal bukan sekadar pelengkap, tapi bisa jadi senjata super untuk kesehatan dan ekonomi. Bayangkan kalau singkong bisa jadi ‘Bitcoin desa’ siapa yang nggak mau?

Program ini juga terintegrasi dengan Makan Bergizi Gratis (MBG).  Sarwo Edhy bilang, “Pemerintah sudah punya konsep Koperasi Desa Merah Putih, program MBG, serta penguatan BUMDes untuk mendukung seluruh program pemerintah di desa.”

Tanpa desa aktif, program sebesar apa pun bisa jadi formalitas. Desa harus dilibatkan dari hulu menanam, memanen, memilih, dan mengelola pangan. Kalau nggak, warga cuma bisa nonton truk logistik lewat sambil komentar “Itu makanan kita, tapi kita cuma nonton? Apa ini reality show versi desa?”

Anehnya, desa yang puluhan tahun terbiasa pasif sekarang disuruh kreatif. Kayak anak manja tiba-tiba harus bayar listrik sendiri, masak sendiri, dan mikirin utang sekolah.

Akar kuat

Awalnya ribet, tapi lama-lama bisa mandiri. B2SA bukan cuma ngajarin cara makan sehat, tapi juga gimana cara ngatur ekonomi lokal dan memberdayakan komunitas.

Selain itu, pemerintah dorong Koperasi Desa Merah Putih, penguatan BUMDes, dan sinergi lintas sektor. Desa belajar mengatur produksi, distribusi, dan nilai jual.

Memang nggak gampang lantaran desa yang terbiasa patuh butuh waktu adaptasi. Tapi begitu akar kuat, pohon kokoh. Dan lucunya, ketika desa aktif, pusat pun ikut belajar sabar mirip guru yang muridnya lebih pintar dari buku teks.

Efek domino mulai terasa, karena desa yang kuat secara pangan bikin ekonomi lokal sehat, kesehatan masyarakat meningkat, ketergantungan suplai eksternal berkurang.

Desa yang diberdayakan bukan hanya bisa menentukan menu warganya, tapi juga menjaga kemandirian dan daya tahan komunitas. Dan percayalah, nggak ada yang lebih lucu daripada melihat warga desa yang dulu pasif kini bisa bercanda soal kebijakan sendiri sambil bikin inovasi pangan.

Maka dari itu,  pembangunan nasional tidak efektif kalau desa cuma penonton. Kalau akar lemah, pohon sebesar apa pun bakal goyah. Desa harus diberi ruang, alat, dan tanggung jawab.

Ketika desa hidup, berdaya, dan berinovasi, pembangunan berubah dari formalitas administratif menjadi kerja nyata yang terasa sampai ke dapur rumah warga.

Kata pepatah “Kalau desa maju, negara tak perlu cemas.”  Desa itu bukan lagi penonton, desa adalah akar, penggerak, dan fondasi pohon bernama Indonesia.

Jadi sambil ketawa pahit lihat birokrasi, kita harus sadar bahwa pembangunan itu lucu, tapi kalau akarnya kuat, hasilnya akan manis.(***)