DATA warga tidak terlihat sering membuat pemerintah kebingungan memastikan bantuan sosial tepat sasaran. Di Bojonegoro, banyak warga nyata yang hidup di sekitar kita tapi kadang luput dari sistem. Kisah lucu dan banyolan tentang data ini sekaligus mengingatkan pentingnya melihat setiap warga dengan benar.
Rabu kemarin, Menteri Sosial Gus Ipul, alias Gus Ipul si serius tapi jenaka, buka acara Sosialisasi Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) di Pendopo Malowopati Bojonegoro. Dia bilang, masalah utama perlindungan sosial itu bukan cuma soal program, tapi soal data yang akurat.
Misalnya, kalau datanya salah, bantuan bisa nyasar ke tetangga yang baru buka kios cilok di pojokan, sementara yang paling butuh cuma bisa nonton sambil ngunyah kerupuk. Gus Ipul bilang, ini bukan soal capek-capek ngejar angka, tapi soal melihat orang yang benar-benar ada di depan mata.
“Kalau datanya nggak benar, kebijakannya pasti nggak tepat. Makanya saya selalu bilang, ini jihad data. Kerja keras dan konsisten biar warga miskin benar-benar terlihat,” ujarnya sambil senyum, kayak guru yang baru nge-prank murid tapi serius di hati.
Dan beneran deh, the invisible people ini bukan hantu. Ada anak-anak yang nggak pernah sekolah, orang tua tunggal yang tiap hari pusing mikirin makan anak, tapi sistem nggak melihat mereka karena datanya nggak tercatat. Mereka nyata, cuma sistemnya kadang rabun.
Di sinilah DTSEN berperan kayak kacamata super canggih. Semua mulai dari RT, RW, kepala desa, hingga bupati punya peran strategis. Jadi kalau di hulunya salah, di hilirnya salah semua, kayak domino… tapi ini domino kehidupan nyata orang, bukan mainan bocah.
Yang paling bikin senyum-senyum warga sekarang bisa ngawasin datanya sendiri lewat aplikasi Cek Bansos. Kalau data salah, tinggal klik, sanggah, boom! masalah ketahuan. Bisa dibilang, warga sekarang jadi detektif sosial versi santai, nggak perlu topi detektif atau kaca pembesar, cukup HP di tangan.
Dan Sekolah Rakyat? Waduh, ini bikin ngakak tapi lega. Anak-anak dari keluarga paling rentan bisa sekolah tanpa tes akademik. Jadi anak-anak yang biasanya nggak terlihat di sekolah formal, tiba-tiba punya kursi, papan tulis, guru, dan mimpi masa depan nyata. Anak buruh harian lepas yang dulu cuma bantu orang tua, sekarang bisa duduk di kelas sambil belajar baca, tulis, dan berhitung.
Kalau dipikir-pikir, data itu sebenarnya jembatan antara negara dan warganya. Tanpa data, negara kayak orang nyari toilet di pasar malam: ada, tapi nggak ketemu. Dengan data akurat, negara bisa hadir di saat paling dibutuhkan, nggak cuma lewat program, tapi lewat keadilan dan kepedulian yang nyata.
Jadi pertanyaannya buat kita semua. “Kalau data bisa bikin hidup orang berubah, apa yang sudah kita lakukan supaya orang di sekitar kita juga terlihat dengan benar?”
Oleh karena itu, data bukan sekadar angka atau formulir. Data adalah nyawa kebijakan, nyawa keadilan, dan nyawa masa depan. Mengabaikan data sama saja dengan membiarkan warga paling rentan tetap invisible. Tapi jangan lupa, sambil belajar dan merenung, tertawalah dulu. Kadang hal kecil yang kelihatan sepele bisa bikin perbedaan besar.
Dan pepatah penutup yang pas banget “Yang tak terlihat belum tentu tiada, asal kita cukup jeli untuk melihatnya.” (***)










































