Ngakak

“Cyber Scam Bikin Repot, 78 WNI Kini Bisa Move On?”

×

“Cyber Scam Bikin Repot, 78 WNI Kini Bisa Move On?”

Sebarkan artikel ini

78 WNI korban cyber scam akhirnya pulang ke Indonesia, dan hidup mereka mulai bisa “move on” dari drama tipu-menipu internasional yang bikin kepala cenat-cenut.

Total 78 orang ini sempat jadi “bintang” di dunia maya, tapi sayangnya bukan bintang film atau TikTok, melainkan bintang penipuan online internasional. Laptop, internet, dan kopi menjadi senjata utama mereka bukan buat bikin konten lucu, tapi bikin orang lain ketipu.

Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, mereka langsung diboyong ke Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) Bambu Apus. Menteri Sosial, Gus Ipul, bilang “Selama masa rehabilitasi, korban akan diberikan makanan, perlengkapan kebersihan, dan tempat tinggal yang layak. Pelatihan ini buat meningkatkan kapasitas dan kemandirian korban, supaya bisa kembali produktif.”

Jadi, yang kemarin jago nipu online, sekarang disuruh bikin kerajinan tangan, coding, dan desain grafis. Laptopnya bukan buat nipu lagi, tapi buat bikin karya positif. Nggak tahu mau nangis atau ngakak dulu, kan? Kepala KP2MI juga bilang “Kami edukasi korban supaya kerja ke luar negeri aman dan legal. Jangan sampai balik lagi ke jalan ilegal.”

Polri dan Interpol pun ikut ngecek tiket masuk supaya semua korban aman, nggak ada yang nyasar lagi ke sindikat cyber. Bisa dibilang ini semacam pembersihan level boss biar game hidup mereka restart dengan aman.

Yang kocak, orang yang kemarin jadi “jago tipu online internasional” sekarang belajar bikin batik, coding, bahkan bikin website.

Hidup memang suka kasih plot twist  yang dulu curi hati netizen lewat tipu-menipu, sekarang bikin hati senang karena skill baru. Sedikit humor ternyata efektif meringankan trauma.

Cerita ini bikin kita refleksi juga, kadang kita tergoda jalan pintas klik link nggak jelas, ikut tren cepat kaya, atau pengin terkenal instan.

Bedanya, kita cuma drama scrolling TikTok, mereka drama internasional beneran. Risiko nyata, pelajaran nyata.

Pelajarannya skill dan kerja keras itu investasi jangka panjang. Jalan pintas instan bikin kepala cenat-cenut.

Trauma bisa dipulihkan, selama ada dukungan dan kemauan untuk berubah.

Pemerintah ada untuk lindungi WNI, tapi kita harus proaktif. Jangan tergoda jalan ilegal.

Gus Ipul menegaskan “Kami ingin korban kembali ke masyarakat dengan kondisi lebih baik, punya kemandirian, dan kemampuan produktif.”

Edukasi ini berlaku buat semua orang jangan sampai ikut praktik penipuan online. Internet memang punya hukum rimba sendiri, bisa bikin viral karena prestasi, atau viral karena kasus penipuan.

Jadi, sekarang 78 WNI korban cyber scam membuktikan jalan pulang selalu ada, dari trauma ke skill baru, dari stres ke harapan, dari ketakutan ke keberanian.

Mereka melewati proses rehabilitasi, pelatihan, dan pendampingan psikososial untuk kembali ke masyarakat dengan kondisi lebih baik.

Pertanyaannya tetap, bisakah mereka pulih tanpa trauma? Bisa, asal ada niat untuk berubah, dukungan yang tepat, dan sedikit humor untuk meringankan perjalanan hidup.

Kisah ini juga ngajarin kita: hindari jalan pintas ilegal, hargai proses, dan percayalah setiap orang punya kesempatan kedua buat mulai hidup lebih baik. Humor ringan bisa jadi “bumbu penyedap” supaya mental nggak stress.(***)