CINDERELLA di Jakarta menjadi cerminan perjalanan komunitas teater musikal Indonesia dalam menghadapi realitas ekonomi kreatif. Ia bukan lagi sibuk menyapu lantai istana. Ia mungkin sedang latihan vokal berjam-jam, menghafal blocking panggung, sambil menahan pegal kaki dan isi dompet. Namun satu hal tetap sama, ia terus bermimpi.
Gambaran itulah yang terasa saat menyaksikan Rodgers & Hammerstein’s Cinderella yang dipersembahkan Censtacom. Dongeng klasik ini tidak lagi sekadar bercerita tentang sepatu kaca dan akhir bahagia, melainkan tentang kerja keras, konsistensi, serta daya tahan komunitas kreatif di tengah realitas ekonomi yang tak selalu ramah.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, mengaku datang sebagai “penonton yang melihat dengan hati” saat menghadiri pertunjukan teater musikal Rodgers & Hammerstein’s Cinderella di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM).
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi maknanya dalam lantaran yang tersaji di atas panggung bukan sulap instan, melainkan hasil latihan panjang para pejuang teater musikal yang ditempa selama sembilan bulan, bukan sembilan hari, apalagi sembilan jam.
Cinderella di Jakarta tidak turun dari kereta kencana. Ia lahir dari ruang latihan, dari audisi terbuka, dari semangat para volunteer yang bekerja bukan karena honor besar, melainkan karena cinta pada seni pertunjukan.
Censtacom, komunitas teater musikal berbasis di Jakarta yang berdiri sejak 2019, dan pelan-pelan menjelma dari komunitas kecil menjadi produsen pertunjukan berstandar internasional, tanpa kehilangan ruh gotong royong.
Di sinilah metafora Cinderella menemukan rumahnya. Censtacom adalah Cinderella dunia teater musikal Indonesia. Berangkat dari komunitas nirlaba, dihidupi para relawan, lalu tampil percaya diri membawakan karya global seperti Little Women, Sister Act, hingga Rodgers & Hammerstein’s Cinderella.
Bedanya, mereka tidak menunggu peri datang membawa tongkat sihir. Mereka memilih berlatih. Tujuh pertunjukan digelar dari 15 hingga 18 Januari 2026.
Lagu-lagu ikonik seperti In My Own Little Corner, Ten Minutes Ago, dan Do I Love You Because You’re Beautiful? disajikan dengan koreografi serta musikalitas yang solid. Ini bukan sekadar lumayan untuk ukuran lokal, melainkan layak disebut berstandar global, seperti yang ditegaskan langsung oleh Wamen Ekraf.
Di balik gemerlap panggung, ada realitas yang jarang disorot yaitu hampir seluruh penggeraknya adalah volunteer. Di negeri yang kerap mengukur kualitas dari besaran honor.
Censtacom justru membuktikan bahwa profesionalisme tidak selalu lahir dari kontrak mahal. Ia tumbuh dari komitmen, disiplin, dan ekosistem yang sehat.
Kelas teater musikal
Executive Producer Bobby Wijaya menyebut Censtacom sebagai komunitas nirlaba yang membuka kelas teater musikal demi menjaga regenerasi.
Ini menjadi poin penting, sebab ekonomi kreatif bukan cuma soal pertunjukan selesai lalu tirai ditutup. Ia tentang kesinambungan bagaimana talenta muda terus diberi ruang, diasah, dan tidak kehabisan panggung sebelum sempat berkembang.
Pendekatan ini sejalan dengan pesan moral cerita Cinderella itu sendiri bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Hal yang tampak mustahil sering kali hanya soal waktu dan ketekunan. Kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari hasil instan, tetapi dari proses panjang yang dijalani dengan tulus.
Menariknya, pertunjukan ini tidak berdiri sendiri. Penonton tidak hanya disuguhi panggung megah, tetapi juga pengalaman menyeluruh merchandise, kuliner UMKM, hingga photobooth.
Bahkan ekonomi kreatif benar-benar terasa sebagai ekosistem, bukan sekadar jargon. Seni pertunjukan bertemu UMKM, kreativitas bertemu peluang ekonomi.
Apalagi dengan ajakan Wamen Ekraf agar masyarakat memanfaatkan media sosial untuk mendukung teater musikal juga patut dicatat. Di era algoritma, panggung tidak lagi hanya berada di gedung pertunjukan.
Ia hidup di layar ponsel, di unggahan singkat, di cerita yang dibagikan. Ketika kualitas sudah ada, dukungan publik menjadi faktor penentu agar karya-karya seperti ini tidak berhenti di lingkaran terbatas.
Pada akhirnya, Cinderella di Jakarta mengajarkan satu hal penting Indonesia Emas 2045 tidak lahir dari pidato semata. Ia tumbuh dari ruang-ruang latihan, dari komunitas yang konsisten, dari anak muda yang memilih bertahan meski jalannya tak selalu terang, mereka yang percaya seni bukan pelengkap, melainkan fondasi peradaban.
Ketika tirai panggung ditutup, yang tersisa bukan hanya tepuk tangan, melainkan kesadaran bahwa dongeng bisa hidup di dunia nyata. Asal ada kerja keras, kolaborasi, dan keyakinan bahwa mimpi layak diperjuangkan. Selebihnya, biarlah sepatu kaca itu urusan cerita. Di Jakarta, mimpi cukup diberi panggung.
Cinderella di Jakarta menunjukkan bahwa ekonomi kreatif Indonesia tumbuh dari komunitas yang konsisten dan berdaya tahan. (***)









































