BUKAN sekadar nikah, KUA kini jadi ‘super service’,dulunya cuma identik dengan urusan buku nikah, sekarang KUA menawarkan berbagai layanan yang langsung menyentuh masyarakat, mulai dari konsultasi keluarga, zakat, wakaf, sampai edukasi sosial-keagamaan.
Semua bisa diakses tanpa harus menunggu masalah muncul KUA hadir sebagai pusat layanan yang dekat, praktis, dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
Kalau dipikir-pikir, kita sering meremehkan sesuatu karena namanya sederhana. KUA, misalnya, orang mikirnya cuma stempel nikah doang, tapi ternyata sekarang jadi semacam ‘super service’ pemerintah yang siap membantu masyarakat dalam berbagai urusan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan, KUA bukan hanya urusan administratif. KUA adalah simpul penghubung antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan riil masyarakat.
Jadi, kalau rumah tangga mulai retak atau ada persoalan sosial, KUA bisa menjadi titik awal pencegahan, bukan hanya tempat menyelesaikan masalah setelah terjadi.
Salah satu layanan baru KUA adalah bimbingan keluarga. Kalau dulu masalah rumah tangga dianggap pribadi dan dibiarkan meledak sendiri, sekarang masyarakat bisa datang lebih awal untuk konsultasi. Pepatah lama mengatakan “Sedia payung sebelum hujan.”
Nah, KUA ibarat payung itu. Daripada basah kehujanan konflik rumah tangga, lebih baik datang lebih awal dan dapat panduan dari ahlinya.
Selain itu, KUA juga menyediakan layanan edukasi sosial-keagamaan. Mulai dari ceramah singkat, workshop, sampai bimbingan ringan yang bikin masyarakat lebih paham tentang zakat, wakaf, dan nilai-nilai sosial lainnya. Artinya, KUA tidak hanya urus dokumen, tapi mendidik masyarakat agar lebih sadar hukum, agama, dan sosial.
Tak hanya itu, KUA kini juga digital-friendly. Portal Kemenag menyediakan akses layanan online, jadi masyarakat tidak perlu datang jauh-jauh ke kantor. Semua informasi penting dari regulasi hingga edukasi tersedia di genggaman. Praktis, cepat, dan efisien.
Yang menarik, transformasi KUA ini juga mengajarkan kita satu hal penting: jangan menilai sesuatu hanya dari tampilan luarnya. Sama seperti pepatah Sunda “Ulah ningali buku tina sampulna.”
Sekilas terlihat sederhana, tapi layanannya bisa menyentuh banyak aspek kehidupan masyarakat.
Kalau mau refleksi diri, KUA juga mengingatkan kita pentingnya pencegahan daripada penanganan masalah. Dalam kehidupan sehari-hari, baik masalah keluarga, pekerjaan, atau sosial, lebih bijak mencegah sebelum masalah menjadi besar.
Literasi
KUA mengajarkan literasi dan pendampingan sejak dini, sebuah prinsip yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sendiri.
Secara garis besar, transformasi KUA bukan hanya soal menambah layanan. Ini soal membangun hubungan yang lebih dekat antara pemerintah dan masyarakat, serta memberi manfaat langsung bagi kehidupan sehari-hari.
Dari urusan nikah, zakat, wakaf, sampai bimbingan keluarga, semuanya terintegrasi dalam satu tempat.
Yang jelas jangan menilai sesuatu dari yang terlihat. Kadang hal yang sederhana ternyata menyimpan kekuatan super.
KUA adalah bukti nyata. Kalau kita bisa mengambil pelajaran dari KUA, hidup kita pun bisa lebih terencana, harmonis, dan penuh empati.
Sebagai penutup, mari ingat pepatah lama “Air tenang menghanyutkan, pelayanan baik menyentuh hati.”
KUA kini adalah air tenang itu tenang, sederhana, tapi layanannya mampu menyentuh dan membantu masyarakat secara nyata. (***)/one










































