SELAMA ini orang Sumsel kalau sakit agak serius langsung pasang koper, bukan buat mudik tapi buat terbang ke Penang atau Singapura, kini ceritanya mau dibalik. Pemerintah Provinsi Sumsel lagi getol menyiapkan Sumsel Healthy Tourism, sebuah konsep yang kalau diterjemahkan bebas kira-kira begini orang datang ke Palembang bukan cuma buat pempek, tapi juga buat cek kesehatan, operasi ringan, rehabilitasi.
Lalu pulangnya sekalian update Instagram di spot wisata, badan sehat, pikiran waras, ekonomi daerah pun ikut segar bugar.
Gagasan ini terdengar keren, seperti iklan obat herbal di jam sinetron menjanjikan, menenangkan, dan bikin optimis. Apalagi Sumsel punya modal awal yang lumayan, rumah sakit besar ada, dokter spesialis ada, biaya relatif lebih ramah kantong dibanding luar negeri, plus wisata alam dan kuliner yang tak kalah menggoda.
Secara konsep, healthy tourism Sumsel ini ibarat menikahkan dua sektor yang selama ini jalan sendiri-sendiri, kesehatan dan pariwisata. Kalau jodohnya cocok, anaknya bisa bernama “pertumbuhan ekonomi”.
Di Indonesia sendiri, konsep wisata kesehatan bukan barang baru. Bali sudah lama main di wellness tourism, dari yoga, spa, sampai retreat kesehatan.
Jawa Barat punya beberapa kawasan wisata dengan rumah sakit bertaraf internasional. Jawa Tengah dan DIY mulai mengembangkan layanan kesehatan yang dibungkus wisata budaya.
Bahkan Batam sejak dulu diproyeksikan jadi pintu wisata medis karena dekat Singapura. Artinya, Sumsel bukan yang pertama, tapi masih punya peluang jadi yang terbaik kalau serius.
Kalau melirik ke luar negeri, pemain besarnya sudah mapan. Penang dan Kuala Lumpur di Malaysia terkenal dengan wisata medis murah dan rapi.
Tantangannya
Bangkok di Thailand jago menjual paket operasi plus liburan. Singapura unggul di teknologi dan kepercayaan. Mereka bukan cuma jual dokter, tapi jual pengalaman. Dari bandara sampai rumah sakit, semuanya terasa diurus, bukan diurus sendiri.
Nah, di sinilah tantangan Sumsel, khususnya Palembang, mulai terasa. Konsep sehat dan wisata itu sensitif. Orang yang lagi sakit itu maunya tenang, nyaman, tidak stres.
Tapi jujur saja, masih susah merasa healing kalau dari bandara menuju rumah sakit harus beriringan dengan truk-truk ton peti kemas yang lalu-lalang seperti konvoi tanpa undangan.
Belum lagi kalau hujan turun, beberapa ruas jalan berubah fungsi jadi kolam renang dadakan. Mau check-up jantung, malah jantungnya duluan deg-degan lihat genangan.
Oleh sebab itu, idenya besar healthy tourism Sumsel tidak cukup hanya menyiapkan rumah sakit dan brosur paket wisata. Namun infrastruktur dasar wajib dibenahi.
Jalan menuju rumah sakit dan destinasi wisata harus nyaman, drainase harus beres, transportasi publik mesti ramah orang sakit dan lansia. Jangan sampai tagline sehat, tapi pengalaman di lapangan bikin tekanan darah naik.
Selain infrastruktur fisik, SDM juga kunci. Dokter kita hebat, tapi pelayanan non-medis juga harus naik kelas. Senyum petugas, kemudahan administrasi, kejelasan informasi, sampai kemampuan bahasa asing untuk pasien luar negeri.
Seperti di luar negeri, pasien itu diperlakukan seperti tamu kehormatan. Di sini, jangan sampai pasien merasa seperti sedang mengurus surat pindah domisili.
Objek wisata pun jangan cuma jadi tempelan. Kalau orang datang berobat sambil liburan, destinasi harus benar-benar siap. Bersih, aman, tertata, dan punya cerita.
Sungai Musi, kampung wisata, wisata alam Sumsel, semuanya potensial, tapi perlu sentuhan serius. Jangan sampai wisatawan medis pulang dengan kesan, dokternya oke, tapi kotanya bikin capek.
Akan tetapi jika ini berhasil tentu dampaknya luar biasa serta jelas terasa, sebab hotel terisi, restoran hidup, travel agent bernapas lega, UMKM kebagian rezeki.
Uang yang biasanya terbang ke luar negeri bisa muter balik di Palembang, di Sumsel. Efek dominonya panjang, dari pajak sampai lapangan kerja. Inilah mengapa wisata kesehatan Sumsel bukan cuma proyek kesehatan, tapi strategi ekonomi.
Oleh sebab itu, ide besar butuh eksekusi jujur. Jangan cuma bangga dengan istilah keren, tapi lupa dengan kenyamanan dasar. Sehat itu bukan hanya soal alat medis canggih, tapi juga lingkungan yang manusiawi.
Kalau mau orang datang berobat sambil tersenyum, kotanya juga harus ikut tersenyum.
Di ujung cerita, Sumsel punya peluang emas. Modal ada, niat ada, dukungan ada. Tinggal keberanian untuk membenahi yang lemah dan konsisten menjalankan yang sudah direncanakan.
Karena kata pepatah “Menjaga lebih baik daripada mengobati, dan membangun lebih baik daripada sekadar merencanakan.” Kalau itu dipegang, mimpi berobat sambil healing di Sumsel bukan lagi angan-angan, tapi tujuan yang pelan-pelan jadi kenyataan. (***)






















