RUMAH Panggung Jadi Solusi Lama Muara Angke, biar kata laut suka naik turun nggak kenal jam kantor, nelayan di sini sudah lebih pintar dari arsitek kota rumahnya bisa “melompat” kalau air mau menyerbu.
Sementara tetangga yang rumahnya rendah cuma bisa pasrah sambil ngitung perahu yang terapung di halaman.
Kunjungan Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah ke Kampung Nelayan Muara Angke, Jakarta Utara, belum lama ini jadi momen unik.
Di tengah rumah-rumah berdempetan seperti tumpukan ikan asin, Fahri menekankan rumah panggung bertingkat adalah solusi lama yang tetap relevan.
“Selain lebih tertata, ruang di bawah bisa dipakai untuk aktivitas nelayan. Jadi nggak cuma tinggi, tapi juga cerdas,” ujarnya sambil menatap kolong rumah yang bisa bikin orang ketawa kalau dipikir-pikir. “Kayaknya bisa jadi gudang perahu mini juga!”hehehe.
Memang, rumah panggung bukan tren baru. Model ini sudah lama jadi sahabat nelayan, aman dari rob, kolongnya bisa dipakai nyimpen jaring, memperbaiki perahu, atau sekadar tempat ngobrol sambil ngopi sore.
Kadang, kolong rumah bahkan jadi arena olahraga tak resmi, siapa cepat mengambil perahu duluan, dia menang.
Fahri menegaskan, penataan Muara Angke harus tetap berpihak pada warga.
Nelayan nggak bisa dipisahkan dari laut, karena itulah sumber hidup mereka. Memindahkan mereka ke apartemen tinggi di Jakarta tengah itu sama aja menyuruh ikan naik ke darat, Iya …ya..ide yang jelas bakal bikin geleng-geleng kepala.
“Masyarakat pesisir tidak bisa dijauhkan dari ruang hidupnya. Rumah panggung menjadi solusi yang sesuai dengan karakter kawasan dan budaya pesisir Indonesia,” kata Fahri.
Lebih jauh, penataan kampung nelayan ini akan terintegrasi lintas kementerian. Kementerian PKP dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama untuk menggabungkan program penataan hunian dengan Kampung Nelayan Merah Putih.
Intinya, kampung ini harus tetap hidup, rapi, dan bisa bikin tetangga sebelah iri karena rumahnya bisa “terbang” kalau banjir datang.
Di balik canda itu, ada pesan serius yang patut kita renungkan, modernisasi kawasan pesisir tidak harus merusak budaya lama.
Kadang, yang dibutuhkan bukan beton tinggi atau proyek mewah, tapi rumah yang pintar menyesuaikan diri dengan alam. Dan kalau bisa bikin pembaca senyum di pagi hari? Itu bonus.
Kalau laut lagi naik, nelayan di Muara Angke tinggal tersenyum. Rumah panggung mereka bukan cuma tinggi, tapi juga cerdas, fleksibel, dan secara diam-diam lebih lucu dari rencana kota yang kaku itu. (***)/one










































